PARA PEMIMPIN AFRIKA DORONG UPAYA DAMAI DI KONGO

Addis Ababa, Ethiopia, 17 Rajab 1434/27 Mei 2013 (MINA) – Para pemimpin dari kawasan Danau Besar Afrika (Africa’s Great Lakes) bertemu di Addis Ababa, untuk mendorong upaya damai di daerah timur yang bergejolak dari Republik Demokratik Kongo, Ahad (26/5).

Para kepala negara berkumpul untuk pertama kalinya sejak penandatanganan kesepakatan pada Februari lalu yang bertujuan mengakhiri konflik di wilayah tersebut.

Mereka bertemu dengan Sekjen PBB, Ban Ki-moon di sela-sela pertemuan puncak Uni Afrika di ibukota Ethiopia. Mereka juga berbicara optimis mengenai upaya yang sedang berlangsung, meskipun wabah kekerasan baru terjadi pekan ini antara tentara Kongo dan gerakan perlawanan M23.

“Banyak kemajuan yang telah dibuat,” kata Presiden Tanzania, Jakaya Kikwete setelah pertemuan itu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, Modern Ghana melaporkan yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Tanzania telah mengirim 1280 tentara bergabung dengan brigade baru PBB dengan mandat melakukan “operasi ofensif yang menargetkan” gerakan perlawanan di Kongo Timur.

“Saya pikir kami akan bisa memperbaikinya, Kongo akan diperbaiki,” katanya sambil meninggalkan rapat.

Namun, Ban lebih ragu-ragu, mengatakan bahwa kemajuan sementara sedang dibuat, janji yang dibuat di atas kertas harus diberlakukan di lapangan.

“Kita akan membutuhkan uji implementasi,” kata Ban, yang mengunjungi kota Kongo pekan lalu sebagai bagian dari tur regional.

“Perdamaian abadi hanya mungkin jika semua negara penandatangan bekerja sama untuk mengakhiri kebuntuan politik dan menghasilkan momentum baru terhadap keamanan manusia dan pembangunan ekonomi,” tambahnya.

Presiden Kongo Joseph Kabila juga menghadiri pertemuan tersebut, serta Presiden Rwanda Paul Kagame dan Uganda Yoweri Museveni.

Rwanda dan Uganda, keduanya telah dituduh oleh PBB mendukung para pejuang M23, namun mereka mengklaim menyangkal.

Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Maite Nkoana-Mashabane mengatakan, para pemimpin telah menyepakati pembangunan yang dibutuhkan di samping intervensi militer.

“Semua pemimpin di ruang setuju bahwa jalan ke depan adalah keterlibatan politik yang terus menerus, karena tidak ada jumlah intervensi akan mengambil tempat kohesi politik,” katanya.

Utusan khusus PBB untuk kawasan Danau Besar, mantan Presiden Irlandia dan aktivis (HAM) terkenal Mary Robinson juga bergabung dalam pembicaraan.

Gerakan perlawanan M23 dibentuk oleh Tutsi, mantan tentara yang memberontak pada April 2012. (T/P09/P02).

 Mi’raj News Agency (MINA).

Leave a Reply