PENGUNGSI PEREMPUAN ROHINGYA DI INDONESIA HADAPI PELECEHAN SEKSUAL

(dok. PIARA)

Jakarta, 28 Jumadil Akhir 1434/7 Mei 2013 (MINA) – Sekretaris Pusat Advokasi dan HAM (PAHAM) Sumatra Utara, Khairul Anwar Hasibuan, mengatakan bahwa Pengungsi perempuan Rohingya di Indonesia hadapi pelecehan seksual oleh kaum Budha Myanmar.

“Pengungsi perempuan Rohingya di Rudenim Belawan hadapi pelecehan seksual oleh kaum Budha Myanmar” kata Khairul kepada MINA, Senin (6/5).

Sedangkan penganut Budha Myanmar tersebut, sebelumnya tertangkap di perairan Indonesia, terkait illegal fishing. Dalam proses hukum selanjutnya, mereka ditempatkan pula di Rudenim Belawan.

Tindakan provokatif dari para Penganut Budha Myanmar yang melakukan tindakan pelecehan seksual dan penusukan kemudian memicu konflik dan bentrokan yang menyebabkan terbunuhnya 8 orang Bhuda Myanmar di Belawan, Medan, kamis (4/4).

“Selama ini etnis Rohingya sudah mengalami penindasan oleh ekstrimis Buddha di Myanmar, di Indonesia jangan lagi hal-hal tersebut terjadi,” ungkapnya.

Khairul yang menjelaskan kronologis kejadianya kepada MINA,  bahwa Pada kamis malam (4/4), Ustazd Ali (tokoh pengungsi rohingya) bermaksud mengkorfirmasi tentang pelecehan seksual tersebut, akan tetapi kemudian terjadilah penusukan terhadap Ustazd Ali oleh ilegal fisihing bhudis Myanmar.

“Etnis Rohingya yang melihat kejadian penusukan tersebut dari kamarnya, menyerbu para Bhudis ilegal fishing Myanmar tersebut, dan terjadilah bentrok yang menyebabkan 8 orang Bhudis tewas,” jelas Khairul.

Sudah ditetapkan 17 tersangka, 14 dewasa dan 3 anak-anak oleh mapolres Belawan, Khairul yang diserahi kuasa sebagai kuasa hukum pengungsi Rohingya tersebut, bermaksud mendampingi para tersangka, akan tetapi dilarang oleh mapolres Belawan.

“Untuk itu kita datang ke Jakarta untuk melaporkan hal tersebut ke Komnas HAM, Kemenkum HAM, Komisi tiga DPR, Mabes Polri, Propam Mabes, Kompolnas, Ombusman, dan Dirjen Imigrasi,” pungkas Khairul.

Khairul Anwar Hasibuan menuntut dilakukanya rekonstruksi dan BAP ulang, dan meminta pencopotan jabatan mapolres belawan dan jajaranya, karena sudah menyalahi perundang-undangan karena sudah mempersulit khairul melaksanakan tugasnya sebagai kuasa hukum.

Khairul mengatakan “Kita sudah membawa bukti-bukti antara lain surat kuasa kita yang ditanda tangani didepan wakapolres, bahkan ada penunjukan surat kuasa yang di tunjuk oleh mapolres, dan saya juga sudah membuat bagaimana kronologi kejadianya, sampai kemudian kita tidak diberi hak pendampingan untuk mendampingi para pengugsi Rohingya tersebut.”

“Dan di KOMNASHAM kita juga menyampaikan bukti, ada sebuah video yang memperlihatkan bahwa  ustazd Ali ketika di persidangan tanpa didampingi pengacara dan tanpa didampingi penerjemah, dan itu sebuah pelanggaran,” tambahnya.

Saat ini para tersangka pengungsi Rohingya ditahan di mapolda sumatera utara, harapan Khairul Anwar Hasibuan sebagai Sekretaris Pusat Advokasi dan HAM (PAHAM) dan kuasa hukum terhadap pengungsi Rohingya adalah membela mereka, karena menurutnya pengungsi Rohingya melakukan hal tersebut tanpa ada unsur kesengajaan, dan menurut Khairul itu adalah efek dari pelecehan dan penindasan oleh Bhudis .

“Kita ketahui di Negaranya mereka tertindas, bahkan akan dihapus dari muka bumi,” tegasnya.

Rohingya merupakan etnis minoritas Muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, yang dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine. Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya menjadi satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar.

Saat ini pengungsi Rohingya di detensi Belawan, medan, mencapai lebih dari 40 orang, dan sudah ditangani badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, dan mereka sudah mendapat kartu sebagai pengungsi. (L/P04/P015/R2).

Mir’aj News Agency (MINA)

Leave a Reply