PROGRAM DUA ANAK BENDUNG PERTUMBUHAN MUSLIM ROHINGYA

     Yangon, Myanmar, 16 Rajab 1434/26 Mei 2013 (MINA) – Pejabat negara bagian Arakan-Rakhine, Myanmar Barat mengatakan, pihak berwenang telah menetapkan program batas dua anak bagi keluarga muslim Rohingya untuk membendung pertumbuhan penduduk di kalangan minoritas muslim itu.

    Juru bicara negara bagian Arakan-Rakhine, Win Myaing beralasan program tersebut dalam upaya untuk meredakan ketegangan dengan umat Buddha setelah terjadi kekerasan sektarian mematikan.

    Myaing mengatakan, bagian dari kebijakan yang juga akan melarang poligami akan diterapkan pada dua kota Arakan-Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh, Buthidaung dan Maundaw. Kedua kota tersebut memiliki populasi muslim tertinggi di negara bagian itu, yaitu sekitar 95 persen muslim.

    “Pertumbuhan populasi muslim Rohingya 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Rakhine (Buddha). Ledakan penduduk merupakan salah satu penyebab ketegangan,” kata Myaing, Saudi Gazette melaporkan seperti dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

    Program itu diberlakukan pada Ahad lalu setelah sebuah komisi yang ditunjuk pemerintah untuk menyelidiki kekerasan yang terjadi, mengeluarkan proposal untuk meredakan ketegangan, termasuk program keluarga untuk membendung pertumbuhan muslim Rohingya.

    Komisi itu juga merekomendasikan jumlah pasukan keamanan dua kali lipat di wilayah bergejolak.

     Kekerasan sektarian di Myanmar pertama berkobar hampir setahun lalu di negara bagian Arakan-Rakhine, antara Buddha Rakhine dan muslim Rohingya. Konflik meluas dan menyebabkan ratusan orang tewas, ratusan luka-luka, puluhan ribu rumah dibakar, dan ratusan orang ditangkap dan ditahan secara paksa, sebagian besar muslim.

     Sejak kekerasan terjadi, kerusuhan agama telah berubah menjadi sebuah kampanye melawan komunitas muslim di wilayah lainnya di negara itu.

     Perselisihan sektarian itu telah menimbulkan tantangan serius bagi Presiden Myanmar, Thein Sein, karena upaya untuk melembagakan liberalisasi politik dan ekonomi setelah hampir setengah abad dalam kekuasaan militer yang keras.

     Hal tersebut juga mencoreng citra pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi yang telah dikritik karena gagal membela komunitas muslim yang diperangi di negaranya.

     Myaing mengatakan, pemerintah belum menentukan, bagaimana tindakan akan ditegakkan, tetapi kebijakan dua anak akan diwajibkan di Buthidaung dan Maundaw. Kebijakan itu tidak akan berlaku lagi ke bagian lain di negara bagian Arakan-Rakhine yang memiliki populasi muslim yang lebih kecil.

   “Salah satu faktor yang telah memicu ketegangan antara masyarakat Rohingya dan populasi Buddha, berhubungan dengan rasa tidak aman di antara banyak warga Rakhine (Buddha), berasal dari pertumbuhan penduduk muslim Rohingya yang cepat yang mereka pandang sebagai ancaman serius,” kata Komisi dalam sebuah laporan yang dikeluarkan bulan lalu.

    Mayoritas warga Myanmar beragama Buddha. Rohingya merupakan etnis minoritas muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh. Dahulu wilayah itu dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Arakan-Rakhine. Itu sebabnya orang-orang muslim yang mendiami wilayah Rohang disebut dengan Rohingya.

     Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada 1948, Rohingya menjadi satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar.

     Selain teraniaya, Rohingya juga tidak diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar, padahal Rohingya berada di Arakan sejak Abad 7 M. Berbicara mengenai kekerasan dan diskriminasi oleh pemerintah Myanmar, tidak hanya dilakukan terhadap etnis Rohingya, tapi juga kepada umat Kristiani dan etnis non mayoritas lain seperti Shan, Kachin, Karen, Chin, dan lain-lain.

    Menurut data yang diperoleh MINA, pemerintah Myanmar secara tegas membentuk UU Imigrasi Darurat pada 1974 yang menghapus kewarganegaraan Rohingya dan dilanjutkan pada 1982 melalui Peraturan Kewarganegaraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982), dimana Myanmar menghapus Rohingya dari daftar delapan etnis utama (yaitu Burmans, Kachin, Karen, Karenni, Chin, Mon, Arakan, Shan) dan dari 135 kelompok etnis kecil lainnya.

   Pembantaian terhadap Muslim Rohingya terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Paling tragis berlangsung pada 1942, sekitar 100.000 orang Rohingya dibantai serta disempitkan ruang gerak dan tempat tinggal mereka hanya berada di negeri Arakan-Rakhine bagian utara (Northern Rakhine) saja. (T/P09/P02).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply