SHABAR

Dudin Shobaruddin*

Kehidupan manusia tidak lepas dari ujian, godaan, halangan, dan rintangan dalam berbagai dimensinya, yang beerbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada hujan ada kemarau, ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada musim panen ada musim paceklik. Itu semua adalah dugaan dan ujian dari pada Allah sebagai seni dari kehidupan manusia. Mahasiswa akan beda dengan bukan mahasiswa, satpam  akan berlainanan dugaan dengan pegawai kantor, petani akan berlainan dengan pedagang,  bawahan akan berbeda denan atasan, rakyat akan berbeda dengan pimpinan, laki-laki akan berbeda dengan perempuan, pejuang akan lain dugaanya denan orang jalanan, yang berumahtangga akan berlainanan dengan yang hidup membujang dan seterusnya.

Dugaan dan ujian itu ada yang ringan ada yang berat, ada yang besar ada yang kecil, ada yang mudah ada pula yang susah. Kesemuanya harus dihadapai dengan segala konsekuwensinya. Menghadapi semua itu, ternyata tidak semudah membalikan kedua belah tangan, ia perlu dihadapi dengan berbagai tindakan yang penuh keseriusan dan konsentrasi sesuai dengan pruekwensinya masing-masing.

Bagi orang yang beriman, semua itu harus dikembalikan kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini Alah menyebut berulang-ulang kata “Sabar” sehingga 103 kali, dalam 45 surat, dan mencakup  90 ayat dalam al-Qura’an keseluruhannya. Ini membuktikan betapa ia begitu penting dalam kehidupan manusia, karena itu, kita diperintah untuk memohon kesabaran dari semua dugaan dan ujian hidup ini. Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya: “ Dan mohonlah kamu pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’” (al-Baqarah:45).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “ Dan mohonlah kamu pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar” (Qs. al-Baqarah:153).

Kedua ayat di atas, memiliki kesamaan anjuran dan perintah Allah untuk memohon kepada-Nya agar bersabar dan shalat. Dengan memohon pertolongan yakni mengukuhkan jiwa dengan sabar dan salat yakni dengan mengaitkan jiwa dengan Allah Ta’ala serta bermohon kepada-Nya guna menghadapi segala kesulitan hidup serta segala beban yang menimpa. Ini tidak dapat dilakukan kecuali hanya oleh orang-orang yang khusyu’, yakni orang-orang yang memiliki ketenangan hati dan jiwa dan menjauhkan diri dari segala yang  mengarah kepada kedurhakaan, kemudian  yakin akan bertemu Allah Azaa Wajalla di Kemudian  hari.

Definisi Sabar

Kata sabar yang berasal dari kata bahasa arab Shabara, shabaran,  yang artinya memiliki arti tabah hati (Kamus Munawir, 760). Dalam terminology bahasa sabar artinya menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Imaam Ghazali mendefinisikan sabar sebagai ketetapan hati melaksanakan tuntutan agama dalam menghadapi rayuan nafsu dengan penuh keyakinan bahwa ketaatan akan membawa manfaat, sedang kemasiyatan membawa madarat (Ihya’ulumuddin, 4:63).  Singkatnya, sabar adalah kemampuan menahan diri dari adanya hantaman (cobaan, musibah, dugaan dll) serta dari keinginan hawa nafsu, demikian uraian Imam Ibn manzdur dalam karyanaya yang terkenal Lisanul Arab.  Sedang menurut kapasitas kita sebagai warga Indonesia sabar berarti tahan menghadapi cobaan, tidak mudah marah, tidak lekas putus asa, tabah, tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak terburu nafsu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 973).

Pembagian Sabar

Secara umum sabar dapat dibagi kepada dua bagian pokok; pertama; sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakn ibadah haji yang mengakibatkan keletihan atau sabar dalam mebela kebenaran, termasuk menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiyaan dan sebagainya. Kedua, adalah sabar rohani, yang menyangkut kemempuan menahan kehendak nafsu yang dapat menghantar kepada kejelekan, seperti menahan amarah, atau menahan nafsu seksual yang bukan pada tempatnya (al-Gazali, Ihya 4/68).

Dalam menata kehidupan yang berpariasi, kita dianjurkan untuk meneladani kehidupan para Ulul Azmi yang terkenal itu. Allah berfirma;

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ

Artinya: “Maka bersabarlah kamu seperti sabarnya Rasul-Rasul Ulul ‘Azmi dan janganlah kamu meminta disegerakan azab untuk mereka (yang menentangmu).. ..” (Qs. al-Ahqaf: 36).

Ayat di atas adalah anjuran allah agar kita sebagai orang beriman mencontohi kehidupan para Rasul Ulul ‘Azmi dalam kehidupannya. Dalam Tafsir Ibnu Kathir disebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa Ulul Azmi yang sebenarnya; ada yang berpendapat adalah seluruh para Rasul, sedang yang paling masyhur yang dimaksud adalah Rasul yang lima; Nabi Nuh, nabiyullah Ibrahim, Musa, Isan dan Rasul terakhir nabi Muhammad Salawatullah’alaihim.

Dugaan dan ujian hidup yang menimpa mereka amat luar biasa. Tidak ada tolok bandingannya dengan kita, yang hidup di akhir zaman  ini. Nabi Nuh umpamanya, yang telah disebutkan namanya dalam al-Qur’an sebanyak 43 kali yang menyebar dalam 28 surat, telah terbukti  kesabaran berda’wah menyeru ummat mansuia u ntuk menyembah Allah sehingga 950 tahun lamnya, namun hanya mendapat pengikut kurang lebih 75 orang. Ejekan, hinaan, cercaan bahkan sampai penganiayaan dari umatnya telah dihadapinya denagn penuh ketabahan dan kesabaran. Yang lebih hebat lagi bahkan istri dan salah seorang anaknya Kana’an juga ikut memusuhi da’wahnya, sehingga Allah memerintahkan untuk membuat kapal karena Allah akan menurunkan bencana banjir akan umatnya. Maka ketika banjir menimpa hanya beberpa saja yang mau ikut ke dalamnya bahakan keluarganya enggan. Begitulah dugaan seorang yang namanya ulul’azmi. Nabi Ibrahim, yang disbut namanya dalam al-Quran sebanyak 63 kalidalam 25 surat, merupakan Khalilullah (kekasih Allah), dugaan dan ujian yang telah di hadapinya ketika menunaikan amanat dawahnya, selain berdepan dengan bapaknya sendiri sang penyembah berhala, dia juga menghadapi ujian yang sangat berat di antara dugaan yang amaat terkenal adalah dibakar hidup oleh raja Namrud, namaun api yang panas itu menjadi dingin atas idzin Allah. Kemudian cobaan keluarga dengan diperintah berhijrah bersama istri dan bayinya Islamil ke Makkah, namun setelah di Makkah beliau diperintahkan untuk meninggalakan ke duanya dengan tanpa makanan dan minuman, kota yang kering kerontang. Namun atas kehendak Allah, memeberinya sumber air yang sekarang terkenal dengan air Zam-zam memebrinya kekuatan hidup sehingga membesar. Setelah membesar anak kesayangan satu-satunya itu diperintah untuk disembelih, namun Allah tukarkan berkat kesabarannya dengan seekor kibas (al-Shafat).

Seperti halnya para Rasul yang lain seperti nabi Ayub dengan penyakit kulitnya puluhan tahun sehingga membusuk dan bau, nabi Yusuf menghadapi para saudaranya selain dilemparkan ke dlam sumur,  berkali-kali cobaan dibunuh juga sampai dia dijual kepada salah seorang saudagar kaya, yang akhirnya dia menjadi pejabat tinggi di Mesir. Bahkan ini juga merupakan ujian berat kepada sang Ayah Nabi Yakub. Sedangkan Nabi Musa yang berhadapan dengan Fir’aun yang angkuh dalam melaksanakan misi da’wahnya. Nabi Isa terkait dengan melaksanakan da’wahnya dimana ummatnya selalu minta bukti kemujizataanya, dengan rentang waktu 10-11 tahun hanya ada pengikut 12 orang.

Sedangkan kesabaran nabi Muhammad saw., dalam menunaikan misinya menghadapi kaum Qurasy Makkah dan ahli Kitab amat menguji kesabarannya, namun berkata ketabahannya, beliau sukses dalam menjalankan misi dawahnya, walaupun diusir dari kota kelahirnya sehingga ke Thaif, berrhijrah ke Madinah dan lain-lain dari liku-liku kehidupan terutama menghadapi kaum Yahudi. Beliaupun bersabda dalam satu hadist riwayat Ahmad, yang artinya, “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang ada di bawahnya lagi (demikian seterusnya) seseorang itu diuji menurut kadar agamanya..” Berkat kesabarannya, Da’wah Islam berkembang sampai ke pelosok dunia, diawali dengan da’wah yang penuh hikmah dan sabar dalam menghadapi dugaan.

Begitulah secara singkat  ujian yang telah menimpa para nabi dalam melaksanakan misi dawahnya yang menghadapi berbagai dugaan hidup dan kehidupan. 

Sebagai oprang yang beriman, memperhatikan perjalanan para Anbiya dan Mursalin dalam menghadapi berbagai dugaan hidupnya adalah merupakan wacana yang patut dijadikan suri tauladan dalam kehidupan seharian, sehingga seberat apapun dugaan akan dapat dihadapi dan diatasi tanpa mendajikan diri ini seorang yang putus asa dan hilang ketabahan sehingga  betul-betul menjadi orang yang sabar yang tulen. Wallahu’alam.(K10/R2).

*Penulis adalah Kepala Biro Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) Malaysia

Mi’raj News Agency (MINA)                                                                

 

 

 

Rate this article!

SHABAR,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply