SUNNI-SYI’AH SESALKAN UPAYA MUSUH ISLAM JATUHKAN HUBUNGAN KEDUANYA

Foto: MINA doc

Kuala Lumpur, 13 Rajab 1434/22 Mei 2013 (MINA) – Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad bertemu dengan mantan Presiden Iran, Muhammad Khatami pada Rabu (22/5) di Kuala Lumpur, Malaysia. Keduanya menyesalkan pertumpahan darah yang akhir-akhir ini menimpa Muslim dan mengotori hubungan Sunni-Syi’ah.

Kedua tokoh besar tersebut mengatakan upaya-upaya pihak yang berusaha menjatuhkan Islam telah berhasil membuat persengketaan antara Sunni-Syi’ah, sehingga melemahkan persatuan umat Islam, Koresponden Miraj News Agency (MINA) melaporkan dari konferensi pers yang digelar di Gedung Perdana Leadership Foundation, Putrajaya, Malaysia.

Dengan tidak menyebutkan konflik secara khusus, mereka setuju konflik Sunni-Syi’ah yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak tertentu ini telah mengorbankan banyak nyawa tidak bersalah, terutama wanita dan anak-anak, di mana konflik seperti ini mencemarkan citra muslim di ’mata’ dunia.

Pada konferensi yang diberi nama Peluncuran Banding Bersama Muslim Sunni-Syi’ah itu, Mahathir menyerukan organisasi Negara muslim untuk ikut berperan dalam menghentikan pembunuhan dan pertumpahan darah antar muslim ini.

“Saya yang sebelumnya memimpin mayoritas Sunni dan Khatami yang sebelumnya memimpin mayoritas rakyat Syi’ah menyerukan kepada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) agar membuat panitia yang meneliti jurang perbedaan besar antara Sunni-Syi’ah, kemudian membuat wacana yang dapat dilaksanakan bersama oleh para pemimpin agama Islam dengan tidak melihat latar belakang madzhab mereka,” kata mantan Perdana Menteri Malasyia itu.

Mahathir dan Khatami menyerukan  seluruh individu dan organisasi di dunia untuk menghentikan pertumpahan darah, dan mengembalikan hubungan baik Sunni-Syi’ah.

Kedua mantan petinggi Negara Malasyia dan Iran itu menyerukan agar upaya perbaikan hubungan ini di sebarkan media-media massa maupun internet, tegas keduanya pada konferensi pers yang dihadiri wartawan-wartawan.

“Kami memohon kepada seluruh anggota Sunni dan Syi’ah yang bersama-sama beriman kepada Allah Ta’ala yang berpedoman kepada al-Qur’an yang sama, yang keduanya memuliakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, yang menghadap kiblat yang sama agar menghentikan pertumpahan darah,”  tutup siaran pers itu. (L/K10/P03/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Leave a Reply