UNHCR SEBUT KEKERASAN DI GUANTANAMO SEBAGAI PENYIKSAAN

New York, 24 Jumadil Akhir 1434/3 Mei 2013 (MINA) – Badan PBB yang mengurusi masalah HAM telah mengecam aksi pemaksaan makan kepada tahanan yang melakukan mogok makan yang ada di penjara Guantanamo Kuba sebagai bentuk “penyiksaan” dan pelanggaran hukum internasional, sedangkan jumlah tahanan yang dipaksa makan secara paksa naik menjadi 23 orang.

“Kalau itu dianggap sebagai penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi (itu terjadi, dan itu menyakitkan) maka perbuatan tersebut dilarang oleh hukum internasional,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (UNHCR) Rupert Coville kepada media.

Coville mengatakan bahwa UNHCR mengadopsi langkah tersebut berdasarkan standar etika dari World Medical Association (WMA), sebuah organisasi internasional yang memantau etika dalam kesehatan, yang menerangkan bahwa melakukan makan paksa sebagai “suatu bentuk perlakuan tidak manusiawi” dan “tidak pernah diterima secara etis.” Demikian kata Coville yang dikutip dari Press Tv dan dipantau MINA.

“Bahkan jika dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan, pemberian pakan disertai dengan ancaman, paksaan, kekerasan atau penggunaan keekrasan fisik adalah bentuk yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat,” menurut WMA dokumen. “Sama halnya tidak dapat diterima adalah pemberian makan secara paksa kepada beberapa tahanan dalam rangka untuk mengintimidasi atau memaksa pemogok makan lainnya untuk menghentikan puasa.”

Proses pemaksaan makan telah dijelaskan oleh pemogok makan sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan dan merendahkan. Mereka yang menolak untuk mengindahkan himbauan penjaga penjara untuk mengambil makanan diikat ke sebuah kursi sementara petugas medis militer memaksa memasukkan selang tabung melalui hidung korban ke dalam perut dan memberi mereka cairan nutrisi.

Seorang pengacara yang mewakili seorang tahanan Kuwait yang berusia 35 tahun di penjara militer Guantanamo, Fayiz al-Kandari, mengatakan bahwa kliennya telah diberi makan secara paksa melalui selang tabung selama seminggu, ia menegaskan bahwa seharusnya pasukan medis militer Amerika ” tidak perlu menggunakan tabung pengisi yang besar. “

Selain itu, tahanan lainnya yang berasal dari Yaman, Amir Naji al Hasan, menggambarkan proses pemaksaan makan sebagai sesuatu yang ‘sangat menyakitkan’ dalam sebuah artikel di New York Times yang diterbitkan pada tanggal 15 April.

“Ada rasa sakit di dada, tenggorokan dan perut,” tulis Moqbel, yang dibantu oleh seorang penerjemah bahasa Arab dan pengacaranya.

“Saya belum pernah mengalami sakit seperti sebelumnya. Aku tidak ingin hukuman yang kejam pada siapa pun, “tambahnya.

Aksi mogok makan di fasilitas penahanan militer AS terkenal awalnya dimulai pada awal Februari dan telah secara drastis meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Penolakan tahanan untuk makan datang sebagai upaya untuk memprotes pencarian dari Quran dan barang-barang pribadi lainnya oleh penjaga penjara serta penahanan tanpa batas.

Pemerintah AS mengklaim bahwa 100 dari total 166 tahanan Guantanamo melakukan aksi mogok makan, tapi pengacara dari tawanan asing telah melaporkan bahwa 130 tahanan telah bergabung dalam upaya protes ini. (T/P05/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply