UNIFIL: NOL TOLERANSI PADA EKPLOITASI SEKSUAL PENGUNGSI SURIAH

Jakarta, 29 Jumadil Akhir 1434/8 Mei 2013 (MINA) – Dalam Penataran Persamaan Gender dan Penanganan Pengungsi Suriah di markas UNIFIL di Libanon Selatan, Selasa (7/5), UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menekankan fokus tentang “Nol Toleransi” terhadap ekploitasi seksual dan pelecehan seksual.

Menurut situs resmi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dikutip MINA bahwa salah satu dampak dari konflik perang di Suriah terhadap Libanon sejak Maret 2011, menimbulkan gelombang pengungsi sebesar 400.000 orang dan sebagian besar diantara mereka adalah anak-anak dan wanita.

Para pengungsi Suriah sudah mulai memasuki wilayah dari AO (Area Operation) yaitu Tyre.

Resiko terbesar akan dialami oleh pengungsi wanita Suriah di Libanon, karena mereka akan mendapat kekerasan seksual ketika masuk saat melewati perbatasan Libanon, saat di perjalanan dan ketika masuk relokasi kamp pengungsian.

UNIFIL mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan pernikahan dini dan aksi menjual diri para gadis di bawah umur akibat keluarga kekurangan uang, kekurangan bantuan dari pemerintah serta kekurangan perlindungan.

Menyikapi hal tersebut, UNIFIL mengharapkan kepada seluruh komandan satuan menyampaikan kepada seluruh anggotanya bahwa UNIFIL menghargai dan menghormati kesamaan derajat antara pria dan wanita.

UNIFIL juga menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki hak untuk menyediakan tempat penampungan bagi pengungsi Suriah atau pun dari negara lain.

“Pemerintah Lokal yang bertanggung jawab terhadap para pengungsi dan segala bentuk pekerjaan pengungsi, sehingga Kontingen UNIFIL tidak diijinkan membantu pengungsi sesuai dengan tugas pokok berdasarkan Resolusi 1701 tahun 2006,” kata pihak UNIFIL.

Penataran ini diselenggarakan atas kerjasama DPCA (Director of Political and Civil Affairs) serta Regional Conduct and Discipline Team. Satuan yang hadir diantaranya DCOS MTF, CO Ghana, CO Srilangka Coy, CO MP Tanzania, CO ItalAir, CO Cimic, dan CO MCOU serta kontingen dari Indonesia, Indo FPC yang diwakili oleh Letkol Inf Yuri Elias Mamahi.

Pihak TNI melaporkan bahwa Dansatgas Indo FPC XXVI E-2 menyikapi pertemuan itu dengan positif dan menyampaikan kepada seluruh personilnya agar mentaati kebijakan yang dikeluarkan oleh UNIFIL pada masalah pengungsi Syria yang sudah masuk ke dalam AO wilayah Tyre.(T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA).

 

Leave a Reply