URGENSI MEMBAI’AT KHALIFAH

Oleh : Dudin Shobaruddin*

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa:59)

Di antara malapetaka terbesar yang menimpa dunia Islam adalah tidak adanya khilafah ditengah-tengah umat.

Menurut catatan sejarah, berakhirnya sistem kekhalifahan Turki Utsmani pada 28 Rajab 1342 H (24 Maret 1924), saat Mustafa Kamal Ataturk menghapuskan sistem kekhalifahan Islam dan menggantinya dengan sistem sekuler.

Umat Islam seakan-akan trauma untuk menegakkannya kembali. Padahal, menurut Imam Ibn Hazem dalam kitabnya al-Mialal wa Nihal menyebutkan bahwa mengangkat seorang khalifah adalah wajib bagi kaum Muslimin.

Senada dengan catatan sejarah awal Islam ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang tercinta wafat, yang diurus sebelum pemakamannya adalah melakukan pengangkatan Khalifah dengan membai’at khalifah Abu Bakar, setelah itu barulah dilakukan pengurusan pemakaman jenazah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang dipimpin langsung oleh seorang khalifah.

Bai’at yang membawa pengertian secara bahasa adalah ‘menjual’, dengan maksud  menjual dirinya kepada Allah melalui janji suci atau janji setia seorang hamba untuk menunjukkan sikap selalu patuh dan setia sesuai dengan yang diikrarkan kepada pimpinannya. Dengan janji setia ini, berarti taat setia baik yang disukai ataupun yang dibenci dan tidak akan menentangnya.

Bagi laki-laki, bai’at dilakukan dengan cara bersalaman, sedang bagi perempuan dengan hanya ucapan lisan saja (Hadits Riwayat Ahmad dan Muslim). Karena itu, Bai’at identik dengan berjabat tangan bagi laki-laki (Muqaddimah Ibnu Khaldun, 1/608-610), sebagai bentuk isyarat penjualan dirinya dan menyerahkannya kepada si pembeli. Ini adalah kiasan pinjaman, seolah-olah setelah berikrar seluruh jiwa raganya mutlak diserahkan sepenuhnya berikut segala kemampuan waktu dan tenaganya hanya untuk menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan membela kesucian agama Islam.

Pada hakekatnya, aplikasi bai’at adalah memberikan loyalitas sepenuhnya kepada sang penerima bai’at tersebut untuk ridla diatur dan dipimpin menurut undang-undang Allah, Al-Quran, dan Sunnah. Karena itu, ia amat penting bagi umat Islam dalam mengaplikasikan kewajiban Bai’at tersebut. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Artinya : “Barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at (kepada Imaam) pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (Muslim, 2/136)

Meninggalkan dan tidak mengamalkan bai’at tersebut bukan saja mendapat ancaman seperti hadits tersebut di atas, tapi juga dampaknya cukup besar terhadap kehidupan masyarakat Islam. Pengaburan loyalitas dan kesetiaan terhadap institusi Islam di antaranya adalah akibat umat Islam tidak membai’at khilafah sebagai pintu gerbang untuk membuka aqidah loyalitas dan kesetiannya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri.

Umat Islam hari ini bukan saja tidak mengamalkan akan syari’at ini, bahkan justru banyak yang tidak mengetahui dan merasa aneh/asing akan syari’at yang satu ini. Hal ini adalah diantara keberhasilan penjajah imprialisme barat yang telah menggarap selama ratusan tahun untuk mengaburkan isntitusi syari’at demi  menenggelamkan umat Islam daripada sikap hidupnya agar berada pada posisi ketidakjelasan loyalitasnya (walla dan barra’) kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri.  Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:

“Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”  (QS. Al-Maidah:55)

Padahal jelas loyalitas tidak bisa berada di tengah-tengah dan tidak bisa di bagi-bagi. Mau iman, maka imanlah. Mau kufur, maka kufurlah (QS. al-Kahfi:29). Artinya, bahwa loyalitas bagi orang beriman hanya untuk Allah, Rasul, dan Ulil Amri diantara orang yang beriman, yang menegakan shalat, mengeluarkan zakat, ruku, dan sujud. Kemudian loyalitas itu harus dapat membuktikan dengan menjauhi Thaghut. Thaghut, adalah segala bentuk yang disembah selain Allah, bisa berbentuk benda dan bisa berbentuk manusia, perhatikan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut ini, yang artinya :

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS. An Nahl : 36)

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin, barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu)”. (QS. Ali Imran (3): 28)

Untuk mengantarkan ke pintu gerbang loyalitas seorang hamba tersebut di antaranya adalah melalui bai’at. Bai’at kepada khalifah dan membai’atnya  di samping merupakan kewajiban, juga memiliki pengaruh yang amat luar biasa terhadap jiwa raga dan juga keimanan setiap orang, apalagi kalau dilaksanakannya dengan  tulus ikhlas.

Bukan Jaminan

Setelah bai’at bisa dilaksanakan, membai’at seorang khilafah telah dapat disempurnakan, bukanlah satu jaminan orang tersebut dapat menunaikan janjinya sesuai dengan yang diucapkan. Ternyata, al-Quran sendiri telah menyebutkan bahwa siapa yang merusak dan tidak menunaikan janjinya maka dia telah merusak dirinya sendiri. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا {الفتح:۱٠}

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepada-mu sesungguhnya mereka berbai’at kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang mengingkari bai’atnya niscaya akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati bai’atnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.” (QS. Al Fath:10)

Sebaliknya, bagi orang-orang yang dapat menunaikan bai’at dan janji setianya, maka sudah tentu dia akan memiliki sikap loyal kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri dan menjauh dari segala bentuk penyembahan dan kesetiaan kepada Thaghut. Maka Allah-pun memberikan kabar gembira dengan Jannah (Surga), firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنْ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمْ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ{التوبة :۱۱۱}

Artinya : “Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111).

Jalan keluar untuk menyelesaikan kemelut yang menimpa umat Islam hari ini adalah dengan kompaknya seluruh umat Islam melaksanakan syari’at Islam yang telah ditinggalkan lama, yaitu membai’at Khalifah dengan segala ketulusan dan keikhlasannya, sehingga dengan ini mereka memiliki kepemimpinan sentral sebagai rujukan seluruh permasalahan yang timbul.

Dialah komando, dialah tameng, dialah perisai, dialah yang bertanggung jawab terhadap jalannya roda kepemimpinan berlandaskan al-Quran dan Sunnah. Insya Allah, loyalitas  dengan sendirinya akan terbentuk, sehingga loyalitas yang seumpama langit yang mendung menjadi terang benderang.  Kesetiaan yang keruh akan menjadi jernih dan aqidah yang menyimpang akan menjadi lurus, yang hanya mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Satu, dengan contoh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Wallahu’alam. (K10/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

*Penulis adalah Kepala Biro Kantor Berita IslamMi’raj News Agency (MINA) Malaysia

Rate this article!

Leave a Reply