BULGARIA PROTES MASJID TUA AKTIF KEMBALI

Karlovo, 6 Muharram 1435/10 November 2013 (MINA) – Ratusan masyarakat Bulgaria berkumpul pada Sabtu (9/11), memprotes usulan pengembalian kota masjid tua Karlovo kepada Kepala Mufti untuk membuka kembali sebagai tempat ibadah bagi komunitas muslim di negara itu.

“Kami tidak akan membiarkan ini,” kata Stoyo Karagenski, Kepala Dewan Kota Karlovo sebagaimana dikutip Focus News Agency.

Protes muncul setelah rencana kembalinya “Kurshum Dazamiya”, (Masjid Bullet), kepada Kepala Mufti Masjid, dengan menara tertinggi di negara itu. Sebelumnya masjid Bullet tidak beroperasi sebagai tempat ibadah.

Dalam protes, penduduk Bulgaria membawa poster yang berbunyi: “Folks!”, “terima kasih Karlovo Bulgaria atas dukungan mereka”, “Rasul, kami tidak akan membiarkan”, “Saudara-saudara dari Karlovo, Kazanlak bersamamu”.

Walikota Emil Kabaivanov menekankan dalam pidatonya, ia akan melakukan segala kemungkinan untuk melindungi kepentingan orang Karlovo di Pengadilan.

Mewakili 15 persen populasi Muslim dari 7,3 juta penduduk Bulgaria, adalah populasi Muslim tertinggi di negara anggota Uni Eropa.

Sebelumnya, masjid yang lain di Bulgaria telah ditutup untuk kegiatan ibadah sejak berdirinya rezim komunis pada tahun 1944, ditutup selama beberapa dekade.

Setelah jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1989, bangunan masjid mulai dikembalikan.

Awal tahun ini, terungkap pada April lalu bahwa  Masjid Taskopru (Jembatan Batu) telah berdiri sejak abad ke-16 di wilayah Plovdiv, berubah menjadi sebuah bar dan restoran.

Kisah tragis masjid abad ke-16 berarsitektur Ottoman tersebut dimulai karena adanya gempa bumi 1928 yang menyebabkan kerusakan pada bangunan bersejarah itu.

Untuk memperbaiki menara dari masjid yang hancur akibat gempa, sebagian dari tanah itu dijual, tetapi perbaikan tidak dapat diselesaikan karena dana yang dikumpulkan tidak cukup.

Namun, Masjid Taskopru, yang diharapkan akan kembali kepada Mufti daerah itu,  berdasarkan putusan pengadilan diberikan kepada dua warga Bulgaria dan menyewakan masjid itu kepada orang-orang yang menggunakannya sebagai “kedai Yunani”, “restoran Italia,” dan bar.

Umat Islam di sana berusaha memulihkan masjid, namun perubahan yang dibuat oleh orang-orang yang merebut masjid itu mengubahnya menjadi restoran yang menyajikan alkohol di lokasi masjid.

Pemilik masjid menuntut 600 ribu euro atau sekitar tujuh milyar rupiah dari Mufti daerah itu (kekuasaan Islam). (T/P013/P02)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply