DI MANA “UMMATAN WAHIDAH”?

Oleh: Rudi Hendrik*

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (٨

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.” (QS. Asy-Syuura [42] ayat 8).

Ummatan Wahidah”(umat yang satu) adalah dambaan, impian dan cita-cita setiap Muslim. Sebab, di dalam Ummatan Wahidah penuh dengan rahmat Allah dan memendam kekuatan yang luar biasa.

Berdasarkan bimbingan wahyu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merangkai umat jahiliyah yang berserakan dari berbagai latar belakang suku-suku yang berbeda dan bermusuh-musuhan menjadi Ummatan Wahidah yang penuh rahmat, kasih sayang. Dan seiring dengan itu, tersusun kekuatan iman yang dahsyat sehingga menciptakan kekuatan yang besar yang memiliki kehormatan tauhid (mengesakan Allah) yang begitu tinggi.

Keharuman rahmat Ummatan Wahidah itu terbukti ketika kaum Anshar menawarkan separuh tanah, harta, dan kediamannya, bahkan sebagian dari isteri-isterinya kepada saudaranya yang berhijrah dari Makkah, yaitu kaum Muhajirin. Dan dahsyatnya kekuatan iman Ummatan Wahidah itu terbukti dengan begitu loyalitasnya mereka kepada Allah dan Rasul-Nya dalam berbagai macam peperangan meninggikan kalimat tauhid sehingga tersebar begitu cepat dan pesat ke segala penjuru angin.

Di bawah satu perintah, perintah Allah Subhana Wa Ta’ala. Di bawah satu perintah, perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di bawah satu perintah, perintah Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan Khalifah Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Begitu pun ketika Muawiyyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang merombak sistem khilafah yang mengikuti jejak kenabian menjadi sistem mulkan (kerajaan), kekuatan Ummatan Wahidah masih dapat dibuktikan. Hal itu karena umat masih di bawah satu perintah seorang khalifah.

Sekarang kita lihat, di mana adanya Ummatan Wahidah di bawah kepemimpinan seorang khalifah? Tidak bisa dipungkiri, keberadaan orang-orang zalim membuat agama dipecah-belah, dibagi-bagi. Banyak pemuka dan tokoh, bahkan ulama-ulama versi thoghut, berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin umat. Maka yang terjadi adalah “KACAU”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika kalian menyaksikan seorang khalifah, hendaklah kalian taat, walaupun (ia) memukul punggungmu. Sesungguhnya jika tidak ada khalifah, maka akan terjadi kekacauan.” (HR. Thabrani).

Semua kepemimpinan (sekarang) merasa adalah yang paling benar melaksanakan hidup sesuai kehendak Allah dan Rasul-Nya. Padahal apa yang terjadi? Mereka melaksanakan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tapi di sisi lain mereka menyelinapkan amalan orang-orang kafir. Mereka zalim sehingga mereka tidak dimasukkan oleh Allah ke dalam rahmat-Nya, yaitu Ummatan Wahidah (Al-Jamaah).

Mereka mengaku bersyariat, tapi getol musyrik dan mencintai bid’ah-bid’ah. Mereka mengaku bersyariah, tetapi selalu mencap sesat saudara seaqidahnya sehingga menciptakan permusuhan menutup peluang bersatu. Mereka mengaku bersyariah, tapi tidak mau berjama’ah (bersatu dalam satu kepemimpinan) dan berkhilafah. Di mana Ummatan Wahidah di bawah satu kepemimpinan seorang khalifah?

Namun manusia sifatnya berselisih, sebagaimana firman Allah Subhana Wa Ta’ala:

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬‌ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ (١١٨

إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ‌ۚ وَلِذَٲلِكَ خَلَقَهُمۡ‌ۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ

“Jika Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Huud [11] ayat 118-119).

Allah sangat berkuasa menjadikan umat yang satu. Namun Allah Maha Adil, Dia memasukkan orang-orang ke dalam rahmat-Nya hanya yang dikehendaki-Nya. Mereka orang-orang zalim (suka berselisih pendapat) akan dibiarkan oleh Allah dalam perpecahan, karena orang-orang yang bersatu dalam Al-jama’ah adalah orang-orang yang tidak suka berselisih pendapat, mereka adalah orang-orang yang mengucapkan sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Al-Jama’ah itu rahmat dan firqah (berpecah belah) itu azab.” (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir. Shahih).

Allah Maha Menepati Janji. Umat Islam seluruhnya tidak akan bisa bersatu hingga Allah menghendaki, karena sifat manusia yang suka berselisih paham. Dan perpecahan sudah tergambar dalam QS. Ar-Ruum [30] ayat 32 dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

Muawiyyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah berdiri di hadapan kami, lalu Beliau bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu dari Ahli Kitab, mereka bercerai-berai atas 72 golongan, dan sesungguhnya millah (Umat Islam) ini akan bercerai-berai menjadi 73 millah, 72 dalam neraka dan satu di dalam surga, yakni Al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al-Hakim, dan Ad-Darimy. Hadits hasan dan mahsyur.).

Hadits ini selain menunjukkan perpecahan umat Islam lebih banyak dari umat Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), juga menunjukkan jumlah umat Islam yang masuk neraka jauh lebih banyak. Seiring dengan keputusan Allah yang akan memenuhkan neraka Jahannam.

Meskipun perpecahan yang dahsyat tidak mungkin terelakkan, bukan berarti jalan untuk mewujudkan Ummatan Wahidah hanya sebatas wacana dan membiarkan diri kita larut dalam perpecahan lantaran mayoritas Muslimin tidak mau membai’at (mengangkat) seorang khalifah. Lalu apa langkah kita selaku seorang Muslim?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjukkan jalannya:

“Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imam mereka!”

Jika tidak menemukan Jama’ah Muslimin yang memiliki imam (pemimpin yang satu), atau ragu dengan Jama’ah Muslimin yang telah ada (jika sudah ada), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Hendaklah engkau keluar menjauhi firqah-firqah (perpecahan) itu semuanya, walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian menjumpaimu.” (HR. Bukhari, shahih).

Jika Al-Jama’ah (khilafah) yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah belum ada, maka wajiblah membai’at (mengangkat) seorang Imam (Khalifah) tanpa menunggu bersatunya seluruh perpecahan. Jika sudah ada Jama’ah Muslimin dengan Imam-nya, dengan sistem kekhalifahan yang mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan lima Khalifah sesudahnya, maka wajiblah ditetapi sehingga terwujudlah Ummatan Wahidah di tengah-tengah alam perpecahan. Wallahu ‘alam. (P09/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA).

*) Penulis adalah wartawan KBI Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply