EKSTRIMIS YAHUDI KEMBALI NODAI AL AQSHA

Al Quds , 21 Muharam 1435/25 November 2013 ( MINA ) – Puluhan ekstremis pemukim Israel pada Ahad (24/11) kembali melakukan penodaan terhadap  al – Quds yang merupakan situs paling suci ketiga dalam Islam. Mereka merangsek masuk lewat pintu barat.

Ekstremis yang dipimpin oleh Rabbi Yehuda Glick itu melakukan aksi-aksi provokasi dengan melecehkan tempat-tempat suci al Aqsa serta melakukan ritual ibadah ala Yahudi di komplek masjid. Press  tv melaporkan seperti dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Sementara itu, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Yayasan Al-Aqsa pada bulan Oktober , mengatakan rezim Israel berencana untuk membangun rumah ibadat di kompleks Masjid al – Aqsa sebagai bagian dari program yahudisasi di wilayah yang mereka duduki itu.

Menurut laporan  yang didasarkan pada informasi yang bocor dari parlemen (Knesset) Israel , rencananya pemerintah Israel akan membagi al Aqsa menjadi lima bagian agar mereka leluasa melakukan ritual keagamaan di sana .

Pada 19 Oktober lalu, Perdana Menteri Hamas Ismail Haniyeh mengecam upaya Israel untuk Yahudisasi al- Quds dan Masjid al- Aqsa itu.

Haniyeh juga mengecam kebijakan ekspansionis Israel dan kejahatan rezim penjajah itu terhadap bangsa Palestina. Ia mengatakan pembebasan Palestina adalah tugas nasional seluruh rakyat Palestina.

Dia menyerukan kepada semua warga Palestina untuk melakukan aksi-aksi penentangan terhadap tindakan ekspansionis rezim Tel Aviv di wilayah-wilayah Palestina, terutama di al- Quds .

Selama beberapa dekade terakhir, Israel mencoba mengubah demografi al- Quds dengan membangun pemukiman ilegal , merusak situs sejarah , dan mengusir penduduk Palestina setempat.

Saat ini, lebih dari setengah juta warga Israel tinggal di lebih dari 120 pemukiman yang dibangun sejak tahun 1967 di Tepi Barat dan Timur Al – Quds. Masyarakat internasional menganggap pembangunan permukiman itu adalah tindakan  ilegal dan melanggar hukum internasional.

Yayasan Al-Aqsha untuk  Wakaf dan Warisan Islam mengungkapkan, beberapa organisasi penjajah Israel, termasuk kelompok ‘Temple Mount (Bukit Kuil)’ telah meminta orang-orang Yahudi untuk menyerbu Masjid Al-Aqsha selama Festival Yahudi ‘Hanukkah’ yang dimulai Kamis (21/11) dan berlangsung selama delapan hari. 

Yayasan Al-Aqsha mengatakan, seorang pejabat senior Parlemen Israel (Knesset) dari partai ekstrimis Likud-Neiteinu, Miri Regev berjanji meminta perlindungan polisi untuk pemukim ilegal dan kelompok ekstrimis Yahudi saat mereka berada di kiblat pertama umat Islam.

Selain seruan untuk menyerbu Masjid Al-Aqsa, yayasan menjelaskan beberapa organisasi Israel mengorganisir beberapa paket wisata dan acara lain di sekitar masjid, terutama di Tembok Buraq, sebelah barat Masjid Al-Aqsha,

Ahli sejarah kota Al-Quds, Khalil Ibrahim menyatakan, pemerintah penjajah Israel sedang membangun tiga sinagog Yahudi baru untuk tempat ibadahnya di bawah Masjid Al-Aqsha.

Tiga sinagog Yahudi, termasuk ruang untuk tempat ibadah khusus bagi perempuan Yahudi dibangun di bawah terowongan hasil penggalian penjajah Israel yang tersebar di bawah Masjid Al-Aqsha.

“Kami hanya melihat rumah-rumah ibadah ini selama tur kami. Jika tidak, kita tidak akan tahu apa-apa tentang sinagog tersebut. Sinagog itu dibangun diam-diam di bawah tanah,” kata Ibrahim yang juga bekerja sebagai pemandu wisata.

Menurutnya, sinagog-sinagog itu merupakan perpanjangan dari situs agama lain bahwa penjajah Israel sedang membangun tempat ibadah Yahudi di Al-Quds yang diduduki, terutama di sekitar Masjid Al-Aqsha, untuk memaksakan realitas baru di lapangan.

Dia juga menyatakan, pembangunan sinagog memiliki dukungan politik dalam upaya untuk Yahudisasi kiblat pertama bagi umat Islam itu.

Ibrahim menjelaskan, pemerintah penjajah Israel bertujuan mengelilingi Masjid Al-Aqsha dengan permukiman ilegal dan bangunan yang mengusung nilai keagamaan Yahudi, termasuk rumah-rumah ibadah.

Ibrahim juga mengungkapkan, di dalam rumah-rumah ibadah Yahudi itu, orang-orang Yahudi menggunakan model bangunan dalam kitab Mazmur dan menunjukkan struktur Kuil di bawah Masjid Al-Aqsha.

Fasilitas lain termasuk sekolah, perpustakaan dan sinagog sedang dibangun dalam upaya untuk melemahkan dan menghapus warisan Islam dan Arab di kota Al-Quds dan untuk membangun sebuah warisan Yahudi di tempat itu.

Seorang pejabat senior PBB dan Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik Jeffrey Feltman mengatakan, kegiatan permukiman ilegal Yahudi yang dibangun rezim penjajah Israel di wilayah Palestina yang diduduki memiliki dampak negatif pada pembicaraan damai Otoritas Palestina-Israel.

Jeffrey Feltman mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Selasa lalu, pembicaraan antara kedua belah pihak mengalami “kemunduran yang signifikan” sebagai hasil dari serangkaian pengumuman penjajah Israel baru-baru ini yang berencana membangun permukiman ilegal baru di Tepi Barat dan Al-Quds Timur yang diduduki .

Sementara, seorang peneliti dalam urusan kota Al-Quds dan permukiman ilegal Yahudi, Abdel Salam Awwad juga memperingatkan serangan penjajah Israel yang terus menerus pada Masjid Al-Aqsha.

Dia menjelaskan kepada media Palestina Al-Ray, masjid itu diserang berulang kali oleh penjajah Israel dalam situasi berbeda termasuk politisi, militer, rabi, pelajar dari universitas dan sekolah serta lembaga-lembaga keagamaan tingkat tinggi.

Dia juga menyatakan, hal itu menunjukkan dengan jelas ada strategi yang direncanakan diadopsi penjajah Israel yang didukung oleh tingkat kementerian Israel seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Pariwisata, dan parlemen Israel (Knesset).

“Serangan terhadap Masjid Al-Aqsha dijadwalkan akan setiap hari dilakukan penjajah Israel,” jelas Awwad.

Dia menyerukan kepada rakyat Palestina secara umum dan pribumi kota Al-Quds (Yerusalemites) khususnya untuk berdiri bersama dengan satu sama lain untuk mencegah para pemukim ilegal ekstrimis Yahudi dari melakukan penodaan dan kerugian apapun ke Masjid Al-Aqsha.(T/P04/R2).

 

Mi’raj News Agency ( MINA )

 

Leave a Reply