DISADAP, INDONESIA KAJI ULANG KERJASAMA PERTUKARAN INFORMASI DENGAN AS DAN AUSTRALIA

Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa. (Foto: AA/MINA).

Jakarta, 1 Muharram 1435/4 November 2013 (MINA) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Marty Natalegawa menyatakan pemerintah Indonesia akan mengkaji ulang kerjasama pertukaran informasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Australia. Pernyataan itu menyusul kabar penyadapan ilegal yang diduga dilakukan dua negara sahabat itu.

“Jika mereka melakukan pengumpulan data intelijen di luar kerangka resmi. Indonesia akan kaji ulang kerjasama pertukaran informasi dengan kedua negara,” kata Menlu Marty dalam konferensi pers di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (4/11).

Sebelumnya, badan intelijen AS diketahui menyadap komunikasi negara-negara sekutu mereka di Eropa. AS disebut menyadap komunikasi Pemerintah Indonesia melalui kedutaannya di Jakarta, demikian juga Australia yang diberitakan melakukan hal yang sama terhadap Indonesia.

Dalam laporan yang diterbitkan Sydney Morning Herald pada Kamis (31/10) dini hari waktu setempat, atau Rabu malam WIB disebutkan, kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta turut menjadi lokasi penyadapan sinyal elektronik.

Surat kabar tersebut mengutip bocoran dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang dimuat di majalah Jerman, Der Spiegel. Dokumen itu dilaporkan jelas-jelas menyebut Direktorat Sinyal Pertahanan Australia (DSD) mengoperasikan fasilitas program Stateroom.

Stateroom’ adalah nama sandi program penyadapan sinyal radio, telekomunikasi, dan lalu lintas internet yang digelar AS dan para mitranya yang tergabung dalam jaringan “Lima Mata”, yakni Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Pemerintah Indonesia telah menyampaikan protes kepada Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta dan memanggil Dubes Australia di Jakarta, Greg Moriarty.

Namun Menlu Marty mengungkap, jawaban dari perwakilan kedua negara itu sangat normatif, tidak menyangkal dan tidak membenarkan.

“Jawaban yang diperoleh dari kepala perwakilan Kedubes AS dan Australia di Jakarta sama dengan yang diterima negara-negara lain dengan situasi serupa: AS dan Australia tak dapat mengonfirmasi atau menyangkal kabar tersebut,” terang Marty.

Menlu Marty Natalegawa menyebutkan, jawaban tersebut tidak hanya diterima Indonesia, tetapi juga negara-negara lain yang diberitakan telah disadap. Menlu juga menegaskan, kasus penyadapan itu telah menyebabkan menurunnya kepercayaan Indonesia terhadap AS dan Australia. Kondisi itu dinilai dapat merusak hubungan bilateral antara Indonesia dan kedua negara tersebut. 

“Jadi, mereka (AS dan Australia) perlu mengambil langkah-langkah untuk memulihkan kembali rasa kepercayaan ini,” tegas Marty.

Menlu Marty menambahkan, upaya yang dilakukan Indonesia terkait insiden penyadapan adalah meningkatkan kewaspadaan. Indonesia akan melakukan berbagai upaya agar masalah keamanan terkait penyadapan itu dapat teratasi dan tidak terjadi kembali. (L/P02/P015/P01).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply