BAHAYA RIYA’ !

Oleh Bahron Ansori*

         Riya’, suatu penyakit hati yang tidak asing lagi kita dengar. Bahaya riya’ selalu menyerang kepada seseorang yang melakukan ibadah atau aktifitas tertentu. Penyakit ini termasuk jenis penyakit yang sangat berbahaya karena bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa. Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini. Berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya’ maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan pelakunya mendapat ancaman keras. 

        Ada orang, karena merasa seolah-olah sudah banyak ilmu dan pengalamannya dalam bidang tertentu, merasa tinggi dari orang lain. Orang semacam ini biasanya lebih senang dipuji dan dielu-elukan. Dalam berbicara pun dia sering kali menyombongkan diri karena merasa sudah lebih banyak ilmu dan pengalaman dari orang lain. Menampakkan atau merasa bangga karena suatu amal merupakan riya’.

         Karena kronisnya penyakit riya’ ini, maka Rasuallah Shallallahu Alaihi Wassalam mengingatkan para sahabat dengan sabdanya, ”Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik paling kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berkata, ”Syirik kecil itu adalah riya’.” (HR Ahmad).

         Riya berasal dari akar kata raa-a yuraa-i yang maknanya adalah melakukan suatu amalan tidak untuk mencari keridhaan Allah, melainkan mencari popularitas ataupun pujian dari orang lain. Riya’ bukanlah suatu penyakit zhahir yang dapat terdeteksi oleh dokter, melainkan suatu penyakit hati yang amat samar dan tak kasat mata. Namun, dampak penyakit riya’ lebih berbahaya daripada penyakit yang kasat oleh mata, bahkan syirik kecil ini dapat menjadi syirik besar.

         Riya’ merupakan akhlak yang tercela dan termsuk sifat orang-orang munafik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘.. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisaa’ [4]: 142).

         Menurut Imam Al-Ghozali, orang yang memiliki penyakit riya’ dapat dideteksi dengan tanda-tanda sebagai berikut, malas beramal bila dia sendirian dan sungguh-sungguh bila ada di tengah-tengah orang. Dia akan menambah amalannya bila dipuji, dan akan melanggar larangan bila sendirian.

         Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia bisa mendatangkan berbagai macam marabahaya. Penyakit riya’ merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena memilki dampak negatif yang luar biasa.

         Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya), “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Qs. Al Baqarah: 264).

         Dalam konteks ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberitakan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau menyakiti perasaan si penerima maka akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya’ yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

         Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatanya saja (riya’), tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam bahwa kesudahan yang akan dialami orang-orang yang berbuat riya’ adalah kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak. Sebagaimana firmanNya, “Wail (Kecelakaanlah) bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’, … ” (Qs. Al Maa’uun: 4-7).

         Diperkuat lagi, adanya penafsiran dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, makna Al Wail adalah ungkapan dari dahsyatnya azab di akhirat kelak. (Tafsir Ibnu Katsir 1/118).

         Sedangkan dalam hadits yang shahih, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ancaman bagi orang yang berbuat riya’ yaitu Allah subhanahu wata’ala akan meninggalkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Siapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan kesyirikan bersamaKu, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu.” Bila Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggalkannya siapa lagi yang dapat menyelamatkan dia baik di dunia dan di akhirat kelak?

         Dalam hadis lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar akan mencampakkan pelaku perbuatan riya’ ke dalam An Naar (neraka). Sebagaimana hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim, yang pertama kali dihisab di hari kiamat tiga golongan manusia: pertama; seseorang yang mati di medan jihad, kedua; pembaca Al-Qur’an, dan yang ketiga; seseorang yang suka berinfaq. Jenis golongan manusia ini kelak akan Allah campakkan dalam neraka karena mereka beramal bukan karena Allah namun sekedar mencari popularitas. (Lihat HR. Muslim no. 1678).

         Cara Mengobati Riya’

         Bentuk-bentuk riya’ beraneka ragam warna dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, atau pun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka ini semua tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya’ yang dilarang dalam agama Islam.

        Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mencegah riya’. Pertama, memurnikan niat beribadah hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kedua, meyakini dengan sebenarnya bahwa diri ini hanyalah seorang hamba. Seorang hamba tidak berhak meminta kompensasi dalam pengabdian kepada Tuhannya, apalagi mengharap pujian dari orang lain.

        Ketiga, memperbanyak ibadah secara sembunyi-sembunyi. Yaitu apabila ada kekhawatiran jika amal yang dilakukan akan diketahui orang lain dan dapat mengarah kepada riya’. Terakhir, banyak memohon kepada Allah agar terhindar dari penyakit riya’. Semoga kita terbebas dari syirik kecil itu.

        Cara lain untuk mengobati riya’ adalah sebagai berikut.

        Pertama, mengetahui dan memahami keagungan Allah subhanahu wata’ala, yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna. Ketahuilah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat serta Maha Mengetahui apa-apa yang nampak ataupun yang tersembunyi. Maka akankah kita merasa diperhatikan dan diawasi oleh manusia sementara kita tidak merasa diawasi oleh Allah?

         Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya), “Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya” (Qs. Ali Imran: 29).

         Kedua, selalu mengingat akan kematian. Ketahuilah, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Ketika seseorang selalu mengingat kematian maka ia akan berusaha mengikhlaskan setiap ibadah yang ia kerjakan. Ia merasa khawatir ketika ia berbuat riya’ sementara ajal siap menjemputnya tanpa minta izin /permisi terlebih dahulu. Sehingga ia khawatir meninggalkan dunia bukan dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya) tapi su’ul khatimah (jelek akhirnya).

         Ketiga,  banyak berdo’a dan merasa takut dari perbuatan riya’. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kita do’a yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan syirik besar dan syirik kecil. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Thabrani dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Wahai manusia takutlah akan As Syirik ini, sesungguhnya ia lebih tersamar dari pada semut.”  Maka berkata padanya: “Bagaimana kami merasa takut dengannya sementara ia lebih tersamar daripada semut? Maka berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam :” Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

        “Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepadaMu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”

         Kelima, terus memperbanyak mengerjakan amalan shalih. Berusahalah terus memperbanyak amalan shalih, baik dalam keadaan sendirian atau pun dihadapan orang lain. Karena tidaklah dibenarkan seseorang meninggalkan suatu amalan yang mulia karena takut riya’. Dan Islam menganjurkan umat untuk berlomba-lomba memperbanyak amalan shalih. Bila riya’ itu muncul maka segeralah ditepis dan jangan dibiarkan terus menerus karena itu adalah bisikan setan.

         Apa yang kita amalkan ini belum seberapa dibandingkan amalan, ibadah, ilmu dan perjuangan para shahabat dan para ulama’. Lalu apa yang akan kita banggakan? Ibadah dan ilmu kita teramat jauh dan jauh sekali bila dibandingkan dengan ilmu dan ibadah mereka.

         Berusaha untuk tidak menceritakan kebaikan yang kita amalkan kepada orang lain, kecuali dalam keadaan darurat. Seperti, bila orang berpuasa yang bertamu, kemudian dijamu. Boleh baginya mengatakan bahwa ia dalam keadaan berpuasa. (Lihat HR. Al Imam Muslim dari sahabat Zuhair bin Harb no. 1150).

         Namun boleh pula baginya berbuka (membatalkan puasa selama bukan puasa yang wajib) untuk menghormati jamuan tuan rumah.

         Perkara yang Bukan Termasuk Riya’

         Pertama, seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan pujian dari manusia tanpa ia kehendaki. Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Dzar, ada seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?”

         Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.”

         Kedua, seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam. Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Ibnu Mas’ud, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah masuk Al Jannah seseorang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (setitik) dari kesombongan.”

         Berkata seseorang, “(Bagaimana jika) seseorang menyukai untuk memperindah pakaian dan sandal yang ia kenakan?”

         Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

         Ketiga, beramal karena memberikan teladan bagi orang lain. Hal ini sering dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Seperti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam shalat diatas mimbar bertujuan supaya para shahabat bisa mencontohnya. Demikian pula seorang pendidik, hendaknya dia memberikan dan menampakkan suri tauladan atau figur yang baik agar dapat diteladani oleh anak didiknya.

         Ini bukanlah bagian dari riya’, bahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada yang mengamalkannya, maka dicatat baginya kebaikan seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari kebaikannya.” (HR. Muslim no. 1017).

         Keempat, bukan termasuk riya’ pula bila ia semangat beramal ketika berada ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. Karena ia merasa terpacu dan terdorong untuk beramal shalih. Namun hendaknya orang ini selalu mewaspadai niat dalam hatinya dan berusaha untuk selalu semangat beramal meskipun tidak ada orang yang mendorongnya.

          Semoga risalah ini mendorong kita untuk memperbanyak ibadah dan selalu waspada dari bahaya perbuatan riya’. Amin ya Rabbal ‘alamin.

          Perlu diketahui, bahwa riya’ yang dapat membatalkan sebuah amalan adalah bila riya’ itu menjadi asal (dasar) suatu niatan. Bila riya’ itu muncul secara tiba-tiba tanpa disangka dan tidak terus menerus, maka hal ini tidak membatalkan sebuah amalan. Disinilah pentingnya sebuah niat.Wallahua’lam. (T/R2/E1).

*Redaktur Mi’raj News Agency (MINA)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

BAHAYA RIYA’ !,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply