KALIMAT TAKBIR BANGKITKAN SEMANGAT JUANG PARA PAHLAWAN

Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, seorang sejarawan Islam senior dan juga penulis buku Api SejarahPertempuran Surabaya terjadi pada 10 November 1945. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa besar dan bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Dengan meneriakkan kalimat takbir, santri dan kiai Surabaya berperang melawan pasukan Asing.

Pertempuran tersebut adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan peristiwa tersebut adalah pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Indonesia yang kemudian diperingati menjadi hari pahlawan oleh Bangsa Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, seorang sejarawan Islam senior dan juga penulis buku Api Sejarah, dalam wawancara khusus dengan Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA) di Bandung, Kamis (6/11). Berikut  petikan wawancaranya.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Apa yang terjadi di Surabaya saat itu?

Prof. Mansur Suryanegara: Ketika Inggris meng-ultimatum Indonesia agar menyerahkan senjata hasil rampasan dari Jepang dan menyerahkan kota Surabaya ke tangan Inggris, Inggris memberikan ultimatum dengan menyebarkan selebaran melalui pesawat dan sebagainya. Akan tetapi, justru ketika diancam seperti itu, semangat jihad justru malah bangkit dari kalangan pejuang di seluruh daerah di Pulau Jawa.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Kenapa terjadi di Surabaya?

Prof. Mansur Suryanegara: Inggris memilih Surabaya karena mereka menganggap Surabaya adalah ekor dari pulau Jawa, jadi jika Jakarta adalah kepalanya, maka Surabaya adalah ekornya, dan karena itulah Inggris dan Belanda mencoba menguasai melalui ekor Indonesia, dan gudang senjata Jepang saat itu berada di Surabaya.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Kenapa kalimat Takbir berkumandang?

Prof. Mansur Suryanegara: Mc Ricleaf, sejarawan asal perancis menyebutkan, yang melakukan perlawanan di Surabaya adalah dari kalangan Kiyai dan Santri, maka jika hanya disebut ‘arek-arek Suroboyo’ itu tidak benar, akan tetapi yang bertempur itu bukan hanya dari Surabaya saja, tetapi banyak Kiyai dan Santri dari Bandung, Sukabumi, Banten, Garut dan dari berbagai daerah lain.

Maka saat itu Surabaya dipenuhi Kiyai dan Santri, tentara Inggris kualahan menghadapi semangat santri dan kiai yang menginginkan mati syahid. Dan ibu-ibu pada waktu itu sangat bangga ketika mempunyai anaknya yang syahid. Seketika itu juga kalimat takbir terdengar dimana-mana.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Kenapa kalimat takbir yang dipilih saat pidato Bung Tomo?

Prof. Mansur Suryanegara: Kata M. Natsir, dalam bukunya, ‘kapita selekta’, Bung Tomo mengetahui siapa teman yang baik untuk berjuang melawan penjajah, tidak ada kalimat lain yang bisa menggerakan orang pada waktu itu kecuali kalimat ‘Allohu Akbar’, yaitu orang yang mengerti makna kalimat tersebut adalah para Kiyai dan para santri. Dan kalimat itulah yang dipilih oleh bung tomo, seperti yang ditulis oleh  Mc Ricleaf, dalam bukunya ‘sejarah modern Indonesia’, Surabaya dipenuhi ulama dan santri dari seluruh penjuru daerah, sehingga Inggris kualahan menghadapi semangat juang orang Indonesia.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Darimana saja pejuang tersebut berasal?

Prof. Mansur Suryanegara: Kiyai dan Santri bukan hanya dari Jawa timur, akan tetapi dari Bandung, Tasikmalaya, Garut dan seluruh daerah di  pulau Jawa dan Madura, Kiai memberi semangat juang dan memberikan dorongan untuk syahid, dan seluruh Kiai pada saat itu menyatukan tekad siap jihad fi sabilillah, melawan tiap-tiap penjajahan di Indonesia, Kiai adalah tempat tumpuanpara pejuang berani melawan.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Senjata apa yang dipakai?

Prof. Mansur Suryanegara: Karena kita tidak punya senjata seperti senjata pasukan barat, dan hanya Indonesia mempunyai bambu yang banyak tumbuh disekeliling, maka dipakailah bambu yang diruncingkan untuk alat menjaga diri. Pada waktu itu yang mengusulkan bambu runcing adalah Kiayi Subkhi, Kiyai asal Tarakan Wonosobo.

 

Mi’raj News Agency (MINA): Siapakah yang disebut Pahlawan?

Prof. Mansur Suryanegara: Pahlawan yang resmi itu ada di makam pahlawan, ada juga pahlawan yang berjuang akan tetapi tidak dimakamkan di Makam pahlawan. Dan banyak sekali para pejuang tak dikenal dan ‘non beken’ yang berjuang tanpa pamrih melawan penjajah.

Sebenarnya pahlawan bukan hanya saja yang gugur dimedan perang, orang yang berjuang melawan kebenaran itu juga merupakan pahlawan. Akan tetapi kalau kita batasi peristiwa 10 November, maka Pahlawan adalah orang yang berani menghadapi secara fisik pasukan Inggris dan Belanda, maka pahlawan yang disebut dalam 10 november adalah orang yang secara fisik berjuang angkat senjata melawan tentara inggris dan Belanda yang dimotori oleh Bung Tomo. (L/P015/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply