KELUARGA PENYEJUK JIWA

Oleh : Ali Farkhan Tsani*

Pengantar

Kita semua selaku orang tua tentu senantiasa berharap, berdoa dan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang shalihin dan shalihat, anak-anak yang thaat, anak-anak yang bermanfaat.

Sungguh beruntung rasanya dan amat berbahagialah bagi para orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, mendoakannya setiap selesai shalat, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik kedua orang tua.

Investasi Abadi

Anak yang shalihin-shalihat menjadi investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya. Dari anak-anak yang shalihin-shalihah-lah antara lain orang tua akan mendapat aliran pahala yang abadi.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR Muslim).

Demikianlah pula, kelak pada hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa.

Namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Artinya : “Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR Ahmad).

Bahkan wasiat dan harapan nabi pun demikian, bagaimana anaknya dapat menajdi hamba Allah yang shalih.

Seperti disebutkan di dalam ayat :

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya : “Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2] : 133).

Penyejuk Jiwa

Kita sering berdoa mendambakan keluarga penyejuk jiwa dalam doa :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya :  “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk jiwa (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan [25] : 74).

Salah satu ciri `Ibaadur Rahmaan (hamba-hamba dari Tuhan Yang Pemurah) adalah senantiasa berdoa bermohon kepada Tuhannya agar isteri-isteri (pasangan) mereka dan anak-anak mereka dijadikan sebagai penyedap pandangan mata, penyejuk jiwa, obat jerih payah kelelahan, penghilang segala luka dalam jiwa, serta penawar kekecewaan dalam hidup.

Rasanya, betapapun kita sebagai orang tua gemar beribadah dan hidup teguh beragama, belumlah akan merasakan senang dan bahagia sebelum melihat pasangan hidup kita dan anak-anak kita menuruti apa yang kita harapkan sesuai tuntunan agama Islam. Sebab, demikianlah kehidupan suai-isteri-anak merupakan mata rantai tak terpisahkan, tidak berdiri sendiri-sendiri, nafsi-nafsi.

Apa yang kita minta pada ayat yang Allah tuntunkan tersebut?

(1) Kita minta dianugerahkan isteri-isteri sebagai penyejuk jiwa,

(2) Kita minta dianugerahkan anak keturunan sebagai penyejuk jiwa,

(3) Kita minta dijadikan sebagai pimpinan bagi orang-orang yang bertakwa.

Mengapa kita meminta kepada Allah agar dikaruniai isteri-isteri dan anak keturunan sebagai penyejuk jiwa atau “Qurrota a’yun”? Berarti kita perlu mengetahui makna “Qurrota a’yun” atau penyejuk jiwa.

Makna Penyejuk Jiwa

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu  berkata: “Qurrota a’yun maksudnya adalah keturunan yang mengerjakan ketha’atan, sehingga dengan ketha’atannya itu membahagian orang tuanya di dunia dan akhirat.”

Keturunan yang tha’at pada Allah akan menyenangkan orang tua dengan bakti dan pelayanannya. Akan menyejukkan hati orang tua dan keluarga dengan membacakan dan mengajarkan mereka mentadabburi al-Quran dan as-Sunnah. Keturunan yang taat pada Allah juga lebih bisa diharapkan menjaga keutuhan keluarga di atas agama yang mulia ini dan lebih bisa diharapkan doanya dikabulkan Allah untuk kebaikan orang tua dan keluarga.

Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman, demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya tha’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Imam Qurthubi menjelaskan makna “Qurrata A’yunin” adalah Sesungguhnya jika manusia diberi berkah dalam harta dan anaknya, maka matanya menunjukkan kebahagiaan karena keluarga dan kerabatnya. Sehingga ketika ia mempunyai seorang isteri niscaya berkumpul di dalam dirinya angan-angan kepada istrinya berupa: kecantikan, harga diri, pandangan, dan kewaspadaan.

Jika ia memilki keturunan yang senantiasa menjaga ketha’atan dan membantunya dalam menunaikan tugas-tugas agama dan keduniaan, serta tidak berpaling kepada suami yang lain, dan tidak pula kepada anak yang lain. Sehingga matanya menjadi tenang dan tidak berpaling kepada yang lainnya, maka itulah kebahagiaan mata dan ketenangan jiwa.

Perintah Allah menciptakan generasi penyejuk jiwa :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim [61] : 6).

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata,“Maknanya yaitu ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksaNya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya.” 

Tips Penyejuk Jiwa

Beberapa tips untuk mendapatkan keluarga penyejuk jiwa antara lain :

Pertama, Niat berkeluarga karena Allah

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya :  “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR Bukhari dari Umar bin Khattab).

وَإِنَّك لَنْ تَنْفَقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِيْ فِي امْرَأَتِكَ

Artinya : “Dan tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah yang kamu harapkan dengannya wajah (ridha) Allah kecuali engkau akan diberi pahala atasnya, termasuk  apa yang engkau suapkan ke dalam mulut isterimu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, Contohkan amaliyah kebaikan

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath Thuur [52] : 21).

Artinya : “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan akhlak yang baik.” (HR Al Hakim).

Ada pepatah mengatakan , “Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”

Ketiga, ajarkanlah nilaiIslam

Imam Al-Ghazali di dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan, “Perlu diketahui bahwa mendidik anak-anak merupakan urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Sebabnya karena anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya, dan jiwanya yang sebenarnya masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya.”

Dalam sebuah kisah disebutkan, Seseorang datang kepada Khalifah Umar bin Khattab, dan berkata, “(Wahai Khalifah), Puteraku ini telah durhaka kepadaku!.” Maka Umar mendekati anak lelaki itu seraya berkata, “Apakah kau tidak takut kepada Allah?! Engkau telah berbuat durhaka terhadap ayahmu !  Engkau tahu kewajiban anak untuk orang tuanya !!!……”

Lalu anak itu (balik) bertanya kepada Umar, “Wahai Amirul mu’minin! Apakah anak itu tidak punya hak terhadap ayahnya?” Jawab Umar, “(Ya jelas) ada haknya, yakni harus memilihkan ibu yang baik, jangan sampai tercela, harus memberinya nama yang baik, serta harus mengajari anaknya kitab Allah”. Maka berkatalah anak itu, “Demi Allah! Dia (ayahku) tidak memilihkan untukku ibu (yang baik), dia (ayahku) juga tidak memberikan nama yang baik untukku. Saya malah dinamai ‘kelawar jantan’ dan saya juga tidak diajari kitab Allah, walaupun satu ayat.” Maka (Khalifah) Umar menoleh kepada ayahnya anak itu, seraya  menegurnya, “Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum anakmu durhaka kepadamu!”.

Keempat, saling menasihati

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kta di dalam sabda-sabdanya :

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ

Artinya : “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR Bukhari dan Muslim).

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ

Artinya : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”

Kelima, mengiringi dengan doa

Beberapa contoh doa yang Allah ajarkan untuk kaum muslimin antara lain :

Doa Memohon Keluarga Sakinah

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan [25] : 74).

Doa memohon anak yang shalih

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya : “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih.” (QS Ash-Shaffaat [37] : 100)

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Artinya : “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.” (QS Ali-‘Imran [3] : 38)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya :  “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk jiwa (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan [25] : 74)

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya : “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah (agar aku menjadi orang yang bijaksana) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shaleh”. (QS Asy-Syura [26] : 83).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي   إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepada-Mu, dan sungguh aku adalah termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.” (QS Al-Ahqof [46] : 15).

Semoga kita mendapatkan keluarga penyejuk jiwa dala ridha Allah Subhanahu Wa ta’ala. Amin ya robbal ‘alamin. (R1/R2).

*Penulis, Redaktur Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)

 

Miraj News Agency (MINA)

 

 

Rate this article!

KELUARGA PENYEJUK JIWA,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply