MANAJEMEN ‘ONE MAN SHOW’

Oleh Bahron Ansori*

        STOP, sadari dan lihatlah betapa banyak potensi skill bawahan yang bisa dilejitkan jika seorang pemimpin sadar dan segera mencopot gaya kepemimpinan manajemen “One Man Show.” Sadarilah, setiap kita yang menjadi pemimpin bukanlah seorang pemimpin bisnis yang serba hebat. Kita hanya manusia biasa yang punya banyak kelemahan alias tidak sempurna.

       Mari berfikir demi kemajuan perusahaan yang sedang berjalan. Berfikirlah sejenak, betapa potensi skill, tenaga dan modal tidak akan terhambur sia-sia jika semuanya bisa diarahkan bukan dengan gaya “One Man Show”. Yakinlah, hasilnya akan berbeda, lebih berkembang dan positif.

     Sebagai seorang pemimpin dengan gaya “One Man Show” sebaiknya seorang pemimpin  jangan dulu menyalahkan bawahan, sebab hal yang paling utama dan strategis untuk di evaluasi adalah gaya kepemimpinan Anda. Jika Anda ingin mengembangkan usaha dan bukan sekedar menjalankan usaha, ingin hidup lebih sehat dan bahagia, segeralah tinggalkan konsep kepemimpinan “One Man Show”.

        Ada beberapa alasan mengapa seorang pemimpin itu harus segera meninggalkan gaya kepemimpinan “One Man Show” antara lain sebagai berikut.

           Pertama, Pemimpin dan Perusahaan akan Cepat Kolaps

        Tak selamanya manusia sehat dan kuat. Takdir bisa berbicara lain sehingga seorang pemimpin jatuh sakit dan akhirnya mati. Mati memang rahasia Tuhan, tapi logika itu selalu jelas menunjukkan kepada kita apa yang menjadi penyebab dari kematian itu. Selain faktor kecelakaan, faktor sakit adalah pembunuh yang paling lazim terjadi. Yang menarik adalah sebuah studi yang mengungkap bahwa 70 persen penyakit manusia adalah disebabkan faktor psikosomatik; faktor pikiran dan manajemenya.

        Dengan tetap menerapkan gaya “One Man Show”, seorang pemimpin akan terbebani oleh banyak hal yang merugikan pikiran dan perasaan sendiri. Kelebihan tekanan terhadap psikis pemimpin model ini secara langsung mempengaruhi kinerja jantung, paru-paru, lever, pankreas, ginjal, otak dan berbagai macam pemicu penyakit fisik lainnya. Saat ini bukan gurauan jika statistik berbagai penyakit semakin meningkat tajam, seperti hipertensi, gula darah, stroke, asam urat, lever, dll. Semua penyakit itu akibat beban berlebihan yang di pikul pemimpin bergaya “One Man Show” ini.

          Kembali pada definisi, yang dimaksud “One Man Show” adalah sebuah gaya kepemimpinan yang semuanya harus dilakukan dan dipikirkan seorang diri, serba ingin menguasai segala sesuatunya. Pemimpin dengan gaya ini, akan melibatkan dirinya dari awal hingga akhir. Ia akan mengikuti semua sedetail-detailnya. Gaya ini biasanya diterapkan oleh para pengusaha kecil dan menengah. Mengapa?

         Tentu saja jawabaannya adalah karena pada umumnya pelaku usaha kecil dan menengah tidak cukup memiliki modal dan potensi yang cukup, sehingga semuanya ia kerjakan sendiri; dari mulai perencanaan, pembelian bahan baku, pengolahan, pengawasan, keungan, pembayaan, hingga ke penjualan produknya juga dilakukan oleh si pengusaha itu sendiri. Konsekuensi logis dari gaya ini, tentu lembaga usaha hanya akan berkembang seiring dengan perkembangan ‘kedewasaan’ pengusaha. Jika semangat si pengusaha sedang naik, maka kinerja bisnis akan naik juga. Jika semangat si pekerja sedang lowbat, maka lembaga usaha itu akan juga ikut lowbat.

          Gaya “One Man Show” cenderung membawa seorang pemimpin kepada beban pikiran dan mental yang belebihan.

          Kedua, Tidak Sehat

       Gaya kepemimpinan “One Man Show”, ini tidak saja terbatas kepada praktik pelaksanaan yang semuanya dikendalikan secara langsung, tetapi juga kepada praktik-praktik delegasi yang tanggung-tanggung. Jelas perilaku ini sangat tidak sehat, mengapa?

         Pertama, pemimpin gaya ini akan menderita penyakit; tidak percaya kepada orang lain. Sehingga pemimpin tersebut merasa semuanya memerlukan keterlibatannya dalam pelaksanaannya. Pemimpin dengan gaya “One Man Show” harus menyadari bahwa setiap delegasi pasti memiliki potensi kesalahan. Karena volume kemampuan setiap individu tentu saja berbeda satu dengan yang lainnya.

      Delegasi juga memerlukan penyesuaian dan pengajaran. Seorang pemimpin harus mengakui perbedaan volume kemampuan kerja setiap individu yang berbeda-beda. Seorang pemimpin harus ingat segala-sesuatu memerlukan proses. Jika seseorang melakukan kesalahan karena masih belajar, tentu itu adalah hal yang wajar harus diterima. Bimbinglah mereka seperti seorang ayah membimbing anaknya yang akan belajar naik sepeda. Ia akan jatuh dan menabrak pada awalnya, jika latihan dilanjutkan niscaya suatu saat ia akan mampu naik sepeda dan mengendalikannya tanpa harus khawatir menabrak atau jatuh.

       Kedua, pemimpin dengan gaya “One Man Show” tak disadari sedang membodohi diri sendiri. Mengapa? Karena ia membatasi kemampuanya untuk mengerjakan hal-hal rutin, sederhana dan itu hanya membuang-buang waktu saja. Seharusnya seorang pemimpin bisa mengosongkan setengah dari volume pikirannya agar ia punya kesempatan untuk melihat masa depan dengan lebih kreatif.

      Ketiga, dengan tetap menggunakan gaya “One Man Show”, seorang pemimpin sebenarnya sedang membodohi orang lain. Ia tidak akan pernah ‘menciptakan’ pemimpin-pemimpin baru hasil kaderisasinya yang akan membantu meringankan bebannya. Ia hanya memiliki orang-orang dengan kekuatan otot saja tanpa memanfaatkan sisi otak yang dimiliki. Lihat dan nantikanlah waktunya dimana semua orang hanya akan berusaha untuk menyenangkannya, bukan menguntungkannya.

      Keempat, karena secara teori pemimpin gaya “One Man Show” ini cenderung menjalankan bisnis, maka tingkat keuntungan juga tidak maksimal. Lalu ia akan menjadi semakin pelit dan tidak lagi berorientasi kepada efektifitas kerja.

       Manajemen absolute “One Man Show” sebenarnya hanya efektif diterapkan pada perusahaan pribadi, juga struktur perusahaan tidak begitu kompleks, dan mungkin perusahaan ‘belum dapat’ menjaring kualitas SDM yang terbaik di perusahaannya. Namun dengan berkembangnya perusahaan menjadi sebuah perusahaan partnership yang mengakibatkan semakin kompleksnya struktur perusahaan dan semakin kompleksnya transaksi perusahaan tentu one-man direction menjadi sangat tidak efektif karena hampir tidak mungkin seseorang dapat menangani semua problematika yang ada di perusahaan. Pada saat inilah ia harus mendelegasikan kewenangannya kepada orang-orang yang mempunyai profesionalitas tinggi untuk mencapai keefektifan operasional.

      Kemudian, jika ditinjau dari perilaku dan kompetensi pegawai, perusahaan dengan manajemen “One Man Show” tidak cocok untuk pegawai dengan kompetensi achievement (prestasi) tinggi, karyawan yang memiliki motivasi tinggi untuk berkarya dan berkontribusi yang dituntut ada dalam diri pegawai untuk perusahaan dalam tingkat persaingan tinggi dan lingkungan yang uncertainty. Artinya, pegawai manajemen “One Man Show” ini hanya cocok bagi pegawai dengan kebutuhan direction (arah) yang tinggi dalam istilah yang lain ‘manut-manut’ dan suka ngomong ‘inggih’ (inggih-inggih tapi mboten kepanggih alias ABS).

       Ada satu cerita dari seorang pegawai perusahaan yang bercerita ketika bekerja di sebuah perusahaan dengan sistem One Man Show dinilai sangat menganggung kreatifitas. Semua keputusan harus menunggu karena semua keputusan direksi bahkan staf harus di setujui pejabat yang paling tinggi diperusahan tersebut.

        Manajemen yang terbaik dalam penyelesaian tugas dan pekerjaan dari sebuah perusahaan adalah dengan pendekatan manajemen partnership target atau kinerja bisnis bisa tercapai, ada pemberian otonomi kepada subordinasi atau bawahan sebagai bentuk kepercayaan. Jadi, “One Man Show” bukanlah bentuk manajemen yang baik untuk kemajuan sebuah perusahaan. Apalagi bagi sebuah perusahaan yang baru berdiri. Mengapa? Karena “One Man Show” itu hanya cocok diterapkan pada perusahaan pribadi. (T/R2/E1).

*Redaktur Miraj News Agency (MINA)

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply