MEMBURU RAHMAT ALLAH

Oleh: Rudi Hendrik*

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Huud [11] ayat 118-119).

Rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala adalah suatu nikmat yang begitu besar. Jika seorang hamba telah dirahmati Allah Yang Maha Rahman, maka segala kebutuhan jasmani maupun rohaninya akan terpenuhi, ketenteramannya selalu terjaga, jasmani dan rohaninya akan selalu tenang, damai dan sejuk.

Rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala adalah salah satu tujuan hidup seorang hamba. Dengan rahmat Allah, maka seorang hamba akan mudah masuk surga. Karena itu, bukanlah perkara asing bila banyak Muslimin yang begitu giat dan gigih berburu yang namanya RAHMAT ALLAH. Mereka berusaha mencari rahmat Allah dengan mengamalkan berbagai macam ibadah. Dari dzikir, shalat, shaum, menuntut ilmu, hingga berjihad.

Namun Muslimin yang beramal shaleh dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu:

  1. Muslimin yang beramal shaleh seraya ber-jama’ah (bersatu). Muslimin ini adalah Muslimin yang melaksanakan amal shalehnya di dalam wadah persatuan yang disebut Al-Jama’ah, di bawah naungan sistem kepemimpinan khilafah dengan dituntun dan diawasi oleh seorang Khalifah (pemimpin umat Islam) yang berhukum pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  2. Muslimin yang beramal shaleh tanpa ber-jama’ah (bersatu). Muslimin yang ini, mereka beramal shaleh secara individual atau secara kelompok kecil. Mereka tidak mengetahui atau tidak berada di dalam Al-Jama’ah. Kondisi itu membuat amal shaleh mereka tidak terkontrol benar atau salahnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah sama, Muslimin yang beramal shaleh seraya ber-jama’ah dengan Muslimin yang beramal shaleh tanpa ber-jama’ah? Dan yang manakah yang lebih mendekati perintah Allah Subhana Wa Ta’ala?

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran [3] ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya ber-jama’ah (bersatu) dan janganlah kamu bercerai berai….”

Ternyata Allah memerintahkan agar memegang teguh Islam (beramal shaleh) seraya ber-jama’ah. Melaksanakan perintah Allah dengan sempurna, jelas mengundang rahmat Allah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Jama’ah itu rahmat Allah dan firqah (perpecahan) itu azab.”  (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu).

Beramal shaleh (melaksanakan Islam) seraya ber-jama’ah jelas mendapat rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala. Lalu bagaimana mereka yang beramal shaleh tanpa ber-jama’ah? Allah Yang Maha Tahu lebih mengetahui keadaan mereka. Semoga mereka pun mendapat rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala.

Selain melaksanakan Islam seraya ber-jama’ah, rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala juga dapat dicari pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena Allah Subhana Wa Ta’ala mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai “rahmatan lil ‘alamin” (rahmat bagi semesta alam).

Allah Subhana Wa Ta’ala menunjukkan jalan bagi hamba-hamba-Nya untuk memperoleh rahmat-Nya, yaitu dengan meneladani Rasul-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] ayat 21).

Maka bagi siapa yang mengharapkan rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala dan mengharapkan kedatangan hari Qiyamat, contohlah apa-apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam laksanakan. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pelaksana sempurna dari Al-Qur’an dan itu berarti pelaksana sempurna dari Islam.

Bagi Muslimin yang beramal shaleh hanya menurut hawa nafsunya, semenurut guru-gurunya, semenurut masyarakat sekitar, tanpa mencari tahu kecocokan amal shalehnya di Al-Qur’an dan hadist shahih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka akan jauh dari rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala.

Dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk mendapatkan rahmat Allah adalah beramal shaleh dengan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam jama’ah (kesatuan umat). Ada pun di luar dari itu, urusan dikembalikan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Sebagaimana Allah Subhana Wa Ta’ala jelaskan dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6] ayat 159).

Orang-orang yang beramal shaleh di luar dari kesatuan umat Islam (al-jama’ah), dengan sendirinya mereka akan beramal shaleh di dalam perpecahan. Sebab mereka tidak berada dalam satu kepemimpinan yang hanya ada di dalam al-jama’ah. Urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah.

Perhatikan dan renungkanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini:

“Sesungguhnya Allah itu ridha kepada kamu pada tiga perkara dan benci kepada tiga perkara. Ada pun (3 perkara) yang menjadikan Allah ridha kepada kamu adalah: 1) Hendaklah kamu memperibadati-Nya dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, 2) Hendaklah kamu berpegang teguh dengan tali Allah seraya ber-jama’ah (bersatu) dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bercerai-berai), 3) Dan hendaklah kamu senantiasa menasehati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu (Ulil Amri).” (penggalan HR. Ahmad dengan musnad Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, serta shahih Muslim).

Wallahu ‘alam. (P09).

Mi’raj News Agency (MINA).

*) Penulis adalah wartawan KBI MINA.

 

 

 

Rate this article!

MEMBURU RAHMAT ALLAH,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply