NEGARA ANGGOTA OKI PUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN NEGARA-NEGARA PENDUKUNG AL-QUDS SEBAGAI IBUKOTA ISRAEL

Conakry-Guinea, 21 Muharram 1435/25 November 2013 (MINA) – Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan mengambil langkah tegas agar negara-negara anggotanya memutuskan hubungan diplomatik dengan negara-negara yang mengakui kota tua Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibukota Israel.

Para menteri luar negeri anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan membahas rekomendasi selama pertemuan mereka di Conakry, Guinea untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan negara-negara yang mengakui kota Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibukota Israel atau memindahkan kedutaan mereka ke sana.

“Pertemuan khusus para menteri yang membahas status kota Al-Quds akan berlangsung di sela-sela pertemuan tingkat menteri di Conakry guna membahas aspek-aspek hukum dan internasional yang diperlukan untuk mengekang pelanggaran penjajah Israel di kota Al-Quds,” kata Sekjen OKI Ekmeleddin Ihsanoglu, Sabtu (23/11).

Ihsanoglu menjelaskan, para menteri tersebut akan membahas rekomendasi lain untuk mengkordinasikan upaya Islam di Dewan HAM PBB untuk menggagalkan upaya penjajah Israel menghapus item ketujuh dari agenda dewan yang membahas status hak asasi manusia di wilayah Palestina.

Ihsanoglu juga mengarahkan beberapa isu terkait dengan Mesir, Tunisia, dan Myanmar, lapor AlRay sebagaimana diberitakan Mi’raj News Agency, Senin (25/11).

Sekjen OKI tersebut mengatakan, pentingnya mengadakan pertemuan khusus OKI di Dewan Keamanan PBB dengan menjelaskan bahwa OKI telah menjadi kekuatan lobi penting di PBB pada resolusi yang mendukung penanganan isu-isu penting, dengan demikian dianggap kekuatan penting dalam proses reformasi di PBB.

Ihsanoglu mengungkapkan, OKI telah terbukti dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuannya untuk menangani masalah-masalah penting dalam empat benua, mencetak beberapa prestasi, terutama pada dimensi agama yang muncul sebagai elemen kunci dalam berbagai masalah, konflik dan ketegangan.

Penjajah Israel merebut Al-Quds Timur dari Yordania pada tahun 1967 dan kemudian mencaploknya dalam tindakan yang tidak diakui oleh masyarakat internasional. Penjajah Israel menganggap Kota Al-Quds sebagai ibukota abadi dan tak terpisahkan. Sementara rakyat Palestina ingin menjadikan Al-Quds Timur, rumah bagi sekitar 280.000 warga Palestina, ibukota negara masa depan mereka. (T/P02/P01).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply