PRODUK WISATA SYARIAH, BUKAN SEKEDAR TAMPILAN BUATAN NAMUN NILAI ISLAMI

Jakarta, 22 Muharram 1435/25 November 2013 (MINA) – Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman), utamanya, dan mengembangkan ekonomi domestik, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), mencanangkan program wisata syariah, mengusung tema “Indonesia as Friendly Muslim Destination”.

Program unggulan Kemenparekraf yang diluncurkan pada akhir Oktober 2013 lalu itu, menurut Dirjen Pemasaran Pariwisata, Esthy Reko Astuti bukanlah pariwisata yang hanya menampilkan wisata ziarah atau wisata yang bersifat religi saja.

“Produk pariwisata syariah sebetulnya telah lama diterapkan di beberapa hotel dan restoran di Indonesia. Yaitu dengan cara penyediaan tempat dan alat sholat serta petunjuk arah kiblat di kamar hotel, atau penyajian makanan yang halal serta penyediaan minuman non-alkohol di hotel, kata Esthy Reko Astuti.

Semua itu sebenarnya menunjukkan betapa penyediaan fasilitas dan sarana tersebut termasuk dalam kategori “Muslim Friendly”, atau yang lebih dikenal dengan istilah “Ramah bagi Umat Islam,” ujarnya, laporan situs resmi MUI dilansir Mi’raj News Agency (MINA) pada Senin (25/11).

Sangat Potensial

Pemerintah tambahnya, mengembangkan dan mempromosikan usaha jasa di bidang perhotelan, restoran, dan biro perjalanan wisata untuk meraih potensi pengembangan wisata bagi umat Muslim dunia yang sangat besar.

Terutama dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di kawasan Timur tengah yang perekonomiannya terus berkembang pesat, di tengah kondisi resesi yang melanda kawasan Eropa maupun Amerika.

Pada kesempatan peluncuran tersebut, Komisaris Utama, PT. Sofyan Hotels Tbk, Riyanto Sofyan, mengatakan bahwa operasionalisasi hotel syariah itu bukan berarti hanya diperuntukkan bagi kalangan Muslim saja.

Karena pada prinsipnya, implementasi kaidah syariah itu berarti menyingkirkan hal-hal yang membahayakan bagi kemanusiaan dan lingkungannya dalam produk maupun jasa yang diberikan dan tentu memberikan kebaikan atau kemaslahatan secara umum, sesuai dengan misi Risalah Islamiyah yang bersifat Rahmatan Lil- ‘Alamin.

“Dan ini lebih bernilai substansial, bukan sekedar tampilan yang bersifat artifisial. Seperti dengan dekorasi yang bernuansa budaya Timur Tengah, misalnya,” ujar ketua Umum Asosiasi Hotel & Restoran Syariah Indonesia (AHSIN).

Lebih lanjut, Ketua MUI, Amidhan Shaberah, selaku Keynote Speaker memberikan pencerahan pada peluncuran produk wisata syariah dengan tema “Wonderful Indonesia as Muslim Friendly Destination” tersebut.

Sementara, Amidhan Shaberah menambahkan, Thailand yang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit dunia berkonotasi ‘esek-esek’, juga telah berusaha mengembangkan program wisata dengan nuansa keagamaan yang selaras dengan target Wisman yang mereka bidik dari kawasan negeri-negeri Muslim, tambahnya.

Maka Indonesia sebagai negeri penduduk mayoritas Muslim, semestinya lebih agresif lagi dengan program yang prospektif tersebut, (T/P012/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply