DI TENGAH KRISIS, RELAWAN RS INDONESIA DI GAZA GUNAKAN KAYU BAKAR UNTUK MASAK

Bayt Lahiya, 11 Muharram 1435/15 November 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak di tengah krisis gas, bahan bakar, serta listrik yang melanda jalur Gaza.

Salah satu relawan Abu Fikri mengatakan, dirinya beserta para relawan yang lain menggunakan kayu bakar bekas bahan bangunan RS Indonesia  yang terletak di Utara Gaza itu.

“Kami menggunakan kayu palet, kayu dudukan keramik, atau kayu bekas lainnya yang didapati di sekitar RSI,” terang Abu Fikri kepada Kantor Berita Islam Internasional MINA (Mi’raj News Agency) melalui telepon, Jumat (15/11).

Relawan yang berperan sebagai site manager dalam pembangunan RS Indonesia di Distrik Bayt Lahiya itu menerangkan lebih jauh, di tengah kekurangan bahan pokok di Jalur Gaza akibat penutupan terowongan dan blokade penjajah Israel, para relawan memasak tiga kali sehari dengan menggunakan bahan kayu di lantai dasar (basement) RS Indonesia yang masih dibangun.

“Salah satu relawan yang setiap hari mengatur urusan masak memasak, sudah mulai mempersiapkan bahan untuk dimasak mulai dari pukul dua pagi waktu setempat agar para relawan bisa menikmati sarapan di pagi hari,” tambah Abu Fikri.

Menjelaskan lebih lanjut, Abu Fikri mengatakan, relawan mulai menyiapkan makan siang mereka sejak pukul sepuluh pagi dan makan malam mulai setelah pukul dua siang karena kebutuhan energi yang besar bagi para pekerja keras ini.

Pembangunan RS Indonesia tetap berlanjut

Jalur Gaza mengalami krisis bahan bangunan dan kebutuhan pokok seperti solar yang berpengaruh pada semua sektor kehidupan di satu-satunya daerah di dunia itu yang masih berada dalam penjajahan (Israel).

Kekurangan bahan bakar menyebabkan ribuan sopir menjadi pengangguran, generator listrik mati karena tidak ada solar, serta alat-alat kesehatan di banyak rumah sakit berhenti bekerja.

Relawan yang sudah tiga tahun di Jalur Gaza itu mengatakan, meskipun pembangunan terkendala bahan seperti semen akibat blokade, dia dan timnya terus melakukan pekerjaan sebisa mungkin sehingga rumah sakit bisa cepat rampung.

“Kami tidak berpangku tangan meskipun persediaan semen sudah habis. Kawan-kawan masih melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan bahan itu, seperti penyelesaian tempat parkir, nge-cat, pemasangan sound system, AC, panel utama, dan lain sebagainya,” ujar Abu Fikri.

Abu Fikri menegaskan, penderitaan warga Gaza yang sudah menderita sejak sebelum krisis akibat blokade penjajah Israel dan mengharapkan peran semua pihak, termasuk Indonesia, untuk ikut membantu meringankan beban yang sedang dialami warga di tengah krisis semua sektor itu.

“Kami melihat obat-obatan di sini sudah hampir habis, warga Gaza harus menyeberang ke Mesir untuk berobat, masih di perbatasan saja susah keluar,” terang Abu yang menambahkan, “Saya harap pemerintah Indonesia mampu melakukan diplomasinya untuk membujuk Mesir memudahkan warga yang menyeberangi lewat Rafah.”

Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza.

Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RS Indonesia dijadwalkan selesai akhir tahun 2013 ini.

Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. 

RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P03/P02)

 

Mi’raj News Agency (MINA) 

Leave a Reply