AKTIVIS HAM INGATKAN DERITA MUSLIM ROHINGYA

Jakarta, 7 Safar 1435/10 Desember 2013 (MINA) – Puluhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia pada Hari HAM Sedunia, Selasa (10/12), Jakarta, bertujuan mengingatkan masyarakat Indonesia tentang penderitaan yang dialami muslim Rohingya, Myanmar.

Lembaga Masyarakat Peduli Kemanusiaan Myanmar (MAPMY) bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA) dan Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM), menggelar teaterikal yang menggambarkan pelanggaran HAM berat militer Myanmar terhadap muslim Rohingya.

Dalam pernyataannya, aksi yang didominasi para mahasiswa ini menuntut pemboikotan SEA GAMES Myanmar, menghentikan segala tindakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM di Myanmar, dan memberikan sanksi kepada Pemerintah Myanmar atas pelanggarannya.

“Kondisi hari HAM ini sangat miris, di mana kita semua mengakui dan begitu mengagung-agungkan HAM, tapi di ASEAN, di negara kita sendiri, tidak ada penghargaan terhadap HAM, terhadap Myanmar, khususnya pemerintah Myanmar terhadap Rohingya,” kata Ketua PIARA Heri Aryanto kepada Mi’raj News Agency (MINA).

Myanmar adalah sebuah negara yang mengalami konflik sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Mulai dari konflik etnis hingga konflik yang melibatkan hampir semua warga negaranya, terjadi tanpa ada penyelesaian yang memuaskan kedua belah pihak.

Dalam laporan bulan April 2013, Human Right Watch, organisasi HAM internasional, menyebut Myanmar telah melanggar HAM dengan salah satu tindakannya yaitu pembersihan etnis minoritas Rohingya.

Selain konflik dengan salah satu etnisnya, Myanmar sendiri telah melakukan pelanggaran HAM terhadap hampir seluruh warga negaranya.

Pasal 1-3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia mengatur bahwa setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan keamanan dan hak untuk bebas dari rasa takut.

Pada kesempatan yang sama, Lembaga Advokasi HAM Internasional (LEADHAM Internasional) memperingati Hari HAM Sedunia dengan membagikan setangkai bunga mawar dan stiker yang berisi pesan kepedulian terhadap HAM.

“Kepedulian kita tentang HAM, masih jauh. Wajib bagi kita untuk saling mengasihi, menghormati, menghargai dan peduli tanpa memandang agama, suku,  bahasa, budaya dan tingkat sosial,” kata Yusuf L. Tobing, Ketua LEADHAM Internasional.

“Termasuk pemerintah Indonesia kurang menyadari,” tambahnya. (L/P09/R1).

Mi’raj News Agency (MINA).

Leave a Reply