CINA SERUKAN KETENANGAN DI SUDAN SELATAN

Beijing, 26 Shafar 1435/29 Desember 2013 (MINA) – Kementerian Luar Negeri Cina telah menyerukan ketenangan di Sudan Selatan, mendesak kedua faksi untuk memulai pembicaraan gencatan senjata sesegera mungkin.

Wakil Khusus Cina Urusan Afrika, Zhong Jianhua, menyampaikan hal itu melalui telepon Jumat kepada Menteri Luar Negeri Sudan Selatan Barnaba Marial Benjamin, Al Jazeera melaporkan yang diberitakan Mi’raj News Agency (MINA).

Zhong mendesak kedua faksi di Sudan Selatan untuk memulai pembicaraan gencatan senjata sesegera mungkin.

“Kami sedang bernegosiasi dengan kedua belah pihak dalam konflik dengan berbagai cara,” kata Zhong.

Juru BicaraKementerian Luar Negeri Hua Chunying mengatakan, situasi yang memburuk di negara itu kian memprihatinkan.

“Cina telah mempertahankan komunikasi dan koordinasi dengan Otoritas Antar-Pemerintah dalam Pembangunan (IGAD), Uni Afrika (AU) serta negara-negara Afrika dalam upaya untuk memungkinkan masyarakat internasional memainkan peran positif dalam mengurangi ketegangan di Sudan Selatan,” kata Hua.

Hua mengatakan, Palang Merah Cina telah menawarkan bantuan kemanusiaan darurat kepada rakyat Sudan Selatan. Cina akan terus memberikan bantuan untuk Sudan Selatan.

Zhong menegaskan kembali Cina berharap konflik akan diselesaikan secara damai.

“Pemerintah Cina secara tegas menentang penggunaan kekuatan militer untuk menyelesaikan konflik, terutama ketika hal itu menyebabkan banyak korban. Kami juga percaya bahwa dengan upaya bersama negara-negara Afrika, pihak-pihak terkait akan memecahkan masalah dengan rasional dan cara-cara damai,” kata Zhong.

Sementara itu, para pemimpin pada Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Afrika Timur pada Jumat di ibukota Nairobi, Kenya, mendesak berbagai kelompok di Sudan Selatan mengakhiri kekerasan yang melanda negara itu.

Negara-negara anggota IGAD seperti Kenya, Sudan, Ethiopia, Djibouti, Somalia, Uganda dan Sudan Selatan, mengutuk kekerasan yang sedang berlangsung di Sudan Selatan dan munculnya konflik  “sektarianisme etnis”.

Menteri Luar Negeri Ethiopia Tedros Adhanom mendesak Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan pemimpin pemberontak serta mantan Wakil Presiden Riek Machar untuk memulai pembicaraan pada akhir Desember.

“Jika permusuhan tidak berhenti dalam waktu empat hari dari komunike ini, KTT akan mempertimbangkan untuk mengambil tindakan lebih lanjut,” kata Adhanom.

Namun, masih belum jelas apakah Machar memiliki niat untuk memenuhi seruan gencatan kekerasan.

Negara termuda di dunia itu jatuh ke dalam kekacauan sejak 15 Desember, ketika pemerintah mengatakan tentara yang setia kepada mantan Wakil Presiden Riek Machar melakukan upaya kudeta .

Menurut PBB, kekerasan yang meningkat menyebabkan ratusan kematian dan setidaknya 90.000 orang mengungsi di Sudan Selatan, negara yang  merdeka setelah memisahkan diri dari Sudan pada Juli 2011. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply