FENOMENA PERINGATAN HARI AIDS SEDUNIA DI INDONESIA

*Oleh Widi Kusnadi

Saat Polri kembali menarik peraturannya mengenai pemakaian jilbab bagi polwan, kini masyarakat Indonesia kembali menyaksikan program bagi-bagi kondom gratis yang dilakukan oleh beberapa perusahaan kondom atas restu dari Kementerian Kesehatan RI.

Sejak tahun 1998, tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Peringatan Hari AIDS Sedunia berawal dari Pertemuan Puncak Menteri-menteri Kesehatan dari 148 negara yang tergabung dalam WHO untuk Program Pencegahan AIDS pada 1 Desember 1988 di London, Inggris.

Sampai sekarang, AIDS masih menempati peringkat keempat penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut WHO (2009) jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 33,4 juta jiwa di seluruh dunia.

Tanggal 1-7 Desember 2013,  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan sebuah program dengan tema “Cegah HIV-AIDS Lindungi Pekerja, Keluarga dan Bangsa”. Tema ini diangkat berdasarkan tema dari Organisasi Kesehatan Dunia, WHO “Improving access to prevention, treatmant and care services for adolescents (aged 10-19), a group that continues to be vulnerable despite efforts so far”  artinya meningkatkan pencegahan, pengobatan dan perawatan bagi remaja (usia 10-19), sebagai sebuah kelompok masyarakat yang rentan terhadap Aids.

Sekilas Tentang HIV dan AIDS

HIV merupakan singkatan dari “human immunodeficiency virus“.  HIV merupakan jenis virus yang menghancurkan sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.

Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya karena tidak ada gejala yang tampak segera ketika terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan kelenjar yang menimbulkan efek seperti deman (disertai panas tinggi, gatal-gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan pada limpa), yang dapat terjadi pada saat seroconversion (pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara 6 minggu sampai 8 bulan setelah terjadinya infeksi). Setelah itu, tubuh rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS.

Sedangkan istilah AIDS dipergunakan untuk tahap-tahap infeksi HIV yang lebih lanjut. Sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan atau terapi tertentu. Seberapa cepat HIV bisa berkembang menjadi AIDS? Lamanya dapat bervariasi dari satu individu dengan individu yang lain.

Data Penderita HIV Dan AIDS di Indonesia

Berikut ini adalah data penderita HIV dan Aids di beberapa propinsi di Indonesia yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI pada Juni 2013.

No.

Provinsi

HIV

AIDS

1

Papua

11871

7795

2

Jawa Timur

14285

6900

3

DKI Jakarta

24807

6299

4

Jawa Barat

8161

4131

5

Bali

7073

3344

6

Jawa Tengah

5406

2990

7

Kalimantan Barat

3760

1699

8

Sulawesi Selatan

3178

1547

9

Banten

2764

916

10

Riau

1503

859

11

Sumatera Barat

777

802

12

DI Yogyakarta

1693

782

13

Sulawesi Utara

1881

715

14

Sumatera Utara

7078

515

15

Nusatenggara Timur

1389

496

16

Jambi

512

384

17

Kepulauan Riau

3200

382

18

Nusatenggara Barat

574

379

19

Maluku

1032

355

20

Kalimantan Timur

1957

332

21

Sumatera Selatan

1288

322

22

Bangka Belitung

380

270

23

Lampung

832

242

24

Papua Barat

1965

187

25

Sulawesi Tenggara

139

186

26

Bengkulu

176

160

27

NAD

106

137

28

Kalimantan Selatan

227

134

29

Sulawesi Tengah

226

127

30

Maluku Utara

161

123

31

Kalimantan Tengah

136

93

32

Gorontalo

30

60

33

Sulawesi Barat

33

4

 

Jumlah

108600

43667

Mengenai data terbaru dari Kemenkes soal daerah dengan jumlah penderita AIDS sampai bulan September 2013, menunjukan, persentase infeksi HIV/AIDS tertinggi di laporkan  pada  kelompok  umur 25-49 tahun (73%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (15,1%), dan kelompok umur 15-19 tahun (3,4%). Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.

Sementara itu, persentase AIDS tertinggi pada  kelompok umur 20-29 tahun (34,5%) kelompok umur 30-39 tahun (28,7%), diikuti dengan kelompok umur 40-49 tahun (10,6%). Data lain presentase pengetahuan Komprehensif tentang HIV/AIDS pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 21,28%.

Sedangkan persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (49,8%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (10,4%), dan LSL (Lelaki Seks Lelaki) (9,7%).

Program Pemerintah Melalui Kemenkes

Saat ini, Kementerian Kesehatan telah menekan perkembangan penyakit HIV/AIDS dengan melakukan berbagai upaya yaitu melalui 2 hal utama antara lain:

Pertama, melalui upaya pencegahan yaitu meningkatkan pengetahuan komprehensif tentang HIV–AIDS melalui kampanye Aku Bangka Aku Tahu (ABAT), melaksanakan program pencegahan penularan dari orang tua ke anak (PPIA), menjalankan pencegahan penularan HIV melalui transmisi seksual  dan pelaksanaan program pencegahan dampak buruk akibat napza melalui layanan metadon dan layanan alat suntik steril.

Kedua, melalui pengobatan dengan meningkatkan layanan Infeksi Menular Seksual (IMS) terutama didaerah Hot Spot dan meningkatkan akses testing dan akses pengobatan antiretroviral therapy (ART).

Misi Kondomisasi di Balik Isu AIDS

Jika kita melihat tema yang di angkat oleh Kementerian Kesehatan, maka program bagi-bagi kondom gratis tidak relevan dengan tema di atas. Pencegahan terhadap HIV/AIDS dan upaya perlindungan terhadap keluarga dan bangsa hendaknya dilakukan dengan pemberian edukasi dan ilmu yang benar terhadap bahaya dari penyakit tersebut. Selain itu pendekatan spiritual juga merupakan faktor yang tidak bisa ditinggalkan dalam menangani penyakit masyarakat itu.

Prof. Dr. Dadang Hawari (2002) pernah menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari sejumlah pakar tentang kondom sebagai media penyebaran HIV/AIDS antara lain sebagai berikut:

1. Efektivitas kondom diragukan (Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima, 1993).

2. Virus HIV dapat menembus pori-pori kondom (Penelitian Carey [1992] dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA).

Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali.

Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom (Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995).

Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan (V Cline [1995], profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat).

Kondomisasi (100% kondom) sebagai salah satu butir dari strategi nasional telah ditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini kampanye penggunaan kondom semakin gencar dilakukan melalui berbagai media, dengan berbagai macam slogan yang mendorong penggunaan kondom untuk ‘safe sex’ (seks yang aman) dengan ‘dual protection’ (melindungi dari kehamilan tak diinginkan sekaligus melindungi dari infeksi menular seksual).

Kampanye kondom juga dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mal-mal dan supermarket. Terakhir, demi memperluas cakupan sasaran penggunaan kondom (utamanya para ABG/remaja yang masih segan kalau harus membeli di apotik), telah digagas program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom. Cukup dengan memasukkan 3 koin lima ratus perak, maka akan keluar 3 boks kondom dengan 3 rasa.

Bagaimana hasilnya? Kenyataan berbicara lain, kondomisasi ini bukan hanya terbukti gagal mencegah penyebaran HIV/AIDS, namun malah semakin menyuburkan wabah penyakit HIV/AIDS. Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (USCDC: United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi peringkat no. 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.

Menurut Ketua Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) selaku lembaga yang ditunjuk sebagai sektor utama pelaksana Hari Aids Sedunia (HAS) 2013, Hamid Batubara mengatakan, tahun 2013 ini adalah pertama kalinya swasta ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Pihak Kementerian berharap, sektor swasta bisa lebih luas untuk turut berpartisipasi aktif dalam menanggulangi HIV dan AIDS di Indonesia, khususnya bagi pekerja, termasuk perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Saat ini, kata dia, sudah ada 21 perusahaan yang bergabung di IBCA untuk mendukung program-program pencegahan sekaligus penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan tempat kerja. Melalui HAS, diharapkan semakin banyak perusahaan yang mau bergabung.

Islam Solusi Terbaik  

Islam memberikan tuntunan dalam pengobatan HIV/AIDS yakni secara fisik, psikis, dan sosial. Secara fisik melalui medis dan sejenisnya hingga yang terbaru ARV (AntiRetroviral) secara psikis melalui kesabaran, taubat, taqarrub ilallah (dzikrullah), dan berdoa, sedangkan secara sosial melalui penerimaan dan dukungan penuh masyarakat terutama keluarga.

Media utama penulatan HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang kaaffah (menyeluruh) dan komprehensif, dimana setiap individu Muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial (nizhom ijtima’i/aturan sosial).

Seperti larangan mendekati zina dan berzina itu sendiri, larangan khalwat (beruda-duaan laki perempuan bukan mahram, seperti pacaran), larangan ikhtilat (campur baur laki perempuan), selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat, larangan masuk rumah tanpa izin, larangan bercumbu di depan umum, dll. Sementara itu, kepada pelaku seks bebas, segera dijatuhi hukuman setimpal agar jera dan tidak ditiru masyarakat umumnya. Misal pezina dirajam, pelaku aborsi dipenjara, dll.

Di sisi lain, seks bebas muncul karena maraknya rangsangan-rangsangan syahwat. Untuk itu, segala rangsangan menuju seks bebas harus dihapuskan. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya. Industri hiburan yang menjajakan pornografi dan pornoaksi harus ditutup. Semua harus dikenakan sanksi. Pelaku pornografi dan pornoaksi harus dihukum berat, termasuk perilaku menyimpang seperti homoseksual.

Sementara itu, kepada penderita HIV/Aids, negara harus melakukan pendataan konkret. Negara bisa memaksa pihak-pihak yang dicurigai rentan terinveksi HOV/Aids untuk diperiksa darahnya. Selanjutnya penderita dikarantina, dipisahkan dari interaksi dengan masyarakat umum. Karantina dimaksudkan bukan bentuk diskriminasi, karena negara wajib menjamin hak-hak hidupnya. Bahkan negara wajib menggratiskan biaya pengobatannya, memberinya santunan selama dikarantina, diberikan akses pendidikan, peribadatan, dan keterampilan.

Di sisi lain, negara wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk membiayai penelitian guna menemukan obat HIV/Aids. Dengan demikian, diharapkan penderita bisa disembuhkan.

Negara juga punya kewenangan untuk menghukum pelaku perzinahan sebagaimana Islam telah menggariskan dalam kitabNya. Dalam hal ini, Islam tegas memberikan sanksi kepada siapa saja pelaku kejahatan penyebab utama penyakit masyarakat ini. Adapun bentuk dan jenis hukuman akan diputuskan oleh hakim sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Stigma negatif dan diskriminasi terhadap Penderita HIV-AIDS juga tidak dibenarkan dalam ajaran islam. Menurutnya, diskriminasi terhadap ODHA merupakan bentuk pengingkaran terhadap ajaran islam. Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, KH. Junaidi Hidayat mengatakan, “Islam tidak membenarkan adanya stigma dan diskriminasi dalam kondisi apapun dan kepada siapapun. Mereka harus diperlakukan selayaknya masyarakat umum.”

Sekarang tinggal peran aktif masyarakat, ulama, para pemudai, orang tua, dan organisasi sosial lainnya untuk bergandengan tangan melawan penyebaran virus kutukan tersebut. Membekali anak remaja dan masyarakat dengan iman, ilmu dan pergaulan yang benar menurut agama akan menyelamatkan mereka dari penyakit masyarakat itu. Disinilah peran ulama sebagai penggembala umat yang harus mendapat dukungan dari pemerintah.

Saran Penulis

Melalu tulisan ini, penulis mengajak kepada masyarakat Indonesia untuk tidak menyalahkan salah satu pihak dan menganggap pendapatnya paling benar, namun marilah kita saling menguatkan, saling menasehati, mengunggapkan ide-ide positif untuk bersama membangun negeri ini menjadi lebih baik lagi.

Indonesia memerlukan sumbangan gagasan dan ide brilian yang dapat mengentaskan rakyatnya menuju kesejahteraan, kenyamanan dan kemanan. Oleh karena itu, semua pihak, baik dari pemerintah, ormas, maupun kalangan pengusaha hendaknya saling bahu-membahu, memberikan kontribusi positif demi kemajuan bangsa tercinta.

Mari satukan langkah, fokuskan gerak perjuangan untuk membangun Indonesia tercinta menuju masyarakat adil makmur dan diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.(P04/R2)

*Penulis adalah wartawan kantor berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)

Sumber: – Beberapa tausiah dari Asatidz Pon Pes Al Fatah, Bogor, – depkes.go.id, – OnIslam.net, – Madanionline, – satudunia

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply