HAMAS KECAM KESEPAKATAN MENGHUBUNGKAN LAUT MERAH DENGAN LAUT MATI

Gaza City, 7 Shafar 1435/10 Desember 2013 (MINA) – Gerakan Hamas  di Jalur Gaza, Palestina, menyatakan penolakan  mereka terhadap perjanjian yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mati, menekankan hal tersebut bisa membenarkan penjajahan Israel atas Palestina.

Hamas memperingatkan dampak serius dari perjanjian itu mengingat penjajah Israel melakukan perang terbuka melawan rakyat Palestina dan tempat-tempat sucinya.

Baru-baru ini, Israel, Yordania, dan Otoritas Palestina di Ramallah menandatangani perjanjian Washington yang menghubungkan antara Laut Merah dan Laut Mati.

Para pejabat Israel menggambarkan kesepakatan itu sebagai perkembangan bersejarah yang bisa mencapai impian Herzl (pendiri gerakan Zionisme Internasional), sementara para aktivis lingkungan di daerah jajahan Israel di Palestina memperingatkan dampak serius dari perjanjian itu.

Hamas mengatakan, Otoritas Palestina tidak berhak untuk menyerahkan atau melakukan kompromi pada tanah maupun sumber daya air Palestina untuk kepentingan Israel, menyerukan faksi-faksi Palestina segera menolak perjanjian yang hanya akan memperkuat penjajahan Israel tersebut.

Gerakan perlawanan berbasis Islam itu juga menyerukan Otoritas Palestina di Ramallah untuk tidak mengambil keputusan sepihak yang melanggar konsensus nasional di bawah ilusi perundingan damai dengan entitas Zionis.

Kesepakatan ‘kontroversial’ di Washington

Israel, Yordania, dan Otoritas Palestina menandatangani kesepakatan di kantor pusat Bank Dunia, Washington, pada Senin (9/12) untuk ‘pembagian air’ yang disebut Israel sebagai hal bersejarah untuk mengatasi kebutuhan air.

Pada kesepakatan itu, Yordania  akan menyediakan 50 juta liter kubik air ke permukiman ilegal Yahudi ‘Eliat’, Laut Merah. Sedangkan Israel akan mengirim air dengan jumlah yang sama ke wilayah Yordania utara dari Laut Galile, utara Palestina.

Kesepakatan yang dianggap kontroversial itu juga akan meningkatkan ‘penjualan’ air oleh Israel ke Otoritas Palestina di Ramallah sebesar 20-30 juta meter kubik, meningkat dari total penjualan yang awalnya mencapai 50 juta meter kubik.

Bank Dunia mengatakan, proyek tersebut “dirancang dalam skala terbatas untuk mencapai dua tujuan: menyediakan air baru ke air wilayah kritis itu, dan untuk lebih memahami (di bawah pengawasan ilmiah) konsekuensi dari pencampuran perairan Laut Merah dan Laut Mati.”

Sedangkan aktivis lingkungan Israel, Friends of the Earth Middle East (Mehyar), mengatakan proyek itu berdampak pada masalah yang serius, termasuk penyulingan air laut (mencampurkan air garam dengan air di Laut Mati).

Gidon Bromberg, Direktur Mehyar, mencatat penelitian Bank Dunia sebenarnya telah menemukan bahwa menyatukan air garam Laut Merah bisa merugikan ekosistem rapuh di Laut Mati. “Hal ini juga akan meningkatkan biaya penyatuan air di Aqaba sebesar 30 persen, dan akan menghasilkan protes berlanjut dari kelompok-kelompok lingkungan,” katanya.(T/P03/P02)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply