INTIFADHAH BARU PALESTINA

Oleh : Ali Farkhan Tsani* 

Media Palestina Al-Ray edisi 4 Desember 2013 mengungkap statemen Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza Ismail Haniyyah yang menyebutkan, saat ini Palestina sedang menyiapkan Intifadhah baru melawan arogansi Israel.

Menurut Haniyyah, kejahatan berlarut-larut penjajah Israel terhadap warga Palestina dan penodaan Masjid Al-Aqsha merupakan pemicunya.

Pengusiran dan penggusuran warga di Tepi Barat serta blokade darat, laut dan udara di sepanjang Jalur Gaza turut mempercepat aksi perlawanan tersebut.

Awal Intifadhah

Intifada berasal dari bahasa arab intifadhah, asal kata nafadha artinya gerakan,goncangan,revolusi,berjuang sampai mati, bangun mendadak dari tidur atau dari keadaan tak sadar.

Istilah intifadhah digunakan oleh gerakan perlawanan Islam Hamas (harakah al-muqawwamah al-islamiyyah) dalam melawan penjajahan Israel di Palestina.

Intifadhah Pertama (1987-1993) dikumandangkan awal mula 9 Desember 1987. Seluruh warga  yang ada di Palestina merapatkan barisan, menjadi satu shaf, tua muda, laki-laki dan sebagian perempuan. Banyak media yang menyebut sebagai perlawanan terdahsyat sejak proklamasi sepihak Zionis Israel tahun 1948.

Hebatnya lagi, pada Intifadhah ini, Palestina berperang tanpa persenjataan dan tanpa dibantu negara-negara Arab tetangganya.

Satu-satunya senjata yang kemudian menjadi legenda sampai kini dan dijadikan sebagai salah satu ikon perlawanan adalah batu (intifadhah al-hijarah).

Diperkirakan 1.100 warga Palestina terbunuh dan 164 orang Israel tewas.

Intifadhah Pertama dianggap selesai 13 September 1993, saat Perjanjian Oslo ditandantangani di Gedung Putih AS. PM Israel Yitzhak Rabin dan Ketua PLO (Palestine Liberation Organisation) Yasser Arafat bersalaman disaksikan Presiden AS Bill Clinton.

Namun, belum genap tiga tahun, Perjanjian itu sudah dianggap mati, ditandai kebijakan represif Israel terhadap Palestina yang tak kunjung berhenti.

Terlebih ketika Perdana Menteri Ariel Sharon, menginjakkan kaki kotornya ke Masjid Al-Aqsha tahun 2000. Intifadhah Jilid Kedua pun (2000-2007) serentak meletus, yang kemudian dikenal dengan Intifadhah Al-Aqsha.

Intifadhah Al-Aqsha secara resmi belum dan tidak akan pernah berakhir berakhir. Namun, alih-alih meredam perlawanan para pejuangan pergerakan, disepekatilah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Sharm el-Sheikh tahun 2005 berupa gencatan senjata seluruh pihak terkait di Palestina.

Januari 2006 Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina, dan tokoh Hamas Ismail Haniyyah menjadi Perdana Menteri. Hal ini memicu kemarahan Israel dan Amerika Serikat. Kekerasan pun kembali terjadi. Haniyyah yang terpilih secara demokratis tidak diakui dunia internasional.

Pada Juni 2006 Israel kembali menginvasi Jalur Gaza  dalam Operasi Hujan Musim Panas. Namun pada 26 November 2006 Israel dan kelompok militan Palestina menyetujui gencatan senjata. Pada Mei 2007 kekerasan kembali terjadi, menyusul serangan udara Israel ke Gaza dan gempuran roket Al-Qassam ke Israel.

Korban tewas dari militer dan sipil sepanjang konflik 2000-2007 diperkirakan 4.219 Palestina dan 1.024 Israel.

Tahun 2012 pasukan Israel kembali membombardir Jalur Gaza sepanjang siang malam. Namun, akhirnya Israel kembali meminta gencatan senjata karena tidak sanggup lagi menghadapi roket-roket baru dari Jalur Gaza yang menghujani Tel Aviv. Kala itu seluruh sayap militer bersatu menyerang bersama, dari divisi Hamas, Fatah, Jihad Islami, dan kelompok perjuangan lainnya.

Intifadhah Baru

PM Haniyyah menyatakan, intifadhah baru jilid ketiga kali ini melawan dari segala sektor atas pelanggaran berulang-ulang Israel terhadap hak-hak Palestina.

Haniyyah menggambarkan, keadaan saat ini di Tepi Barat dan di Jalur Gaza hampir sama dengan yang terlihat sebelum Intifadhah Pertama tahun 1987.

“Kini orang-orang Palestina akan melanjutkan perjuangan mereka melalui intifadhah baru ini, sampai penjajah Israel hengkang dari seluruh tanah Palestina,” katanya.

Munis Shafiq, seorang cendekiawan Palestina menyatakan bahwa Intifadhah Palestina saat ini adalah sebuah keharusan.

Dia menekankan bahwa ada indikator kuat kemungkinan pecahnya Intifadhah ini, mengingat kondisi dalam negeri AS yang semakin rapuh dan mulai mengurangi bantuan militer untuk Israel.

“Rakyat Palestina harus mengeksploitasi kelemahan AS ini untuk meluncurkan Intifadhah Ketiga mencapai tujuan kemerdekaan,” ujarnya.

Bukan hanya di Jalur Gaza saja bibit intifadhah baru ini akan bangkit kembali. Pengamat politik Eyad el-Qara mengatakan bibit-bibit intifadhah di Tepi Barat juga mulai membesar. Terlebih dengan maraknya pembangunan pemukiman ilegal, penggusuran dan pengusiran warga Palestina keturuanan Arab Badui, hingga yahudisasi kawasan Masjid Al-Aqsha.

Sementara itu, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Meshaal dalam lawatannya ke Kuala Lumpur 1-4 Desember kemarin mengajak seluruh kekuatan dunia Islam bersatu menghadapi Zionis Israel yang selama ini menjajah Palestina dan menodai Masjid Al-Aqsha.

Menurutnya, semua umat Islam wajib bersatu dan bekerjasama dari berbagai sektor dalam perjuangan suci pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina secara keseluruhan dari penjajahan Israel.

Termasuk di dalamnya penguasaan ilmu pengetahun dan teknologi yang dapat menandingi kekuatan Israel, sebagai bagian penting dari intifadhah.

Dukungan Internasional

Pada bagian lain, Majelis Umum PBB merencanakan untuk menetapkan tahun 2014 sebagai Tahun Solidaritas Internasional untuk RakyatPalestina.

Tahun solidaritas itu untuk lebih menyuarakan aspirasi rakyat Palestina bagi berdirinya negara  Palestina yang independen dan berdaulatpenuh.

Signal-signal intifadhah baru yang dirasakan Haniyyah itu pun semestinya dirasakan pula oleh umat Islam dan dunia pada umumnya.

Sampai tidak ada lagi penjajahan di muka bumi ini karena memang tidak sesuai dengan ajaran agama manapun, perikemanusiaan dan perikeadilan. (R1/R2)

*Ali Farkhan Tsani, Penulis Redaktur Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

INTIFADHAH BARU PALESTINA,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply