KONFERENSI HAIFA DESAK PELUCUTAN NUKLIR ISRAEL

Haifa, 7 Shafar 1435/9 Desember 2013 (MINA) – Konferensi Internasional Haifa untuk Timur Tengah Bebas dari Senjata Pemusnah Massal pada sesi penutupan Sabtu (7/12) malam waktu setempat memberikan rekomendasi, mendesak pelucutan senjata nuklir yang dimiliki Israel.

Konferensi yang diselenggarakan atas prakarsa Institut Emil Touma untuk Studi Palestina dan Israel bekerjasama dengan mantan anggota Parlemen Israel (Knesset) Avraham Burg membicarakan upaya untuk membersihkan Timur Tengah dari senjata pemusnah massal nuklir.

Hadir sebagai peserta utusan beberapa negara, perwakilan organisasi internasional terhadap senjata nuklir dan tokoh-tokoh Israel pendukung gagasan konferensi. Sementara Israel diberitakan menolak berpartisipasi dalam konferensi tersebut, seperti diberitakan Al-Jazeera dan dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Dalam pernyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seorang pejabat Israel, Avraham Burg mengatakan pada konferensi, Israel memiliki senjata nuklir dan kimia.

“Ini harus didiskusikan secara terbuka tentang hal itu,” ujar Burg.

Menurutnya, perlu ada pemamanggilan para anggota Knesset dan organisasi masyarakat sipil serta media di Israel untuk masalah ini.

Sementara itu, Direktur Emil Touma Institut untuk Studi Palestina dan Israel, Issam Makhoul, mengatakan, ia percaya bahwa ide dasar pembuatan kawasan bebas senjata nuklir sekarang sudah matang.

“Satu-satunya cara untuk mencegah masuknya wilayah perlombaan senjata nuklir terletak pada pelucutan senjata nuklir Israel,” katanya.

Makhoul mengatakan, inisiatif mengangkat tema nuklir ini merupakan topik baru yang mungkin tabu untuk dibicarakan Israel.

Anggota Parlemen Jerman Wolfgang Garki dalam ceramahnya menyerukan Israel mengikuti contoh dari Suriah, yang berusaha memusnahkan senjata kimia untuk menjamin perdamaian dan keamanan dunia.

Sementara itu, anggota Parlemen Perancis untuk Partai Komunis, Mathilda Ocarola melancarkan kritik terhadap pemerintah Perancis yang ikut membantuan pembangunan Reaktor Nuklir Dimona milik Israel.

Profesor Uzi Even, mantan anggota Komisi Energi Atom Israel mengatakan, instalasi nuklir Dimona harus ditutup mengingat ancaman yang ditumbulkannya terhadap lingkungan sebab instalasi yang telah menua.

Tahun lalu, sekitar 70 pegawai pembangkit nuklir Dimona menderita kanker dan mengajukan tuntutan hukum terhadap Komisi Energi Atom Israel atas kurangnya langkah-langkah keamanan yang tepat. Para korban mengatakan bahwa kanker akibat tingginya radiasi radioaktif yang ditimbulkan oleh instalasi Dimona. 

Walikota Hiroshima, Tadatoshi Akiba sebelumnya juga meminta Israel untuk bergabung dalam forum terbuka dalam mendukung Timur Tengah dan dunia yang bebas dari senjata nuklir.

Akiba menyerukan kepada Israel untuk melakukan bagian mereka dalam mengubah Timur Tengah menjadi daerah yang bersih dari senjata nuklir untuk kepentingan semua orang.

Penyelenggara konferensi mengungkapkan bahwa Konferensi Haifa akan dilanjutkan tahun depan bertepatan dengan ulang tahun kelimapuluh dari pembangunan reaktor nuklir Israel di Dimona. (T/R1/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply