KETERTARIKAN SISWA HINDU PADA MADRASAH DI INDIA

Oleh: Shaikh Azizur Rahman* 

Berpakaian salwar kameez (pakaian tradisional India) putih dan biru, lalu menerjemahkan sebuah ayat Al-Qur’an dari buku Islam pelajarannya ke dalam bahasa Bengali, bisa membuat lulus seorang siswa Muslim. Tapi hal itu dapat dilakukan oleh Puja Kshetrapal yang berusia 15 tahun.

Namun faktanya, Puja Kshetrapal bersama hampir setengah dari 200 siswa kelas kesepuluh di Madrasah Tinggi Chatuspalli, desa Orgram di negara bagian Bengal Barat, India, adalah beragama Hindu.

“Meskipun disebut madrasah (sekolah Islam), orang-orang di daerah melihatnya seperti sekolah reguler yang baik. Jadi, orang tua saya memilih mengirim saya ke lembaga ini,” kata Puja kepada Al Jazeera.

Anwar Hossain, Kepala Madrasah Orgram yang terletak 125 km utara ibukota negara bagian, Kolkata, mengatakan bahwa sebagian besar kurikulum modern telah membuat lembaga semakin populer dalam masyarakat mayoritas Hindu.

“Orang-orang biasa percaya bahwa madrasah adalah tempat di mana siswa diajarkan hanya pelajaran agama, dan hal itu tidak ada hubungannya dengan pendidikan modern,” kata Hossain.

“Selama beberapa tahun kami telah bekerja untuk mengubah gagasan mereka. Kami mengajar siswa kami semua mata pelajaran umum seperti rekan-rekan mereka yang belajar di sekolah reguler,” katanya.

“Setelah belajar di madrasah kami, anak-anak dapat merencanakan karir mereka dalam bidang pilihan mereka. Ini adalah alasan utama mengapa sekarang lebih 60 persen dari lebih 1.400 siswa di madrasah adalah non-Muslim.”

Bahkan, 11 dari 32 guru di madrasah adalah Hindu, Hossain menambahkan.

Kurikulum Modern

Madrasah biasanya dianggap sebagai satu-satunya sekolah Muslim, di mana anak-anak belajar teologi dan hanya akan berakhir sebagai guru agama atau ulama.

Setelah 11 September, banyak orang di dunia non-Muslim melihat puluhan ribu madrasah Asia Selatan dengan kecurigaan, menganggapnya sebagai tempat berkembang biaknya orang-orang berpaham radikal Islam

Namun dalam beberapa tahun terakhir, hampir 600 madrasah yang diakui pemerintah di Bengal Barat telah memperkenalkan kurikulum sekolah umum, dan non-Muslim belajar di hampir semua madrasah.

Saat ini, sekitar 15 persen dari siswa di madrasah modern negeri adalah non-Muslim. Banyak dari mereka mengharapkan menjadi insinyur, dokter, ilmuwan dan profesional lainnya.

Madrasah Orgram dan madrasah lain di negara bagian itu telah menawarkan kursus modernisasi dalam pelajaran fisika, kimia, biologi, geografi , matematika, ilmu komputer, bahasa Inggris, sastra dan mata pelajaran reguler lainnya.

Studi Islam dan kursus bahasa Arab merupakan bagian kecil dari kurikulum.

Didanai oleh negara, madrasah-madrasah yang sebagian besar terletak di pedesaan Bengal, tanpa dikenakan biaya. Madrasah memberikan seragam sekolah gratis dan makan siang, membuat madrasah sangat menarik bagi siswa dari keluarga miskin dan kelas menengah.

Contoh pelajar Muslim yang belajar di madrasah dan sekarang sukses dalam kariernya, telah memacu banyak keluarga non-Muslim untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah.

“Dalam masyarakat yang didominasi Hindu sampai beberapa waktu lalu, madrasah diidentifikasi hanya sebagai lembaga Muslim. Membawa stigma bagi non-Muslim dan bahkan banyak Muslim untuk menjauh dari madrasah,” kata Dr Khandkar Fariduddin, ahli bedah mata dan alumnus dari madrasah modern.

“Tapi, sekarang mereka tahu bahwa seorang siswa madrasah juga bisa menjadi dokter, insinyur atau profesional yang baik lainnya, mereka menumpahkan hambatan mereka dan mengirim anak-anak mereka ke madrasah modern ini,” katanya.

“Sekarang madrasah modern bagian dari infrastruktur pendidikan utama di Bengal Barat.”

Penghargaan Internasional

Pada tahun 2006, pemerintah federal menunjuk Justice R Sachar Committee untuk merekomendasikan dalam laporan Sosial, Ekonomi dan Status Pendidikan Komunitas Muslim di India, bahwa madrasah di negeri ini perlu dimodernisasi dalam upaya meningkatkan pembangunan di masyarakat terbelakang.

Pada tahun 2007, Bengal Barat menjadi negara bagian pertama yang memulai modernisasi madrasah tradisional dengan dukungan pemerintah federal sebagai bagian dari 15 Point Program Perdana Menteri untuk Minoritas.

Dua tahun kemudian, proses modernisasi madrasah Bengal Barat memperoleh penghargaan internasional.

Madrasah berdasarkan tradisi intelektual yang kuat, yang menarik bagi budaya dan agama-agama lain, dapat membantu membalikkan kesenjangan historis antara Hindu dan Muslim.

Brookings Doha Center yang terletak di Qatar dan disponsori oleh Brookings Institution of Washington, pada tahun 2009 mengidentifikasi madrasah Bengal sebagai model untuk pendidikan modern dan menyarankan kepada Pakistan untuk meniru mereka.

“Madrasah memiliki sejarah mulia yang digunakan dalam memajukan penyebab ilmu pengetahuan dan pembelajaran dalam Islam abad pertengahan, tetapi tradisi itu telah dilupakan di Pakistan karena pendirian teologis yang relatif berpendidikan mengambil alih administrasi yang paling madrasah,” kata peneliti Brookings dalam laporan yang berjudul “Madrasah Pakistan: Kebutuhan Reformasi Internal dan Peran Bantuan Internasional”.

Laporan ini mencatat bahwa di Bengal Barat, madrasah memiliki kualitas pendidikan yang lebih tinggi, sehingga non-Muslim secara aktif mendaftarkan diri mereka di dalamnya.

Presiden Dewan Pendidikan Madrasah Bengal Barat, Mohammad Fazle Rabbi mengatakan bahwa modernisasi madrasah sangat menguntungkan masyarakat dan proses ini akan terus berlanjut.

“Modernisasi madrasah awalnya ditujukan untuk mengekspos peningkatan jumlah anak-anak Muslim untuk pendidikan modern dan memberdayakan masyarakat terbelakang. Tapi madrasah kami telah berakhir membantu Muslim maupun non-Muslim,” kata Rabbi.

“Mereka tidak dipandang sebagai satu-satunya lembaga Muslim yang tidak melayani masyarakat secara keseluruhan.”

Bermamfaat bagi Masyarakat

Ketika pemerintah daerah mulai memperkenalkan kurikulum sekolah umum di Bengal Barat pada tahun 2007, beberapa pemimpin Muslim menolak tindakan pemerintah dengan menyebutnya sebagai serangan terhadap madrasah dan Islam.

Tapi sekarang, beberapa tokoh masyarakat terbuka dalam mendukung modernisasi. Provinsi lainnya seperti Maharashtra, Bihar dan Kerala mulai melakukan pembenahan kurikulum madrasah tradisional mereka.

“Kita tidak bisa mencapai sesuatu yang substansial sampai sistem madrasah yang modern mengikuti tren terbaru dalam sektor pendidikan di seluruh dunia. Jadi, modernisasi berkelanjutan dari madrasah adalah untuk kepentingan masyarakat kita,” kata Presiden Dewan Hukum Personal Wanita Muslim India, Shaista Amber.

“Muslim harus secara aktif mendukung proses reformasi ini, pendidikan madrasah.”

Profesor North Eastern Hill University dan aktivis sosial Prasenjit Biswas mengatakan, pengenalan kurikulum kontemporer ke madrasah sebagai perpaduan antara iman dan sistem pengetahuan modern, terutama ilmu.

“Bersama dengan orang lain, komunitas Muslim diuntungkan sangat besar dari inovasi pendidikan dan kebudayaan yang menarik,” kata Biswas.

“Siswa madrasah yang belajar ilmu akan menempatkan dirinya di perbatasan ilmu alam dan iman sebagai praktek. Hasilnya membuka pikiran terhadap perkembangan baru dan juga mengubah pikiran menjadi terbuka dan tercerahkan menuju suci,” kata Biswas.

“Ini akan menghasilkan kepribadian yang seimbang dan halus yang dapat bernegosiasi antara perbedaan pendekatan dengan berdiri sebagai jembatan antara Islam dan modernitas.”

Menjembatani Kesenjangan Komunal

Menurut Biswas, pelajar non-Muslim yang belajar di madrasah ini memiliki kesempatan khusus untuk mendapatkan paparan Islam serta sistem pengetahuan Barat modern, dan itu menciptakan orientasi positif baru untuk hidup mereka dengan menggabungkan yang terbaik dari pandangan kedua dunia.

“Madrasah berdasarkan tradisi intelektual yang kuat, yang menarik bagi budaya dan agama-agama lain dan dapat membantu membalikkan kesenjangan historis antara Hindu dan Muslim, sebagai akses mudah ke tradisi Islam yang dikombinasikan dengan tradisi lainnya yang akan membangun jembatan antar-budaya dan antar agama,” kata Biswas.

Menyetujui pandangan Biswas, Prince Haldar, seorang siswa Hindu kelas 12 di madrasah Orgram mengatakan, pendidikan madrasah itu telah membantunya lebih memahami Islam dan telah membawa dia lebih dekat dengan umat Islam.

“Sebelum saya datang untuk belajar di madrasah ini, saya diberitahu bahwa Islam adalah agama yang militan dan Muslim tidak bisa menjadi teman Hindu. Saya juga mendengar bahwa umat Islam bias terhadap agama-agama lain,” kata Haldar.

“Tapi sekarang, setelah belajar di madrasah ini selama lima tahun, saya telah menemukan bahwa orang-orang memiliki banyak keyakinan yang salah tentang Islam dan Muslim.” (T/P09/R2/R1). 

Penulis, Jurnalis Muslim di India, diterjemahkan oleh Rudi Hendrik, wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply