MEMORI EMAS MANDELA DENGAN ISLAM DAN MUSLIM

Oleh: Redaksi On-Islam

Jutaan manusia di seluruh dunia mengucapkan selamat tinggal kepada Nelson Rolihlahla Mandela, banyak mata Muslim melihat kembali kepada sejarah, menghidupkan kembali kenangan sejarah panjang interaksi antara Muslim dan pemimpin ikonik dekade terakhir itu.

Berikut ini adalah beberapa peristiwa penting yang menunjukkan tonggak emas yang menyoroti interaksi bersejarah dan hangat Mandela dengan Muslim, yang dikumpulkan oleh Cii Radio pada Jumat 6 Desember 2013.

17 Maret 1992 : Nelson Mandela melakukan kunjungan ke wilayah mayoritas Muslim di Bo Kaap di Cape Town, ibukota Afrika Selatan.

Di sana dia bertemu dengan beberapa tokoh, di antaranya almarhum penulis dan sejarawan Achmat Davids dan almarhum Sheikh Mohammed Nazeem, lalu Presiden Dewan Yudisial Muslim.

24 Maret 1993 : Pesan Idul Fitri kepada Komunitas Muslim dari Presiden African National Congress(ANC) Nelson Mandela.

Dalam pesannya kepada umat Islam, Mandela mengatakan, “Saya selalu sangat melekat pada ucapan Muslim, sehingga saya menyambut Anda dalam nama perdamaian.”

Dia juga memuji komunitas Muslim, yang mendoakan sehingga pengorbanan dan kedisiplinan selama berdirinya bangsa ini berada dalam posisi yang baik.

Dia menyimpulkan dalam pesannya, “Atas nama Komite Eksekutif  Nasional ANC dan seluruh anggota, saya berharap Idul Fitri Anda semua berkah dan Anda memiliki hari yang penuh sukacita.”

9 Mei 1994 : Nelson Mandela menyapa orang-orang dari Cape Town, Grand Parade, pada acara pelantikannya sebagai Presiden Negara.

Dalam pidato pelantikannya, Mandela menyampaikan pidato yang luar biasa yang diakhiri dengan pernyataan, “Kita bisa menghitung di antara mereka orang Afrika, Coloureds, kulit putih, India, Muslim, Kristen, Hindu, Yahudi, semua dari mereka disatukan oleh visi bersama yang lebih baik hidup bagi rakyat negeri ini.”

10 September 1994: Nelson Mandela menerima Penghargaan Perdamaian Sheikh Yusuf dari Federasi Perempuan Muslim.

Nelson Mandela menyampaikan pesannya kepada Sheikh Gabier dan masyarakat Muslim pada perayaan ulang tahun Nabi Muhammad (maulid Nabi):

“Hari ini adalah hari ulang tahun Nabi Muhammad dan pikiran kami akan menyertai Anda dan komunitas Muslim secara keseluruhan, di mana pun di dunia yang memungkinkan, seperti Anda semua berkumpul di berbagai masjid untuk memberi penghormatan kepada pemimpin agama yang unik, yang pengaruhnya terus menyebar ke hampir setiap bagian dari dunia dan kepada setiap bangsa.”

Oktober 1994 : Tokoh Akademisi Ahmed Deedat memiliki pertemuan menarik dengan Mandela (Sebagaimana ditulis Goolam Vahed dalam bukunya “Ahmed Deedat : The Man and His Mission”).

“Pada Oktober 1994, Ahmed Deedat menerima panggilan dari Arab Saudi. Ketika diberitahu bahwa itu adalah Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan yang baru, Deedat bercerita: ‘Pada awalnya saya pikir itu adalah panggilan lelucon, dan tidak menganggap masalah serius. Namun, ketika saya menyadari bahwa itu memang Presiden Negara, saya hampir jatuh dari kursi saya’.”

Mandela yang sedang melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi, mengatakan kepada Deedat bahwa di mana pun dia pergi orang bertanya apakah dia kenal Deedat. Dia menyarankan agar mereka bertemu pada 6 November 1994, selama kunjungan Mandela ke Durban.

Namun pertemuan tersebut tidak terwujud karena Deedat harus bepergian ke luar negeri, tapi dia mengatakan kepada wartawan bahwa dia sangat dihormati dan tersanjung menerima panggilan telepon yang hampir tidak bisa dipercaya dari Presiden.

Kemudian, ketika Ahmed Deedat jatuh sakit, Duta Besar Afrika Selatan membuat pernyataan untuknya:

“Bapak Mandela menyatakan prihatin atas kehidupan warga Afrika Selatan di bagian mana pun di dunia, tetapi kasus Deedat khusus karena dia sangat dihormati, tidak hanya di Afrika Selatan, tapi di dunia, atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam pemberitaan Islam selama lima puluh tahun terakhir.” (Ahmed Deedat : The Man and His Mission, oleh Goolam Vahed, hal. 18)

11 Juli 1997 : Kuliah Presiden Nelson Mandela di Pusat Studi Islam Oxford.

Dalam pidato panjang yang hangat di Islamic Centre di Oxford, Mandela memberikan kuliah penting berjudul, “Pembaruan dan Kebangkitan – Menuju Orde Dunia Baru” di mana dia membahas tentang hubungan Islam dan Muslim di Afrika Selatan serta renungannya sendiri tentang peran agama di Benua Hitam.

“Saya sangat berterima kasih kepada Pusat Kajian Islam Oxford atas undangannya untuk berbagi ide dengan Anda. Ketika da Gama akhirnya mencapai Samudera Hindia, dia menemukan navigator yang jauh lebih kompeten daripada dirinya untuk membimbing ekspedisinya, dan bijaksananya dia mengandalkan mereka dengan cara yang sama yang saya tahu, bahwa saya mengikuti di mana orang lain telah membuka jalan, dan kita adalah satu di antara orang-orang dari siapa kita harus banyak belajar,” kata Mandela.

“Apa yang mendorong saya untuk menambahkan kontribusi saya yang sederhana, adalah komitmen Centre untuk mempromosikan pemahaman, toleransi dan kerjasama sebagai kondisi penting untuk memajukan kesejahteraan semua.”

“Dalam menghadapi kolonialisme Eropa, masyarakat Islam mengambil tempat mereka di sepanjang seluruh spektrum politik resistensi, termasuk perjuangan melawan apartheid.”

30 Januari 1998 : Pidato Presiden Nelson Mandela pada Perayaan Idul Fitri Interkultural

Dalam pidatonya di Johannesburg, Mandela mengucapkan selamat pada Muslim yang merayakan Idul Fitri, merefleksikan akar Islam dalam sejarah Afrika Selatan.

“Afrika telah membuat Islam mereka sendiri, dari awal ketika Raja Kristen Afrika Negus dan Habsyi (Ethiopia) memberikan perlindungan kepada para pengikut Nabi Muhammad. Itu contoh rasa hormat dan titik kerjasama agama yang dapat memainkan peran, dan kepemimpinan spiritual dapat memberikan kontribusi dalam pembaharuan sosial di benua kami,” kata Mandela dalam pidatonya.

“Sekarang Afrika Selatan bebas, hubungan masyarakat Islam yang selalu dimiliki oleh bagian lain benua kami dapat berkembang dan memperkaya bangsa kami tanpa menahan diri atau distorsi. Mereka adalah bagian dari warisan Afrika kita bersama.”

 12 April 2010 : Sheikh Yusuf al-Qaradhawi bertemu Mandela.

Selama kunjungannya ke Afrika Selatan, ulama Muslim terkemuka Sheikh Yusuf al-Qaradhawi bertemu dengan pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela dan memberi hadiah kepadanya sebagian buku-buku yang ditulisnya tentang Islam dan Al-Qur’an.

Qaradhawi memuji pemimpin Afrika Selatan itu sebagai “Pahlawan Afrika”.

Dan Sheikh Aidh al-Qarni mengajak Mandela untuk menerima Islam.

Dalam sebuah suratnya, yang tanggalnya tidak dapat diverifikasi, Sheikh Aidh al-Qarni mengundang Mandela untuk menerima Islam.

“Saya salah satu dari jutaan orang di dunia ini yang telah membaca otobiografi Anda, menyadari perjuangan Anda, mengagumi keberanian Anda dan bertanya-tanya tentang pengorbanan dan pengabdian  yang menjadi prinsip-prinsip Anda, kebebasan Anda dan kebebasan orang-orang Anda,” kata al-Qarni dalam surat itu.

“Karena itu, saya meminta Anda, saya menasihati Anda, dan saya sangat berharap untuk mendengar pernyataan Anda tentang Islam, pernyataan abadi yang lantang dan jelas, ‘Laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasuulullah’ (Tidak ada sesembahan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah). Pada saat itu, semua hamba-hamba Allah SWT, di semua enam benua akan bertepuk tangan untuk Anda, kota suci Makkah akan menghormati Anda, pintu suci Ka’bah akan dibuka untuk Anda, dan mimbar-mimbar dari dunia Islam akan memuji nama Anda dalam pujian yang penuh gejolak yang besar.” (T/P09/R1).

Sumber: On Islam, diterjemahkan oleh Rudi Hendrik, Wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply