MESIR KEMBALI TUTUP RAFAH LIMA HARI BERTURUT-TURUT

Sebelum krisis Mesir, sekitar 1.200 warga Palestina keluar dari perbatasan Rafah per bulan, tapi sekarang hanya sekitar 300 warga yang diizinkan meninggalkan Jalur Gaza melalui Rafah. (Foto: Al-Ray)

Rafah, 14 Shafar 1435/17 Desember 2013 (MINA) – Direktur Jenderal Administrasi Umum Perlintasan Perbatasan Palestina di Jalur Gaza, Maher Abu Sabha menyatakan pemerintah Mesir masih menutup gerbang perbatasan Rafah lima hari berturut-turut.

Abu Sabha mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikutip media Palestina ‘Al-Ray’, Selasa (17/12), komunikasi pemerintah Palestina dengan pemerintah Mesir terus menerus dilakukan untuk membuka Rafah dan memungkinkan pasien dan wisatawan lain untuk melewati perbatasan.

Sebelumnya, pihak Mesir telah membuka gerbang Rafah pada Rabu dan Kamis pekan kemarin dengan pengoperasian paruh waktu pada pukul 09:00-15:00 waktu setempat. Gerbang perbatasan Rafah tersebut beroperasi dengan mengizinkan masuknya warga Palestina ke Mesir yang memerlukan bantuan kemanusiaan.

Abu Sabha melaporkan, 362 orang berhasil menyeberang ke Mesir pada Selasa (10/12), sementara 25 orang diminta pemerintah Mesir untuk kembali tanpa memberikan alasan yang jelas.

Sejak militer menggulingkan Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas dan sah, militer Mesir telah memperketat kontrol atas perbatasan dengan Jalur Gaza.

Pada pekan terakhir, pemerintah Mesir telah berulang kali menutup atau membuka sebagian perbatasan Rafah, satu-satunya cara sekitar 1,8 juta penduduk  Gaza dapat memasuki dunia luar setelah tujuh tahun embargo penjajah Israel terhadap daerah kantong Palestina itu.

Kebijakan tersebut telah menjadikan ribuan orang yang akan keluar dan masuk Jalur Gaza-Mesir terlantar di perbatasan kedua negara itu (Palestina-Mesir).

Pihak militer Mesir juga telah meluncurkan kampanye untuk menghancurkan jaringan terowongan yang menghubungkan Jalur Gaza ke Mesir yang telah menyebabkan kekurangan bahan bakar dan kebutuhan pokok yang selama ini dipasok melalui terowongan tersebut.

Jalur Gaza telah hidup dalam kegelapan paling parah sejak berhentinya pembangkit listrik Gaza pada awal Juli 2013 dengan hanya enam jam menyala dan 12 jam berhenti dari jadual biasanya.

Berhentinya pembangkit listrik di Jalur Gaza akibat keputusan pemerintah Palestina di Ramallah yang memungut pajak atas pengiriman bahan bakar yang dibeli dari Israel untuk menjalankan satu-satunya pembangkit listrik yang mencakup sepertiga dari kebutuhan listrik Jalur Gaza. (T/P02/P04)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply