MESIR PERPANJANG PEMBUKAAN PERBATASAN RAFAH SELAMA DUA HARI

Gerbang Perbatasan Rafah dari wilayah Palestina. (Foto: Al-Ray)

Gaza City, 9 Shafar 1435/12 Desember 2013 (MINA) – Pihak berwenang Mesir memperpanjang pengoperasian perbatasan Rafah selama dua hari.

Direktur Jenderal Administrasi Umum Perlintasan Perbatasan Palestina di Jalur Gaza, Maher Abu Sabha mengatakan, pihak Mesir secara resmi memberitahu dirinya bahwa Rafah dibuka pada Rabu dan Kamis pekan ini.

“Sejauh ini, tiga bus telah diizinkan masuk ke Mesir dari perbatasan Rafah,” kata Sabha sebagaimana dikutip Al-Ray dan diberitakan Mi’raj News Agency (MINA), Kamis (12/12).

Mesir membuka kembali perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza selama tiga hari pada Ahad (8/12) hingga Selasa (10/12) dengan pengoperasian paruh waktu pada pukul 09:00-15:00 waktu setempat.

Abu Sabha melaporkan, sejumlah 362 orang berhasil menyeberang ke Mesir pada Selasa (10/12), sementara 25 orang diminta pemerintah Mesir untuk berbalik arah tanpa mengutip alasan yang jelas.

“Sebanyak 362 orang meninggalkan Jalur Gaza dengan menaiki tiga bus dan 13 ambulans. Sejumlah 234 orang masuk ke wilayah Palestina (Jalur Gaza) pada hari yang sama,” ungkapnya.

Dia menyatakan, pintu perbatasan Rafah tersebut beroperasi dengan mengizinkan masuknya warga Palestina ke Mesir yang memerlukan kebutuhan kemanusiaan.

Dia menambahkan, operasi pembukaan Rafah telah terjadi dalam kecepatan yang lambat karena kerusakan berulang dari jaringan komputer di persimpangan Mesir.

Sejak militer menggulingkan Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas dan sah, militer Mesir telah memperketat kontrol atas perbatasan dengan Jalur Gaza yang terkepung.

Pada pekan terakhir, pemerintah Mesir telah berulang kali menutup atau membuka sebagian perbatasan Rafah, satu-satunya cara sekitar 1,8 juta penduduk Gaza dapat memasuki dunia luar setelah tujuh tahun embargo penjajah Israel terhadap daerah kantong Palestina itu.

Kebijakan tersebut telah menjadikan ribuan orang yang akan keluar dan masuk Jalur Gaza-Mesir terdampar di kedua sisi perbatasan, Al-Resalah melaporkan.

Pihak militer Mesir juga telah meluncurkan kampanye luas untuk menghancurkan jaringan terowongan yang menghubungkan Jalur Gaza ke Mesir, yang telah menyebabkan kekurangan bahan bakar yang parah dan kurangnya kebutuhan pokok yang dipasok ke Jalur Gaza melalui terowongan tersebut.

Jalur Gaza telah hidup dalam kegelapan paling parah sejak berhentinya pembangkit listrik Gaza pada awal Juli 2013 dengan hanya enam jam menyala dan 12 jam berhenti dari jadwal biasanya.

Berhentinya pembangkit listrik di Jalur Gaza akibat keputusan pemerintah Ramallah memungut pajak atas pengiriman bahan bakar yang dibeli dari Israel untuk menjalankan satu-satunya pembangkit listrik yang mencakup sepertiga dari kebutuhan listrik Jalur Gaza. (T/P02/R2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply