MUFTI SAUDI LARANG WARGANYA TERLIBAT KONFLIK SURIAH

Riyadh, 10 Safar 1435 / 13 Desember 2013 ( MINA ) – Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh menyerukan kepada warganya untuk tidak ikut terlibat dalam konflik Suriah dalam menggulingkan Presidennya Bashar al Assad.

“Dengan munculnya banyaknya pihak oposisi di Suriah yang ingin menggulingkan Bashar al Assad, semakin jelas bahwa orientasi mereka bukan lagi perjuangan menyelamatkan rakyat Suriah, tapi sudah berorientasi perebutan kekuasaan,” kata Sheikh Abdul Aziz, Kamis (12/12).

Ulama Saudi itu juga memfatwakan aksi bom bunuh diri yang menewaskan warga sipil sebagai aksi yang tidak dibenarkan dalam agama Islam.

“Membunuh diri sendiri dan orang lain (warga sipil) adalah kejahatan berat dan termasuk dosa besar, ” papar Sheikh Abdulaziz, seperti dilaporkan Aljazeera yang dikutip Mi’raj News Agency ( MINA ).

Perang sipil Suriah yang dimulai pada tahun 2011 merusak hubungan antara kedua Negara (Arab Saudi dan Suriah). Akibat dari peristiwa ini , Arab Saudi menarik delegasinya dari misi penjaga perdamaian Liga Arab di Suriah pada 22 Januari 2012 dan menutup kedutaannya di Damaskus dan memulangkan duta besar Suriah.

Jika kita melihat sejarah, hubungan ekonomi antara Arab Saudi dan Suriah terjalin harmonis sejak 1950. Arab Saudi beberapa kali memberikan bantuan pendanaan beberapa proyek infrastruktur di Suriah.  Namun, hubungan kedua negara sempat terhenti ketika partai baath yang menguasai Suriah berbeda pandangan politik dengan Saudi.

Pada tahun 1972, kedua negara menandatangani perjanjian perdagangan. Saudi mengimpor beberapa produk pertanian dan peternakan dari Suriah. Pada bulan Februari 1991, sebuah komite bersama yang dibentuk oleh Arab Saudi dan Suriah bertujuan memupuk kerja sama ekonomi antara negara-negara Timur Tengah.

Suriah dan Arab Saudi juga menandatangani kesepakatan pada 20 Februari 2001 untuk mendirikan sebuah kawasan perdagangan bebas. Pada Desember 2001, kedua negara dan Yordania menandatangani nota kesepahaman tentang pembangunan link kereta api yang akan digunakan oleh ketiga negara untuk tujuan komersial . Kemudian kedua negara bergabung dalam Greater Arab Free Trade area (GAFTA).

Di tahun 2013 ini, Raja Abdullah telah beberapa kali memerintahkan pengiriman gandum untuk pengungsi Suriah di kamp Zaatari di Yordania.

Tiga ratus truk sarat dengan gandum dikirim untuk pengungsi Suriah di Yordania, kata Badr al-Samhan, manajer regional dari kampanye nasional Saudi untuk rakyat Suriah.

Samhan mengatakan kedutaan Saudi di Yordania telah memulai pertemuan darurat untuk membuka jalan dalam upaya mendistribusikan gandum.

Menteri Dalam Negeri Saudi Pangeran Muhammad Bin Nayif juga memerintahkan pengiriman 2.000 tenda tambahan untuk pengungsi Zaatari setelah banjir besar menghancurkan beberapa tenda di kamp pengungsi beberapa waktu lalu.

Setelah usulan PBB untuk lebih banyak bantuan bagi pengungsi Suriah, Arab Saudi memutuskan untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan mereka kepada 30.000 pengungsi Suriah di Zaatari yang berjuang dengan kondisi memprihatinkan.

Sebelumnya, Saudi membagikan sekitar 10.000 keranjang makanan serta 700 pemanas. Raja Abdullah juga memerintahkan penggelontoran dana sebesar 10 juta dolar untuk pengungsi Suriah di Yordania.

Suhu yang membeku dan adanya bencana banjir yang telah menewaskan sedikitnya 11 jiwa di seluruh wilayah, memperburuk nasib ratusan ribu pengungsi Suriah yang meringkuk di kamp-kamp tenda di Yordania, Turki dan Lebanon.

Lebih dari 600.000 warga Suriah mengungsi kenegara tetangga yang saat ini terkena badai. Banyak pengungsi di Lebanon dan Yordania terpaksa berpindah tempat setelah tenda mereka tergenang banjir.

Sementara itu, di samping bantuan Saudi yang ditawarkan kepada pengungsi di Yordania, Samhan mengatakan bahwa Saudi mengirimkan 10 helikopter yang bergerak untuk membantu pengungsi Suriah di Turki. ( T/P04 /R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply