NEGARA-NEGARA BARAT MENGARAH BANK SYARIAH

Jakarta, 11 Safar 1435/14 Desember 2013 (MINA) – Pakar ekonomi Islam Prof. Muhammad Zilal Hamzah mengatakan, negara-negara Barat sekarang mengarah kepada bank syariah, Sabtu (14/12), Jakarta.

“Sekarang, bank-bank di kawasan Barat, Eropa Barat, Amerika dan Australia, membuka unit usaha syariah, bahkan anak usaha bank syariah,” kata Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bisnis Indonesia itu dalam seminar ekonomi Islam bertema “Institusi Keuangan Islam dan Bank Wakaf Sebagai Alternatif”.

Menurut Profesor, untuk membantu agar hidup umat Islam memberi rahmat, merujuk pada ayat Al-Quran bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, salah satu mediasinya adalah melalui lembaga keuangan syariah.

“Karena Indonesia berhukum tidak berdasarkan Islam, kita harus membuat regulasi atau aturan tentang bank Islam. Berbeda dengan Arab Saudi, semua hukumnya berdasarkan hukum Islam, otomatis lembaga keuangannya pun syariah.”

Ada pun di Indonesia, perbankan syariah mulai berdiri seiring berdirinya Bank Muamalat pada tahun 1991. Meskipun penduduk Islam Indonesia sekitar 90 persen, namun pertumbuhan perbankan syariah lambat, tidak berbeda jauh dengan Turki yang 99 persen warganya juga Muslim. Hal itu disebabkan karena kedua negara ini menganut paham sekuler, menurut Zilal Hamzah.

Data per September 2012, ada 11 Bank Islam dan 24 unit bisnis syariah di Indonesia.

Pada maret 2013, aset bank syariah di indonesia mencapai 209,6 triliun (US $21,08 milyar), meningkat 4,6 persen.

Bertolak belakang dengan India yang penduduk Muslimnya hanya 11 persen, tapi mereka memiliki hampir 300 lembaga keuangan Islam.

Demikian pula dengan Filipina dan Thailand yang penduduk Muslinya adalah minoritas, namun perkembangan lembaga keuangan Islam tumbuh pesat.

Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi negara yang pertumbuhan lembaga keuangan Islamnya pesat.

Saat ini, ada 500 Lembaga Keuangan Islam yang beroperasi di 75 negara.

Namun menurut survey sejumlah lembaga seperti McKinsey, menempatkan Indonesia sebagai raksasa baru perekonomian dunia, dari posisi 16 ke posisi 7 pada 2030. (L/P09/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply