PASUKAN PERANCIS BANTU MILISI KRISTEN DAN LUCUTI MUSLIM BANGUI

Bangui, 16 Safar 1435/18 Desember 2013 (MINA) – Muslim Republik Afrika Tengah menuding pasukan perdamaian Perancis membantu milisi Kristen dan melucuti senjata milik Muslim.

Pasukan penjaga perdamaian Perancis di Bangui, ibu kota Republik Afrika Tengah, pada Selasa (17/12), mengatakan mereka telah melucuti semua pemberontak bersenjata yang kemudian dipertanyakan oleh banyak Muslim.

“Mereka hanya melucuti Muslim,” kata Hassan Haroon, penduduk yang tinggal di lingkungan mayoritas Muslim, lima kilometer dari ibukota.

“Kami menginginkan perdamaian, tapi lihat apa yang orang Kristen lakukan. Mereka menghancurkan beberapa masjid kami, menodai Al-Quran, membunuh wanita hamil, dan anak-anak. Beberapa dari mereka dicincang,” kata Haroon kepada Anadolu Agency yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Yahya Abu Bakr, Muslim lokal lainnya, sependapat dengan Haroon. “Perancis hanya melucuti umat Islam,” tegasnya. “Bagaimana mereka melucuti anti-Balaka?”

Anti-Balaka adalah sebutan untuk milisi Kristen yang berarti “anti-parang”, anti terhadap pasukan Michel Djotodia, gerakan Seleka yang resmi dibubarkan pada September lalu setelah pimpinan mereka menjadi presiden negeri itu.

Sebagian Muslim pergi jauh dan menuduh pasukan Perancis menutup mata terhadap pembunuhan para sahabat mereka. “Kami merasa takut di negara kami sendiri,” keluh Hassan Bashir yang bersikeras bahwa Perancis tidak peduli terhadap Muslim. “Jika seseorang membunuh Muslim, menjarah milik kami, atau menghancurkan masjid, itu tidak mengganggu pasukan Perancis, mereka tidak di sini untuk kami,” tegas Bashir.

Sementara di pangkalan militer Perancis, Komandan Jenderal Francisco Soriano mengatakan bahwa dia menyadari ada kesalahpahaman dalam pasukannya. “Operasi kami tidak parsial,” tegasnya. “Kami mempertimbangkan kedua belah pihak”.

Perancis mengirimkan sekitar 1.600 pasukan penjaga perdamaian di negara itu di bawah mandat PBB untuk memulihkan keamanan dan melindungi warga sipil. Mereka mendirikan pos pemeriksaan di jalan utama ibukota.

Republik Afrika Tengah adalah sebuah negara yang terkurung daratan yang kaya mineral, masuk ke dalam konflik kekerasan di bulan Maret, ketika gerakan perlawanan Seleka yang sebagian besar Muslim, menggulingkan Presiden François Bozize yang beragama Kristen. Bozize sendiri naik tahta sebagai penguasa dalam kudeta 2003. 

Menurut PBB, lebih dari 400.000 orang, hampir sepuluh persen dari populasi 4,6 juta, meninggalkan rumah mereka akibat kekerasan. Ratusan orang tewas dalam kekerasan sektarian antara mantan pejuang Seleka dan milisi Kristen anti-Balaka Bangui dalam beberapa hari terakhir. (T/P09/P01).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply