PRESIDEN PERANCIS TEMUI PIMPINAN OPOSISI SURIAH DAN LEBANON DI SAUDI

Riyadh, 26 Shafar 1435/29 Desember 2013 (MINA) – Presiden Perancis, Francois Hollande tiba di Arab Saudi, Ahad (29/12), untuk bertemu mantan Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri dan pemimpin oposisi Suriah, Ahmed Jarba.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada sumber resmi melaporkan mengenai agenda yang akan dibicarakan.

Namun, Perancis selama ini konsisten mendukung oposisi Suriah dan menentang intervensi Lebanon ke negara itu, Al-Arabiya melaporkan seperti dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Saad-eddine Rafiq Al-Hariri (42) adalah politisi dan mantan Perdana Menteri Lebanon sejak 9 November 2009. Dia merupakan putra kedua dari mantan Perdana Menteri Lebanon, Rafic Hariri. Ia meneruskan kepemimpinan ayahnya di partai perjuangan masa depan (Movement of the Future).

Ahmad Jarba adalah mantan tahanan politik, politisi dan saat ini pemimpin oposisi Suriah menggantikan Moaz al-Khatib. Ia menjadi Presiden Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah sejak 6 Juli 2013. Jarba mengalahkan tiga rivalnya, termasuk Mustafa Sabbagh yang didukung Qatar.

Oktober 2013 lalu, Menteri Pertahanan Perancis berkunjung ke Arab Saudi, Jean-Yves Le Drian berharap Konferensi Jenewa Januari 2014 nanti bisa mengakhiri perang saudara di Suriah.

Perancis melalui Le Drian juga berharap pemerintah Suriah akan bertemu dengan oposisi berujung kesuksesan. Konferensi Jenewa yang digagas Rusia bertujuan untuk menyudahi pertumpahan darah di Suriah akibat perang sipil Suriah.

Dalam kunjungannya, Le Drian melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak di Negeri Kaya Minyak itu termasuk dengan Raja Abdullah. 

Sementara itu, Mantan presiden Amerika Serikat Jimmy Carter mengatakan, konferensi perdamaian Suriah yang dijadwalkan Januari 2014 nanti kecil kemungkinan akan berhasil karena prasyarat-prasyarat yang ditetapkan pemerintah dan oposisi menimbulkan kebuntuan.

Mereka berpendapat perundingan di Jenewa harus didasarkan pemungutan suara yang harus diterima jika dinyatakan bebas dan adil, dan pihak yang menang harus menghormati semua kelompok dan golongan minoritas.

Mereka juga memuji karya utusan perdamaian PBB Kofi Annan dan Lakhdar Brahimi, namun mencatat bahwa diplomat belum mampu untuk menggunakan kemampuan negosiasi mereka karena Suriah belum fokus pada cara untuk saling menyelesaikan perbedaan mereka. (T/P04/P02)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply