RATUSAN AKTIVIS DI LAUT GAZA PROTES BLOKADE ISRAEL

Gaza City, 30 Muharram 1435/3 Desember 2013 (MINA) – Sekitar 200 aktivis warga Palestina dan asing melakukan aksi protes armada di laut Gaza, Senin (2/12), mengajukan gugatan menentang blokade Israel yang terus terjadi di Jalur Gaza.

Koalisi Pemuda Intifadah bersama aktivis internasional, ratusan dari mereka berasal dari Eropa menyelenggarakan aksi solidaritas dengan para nelayan di Gaza sebagaimana diberitakan Middle East Monitor (MEMO), yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Mereka berlayar menggunakan sekitar 20 perahu nelayan dan berlayar hingga enam mil di luar perbatasan yang diberlakukan penjajah Israel pada nelayan Gaza.

Selama protes, mereka mengangkat bendera Palestina dan sejumlah poster slogan-slogan antiblokade  Israel. Beberapa slogan menyerukan masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak dan membantu warga Palestina di Gaza.

“Kami warga Italia turut protes wujud solidaritas kami terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza,” ujar Paolo Janino, aktivis Palestina asal Italia.   

Menurutnya, para aktivis beramai-ramai melemparkan botol berisi pesan ke laut. Pesan berisi panggilan kepada dunia internasional untuk menakan Israel menghentikan blokade yang dilakukan terhadap warga Gaza sejak 2006. 

“Pesan juga berisi tuntutan kepada angkatan laut Israel agar menghentikan pelanggaran sehari-hari mereka terhadap nelayan di Gaza,” tegasnya.

Selama ini nelayan Palestina mengeluh, mereka tidak dapat memenuhi pencaharian ikan di Gaza karena perlakuan Israel yang membatasi mereka hanya boleh berlayar enam mil ke tengah laut.

Dalam konferensi pers sebelum armada berangkat, Koalisi Pemuda Intifadah itu menegaskan, tujuan utama dari protes ini adalah untuk menghapuskan batas enam mil tersebut, karena laut merupakan kebutuhan pencaharian warga.

Lebih dari 1,8 juta warga Palestina di Gaza terkepung di bawah blokade penjajah Israel secara ketat sejak pertengahan 2006. warga juga digempur besar-besaran selama ini. Sekitar 2.000 orang syahid dan lebih dari 5.000 terluka.

Warga Palestina di Gaza menderita kekurangan yang sangat parah dalam semua aspek kehidupannya, termasuk kurangnya air bersih, obat-obatan, bahan bakar dan listrik. Sejak awal November, mereka mengalami krisis listrik cukup parah. Setiap keluarga hanya memiliki waktu untuk mendapatkan listrik antara empat sampai enam jam saja tiap harinya.

Israel juga telah melarang semua bahan bangunan masuk ke Jalur Gaza. Sebelumnya, di bawah kepemimpinan Muhamad Mursi, Mesir sangat membantu meringankan beban akibat blokade itu dengan dibukanya terowongan sebagai jalur penyaluranb makanan, bahan bakar dan bahan pokok lainnya.

Namun, setelah kudeta militer terhadap Mursi Juli lalu, kehidupan berubah menjadi lebih sengsara dan sulit bagi warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza, akibat sebagain besar terowongan dihancurkan pemerintahan kudeta Mesir. (T/P08/R2/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply