RIZAL RAMLI: EKONOMI UMMAT ISLAM HARUS KUAT

Depok, 4 Shafar 1435/7 Desember 2013 (MINA) –  Ketidakberdayaan di bidang ekonomi membuat umat Islam sering menjadi korban sistem dan kebiijakan penguasa yang memiskinkan. Karenanya, umat harus membangun landasan ekonomi yang kuat agar memiliki posisi tawar lebih kuat dibandingkan para politisi dan pembuat kebijakan publik.

“Demokrasi kita yang berkembang sekarang adalah demokrasi prabayar. Hanya dengan Rp 100.000 para politisi membayar suara rakyat. Setelah mereka berkuasa, mereka tidak merasa punya kewajiban untuk menyejahterakan rakyat karena sudah menunaikannya saat kampanye. Ini tidak akan terjadi kalau saja rakyat, khususnya umat Islam yang mayoritas, punya kemampuan ekonomi yang kuat,” papar Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, pada siskusi terbatas di pesantren Al Hikam, Depok, Kamis malam (5/12).

Diskusi yang diselenggarakan atas undangan pengasuh pesantren al Hikam Kyai Hasjim Muzadi ini, juga menghadirkan sejumlah tokoh ummat. Antara lain Ust Yusuf Mansur, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bahtiar Nasir, Sekjen Forum Ummat Islam (FUI) Muhammad al Khoththoth, dan Presiden Laskar Anti Korupsi (LAKI) Pejuang 45 Habib Muhsin Alatas.

Dalam sambutannya Kyai Hasjim mengatakan pada Press rilis diterima MINA (Mi’raj News Agency), sengaja mengundang tokoh-tokoh ummat yang sudah selesai dengan masalah dirinya sendiri. Para tokoh ummat prihatin karena ummat Islam banyak, tapi mayoritas miskin. Ini salahnya dimana? Apakah akibat sistem dan kebijakan pemerintah yang memiskinkan, atau karena tidak ada penggeraknya?

“Ibarat travel, partai politik kan cuma kendaraan. Yang bekerja keras mengisi kendaraan itu adalah para kernet, ya kita ini, para tokoh ummat. Ekonomi ummat harus kuat, agar kita tidak hanya menjadi objek dan kernet saat pemilu. Ummat harus bisa menentukan tokoh dan kebijakan yang akan dibuat,” ujar Kyai Hasjim, mantan Ketua Umum PB NU.

Menurut Rizal Ramli yang juga Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP), sistem dan kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam 9 tahun terakhir ini telah memiskinkan 80% rakyat indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah ummat Islam. Rakyat tidak mengerti mengapa hal ini terjadi. Rakyat hanya heran, mengapa hidup semakin lama semakin susah saja. Harga-harga makin tinggi dan kian tak terjangkau.(T/P010/R2).

 

MINA (Mi’raj News Agency)

 

Leave a Reply