SIAPA YANG MEMUSUHI AMMAR, MAKA DIA DIMUSUHI ALLAH

(Ammar Bin Yasir Bag.2)

Amar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, putera syuhadah Yasir bin Amir dan Sumayyah binti Khayyath, menduduki martabat yang tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam amat sayang kepadanya, beliau sering membanggakannya kepada para sahabat lainnya.

“Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pungungnya!” kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Suatu hari, terjadilah selisih faham antara sahabat Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dengan Ammar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”

Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan dan panglima Islam itu, selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.

Para ahli riwayat melukiskannya perawakan Ammar sebagai seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru. Dia seorang yang sangat pendiam, tidak suka banyak bicara.

Sepak terjangnya di dalam medan pertempuran, Ammar termasuk pejuang militan yang tangguh. Ia senantiasa ikut bergabung bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam semua perjuangan bersenjata seperti Perang Badar, Uhud, Khandak, dan Tabuk. Bahkan, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mendahuluinya ke sisi Allah, ia tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya secara terus menerus.

Saat pasukan kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persi dan Romawi, termasuk kaum murtad, Ammar sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa, selalu berada dibarisan pertama.

Amir Zuhud yang Telinganya Putus

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Ammar bin Yasir adalah tokoh yang sangat perkasa dan kokoh imannya, juga dipilih untuk menjadi wali negeri di Kufah dengan Ibnu Mas’ud sebagai bendaharanya. Kepada penduduknya, Khalifah Umar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu.

Kata Umar dalam suratnya kepada penduduk Kufah:

“Saya kirim kepada tuan-tuan Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai bendahara dan wazir. Keduanya adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar!”

Dalam melaksanakan pemerintahan, Ammar menerapkan suatu sistem yang tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang rakus akan dunia. Pangkat dan jabatannya tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya.

Ibnu Abil Hudzail, salah seorang yang hidup pada masanya di Kufah, bercerita, “Saya melihat Ammar bin Yasir sewaktu menjadi Amir di Kufah membeli sayuran di pasar, lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung dan membawanya pulang.”

Suatu ketika, seorang awam berkata (menghina) kepada Ammar bin Yasir, “Hai, yang telinganya terpotong!” Mendengar omongan orang itu, sang amir yang tidak kelihatan keamirannya, berkata, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah (di jalan Allah).”

Memang, telinga Ammar itu putus dalam perang sabil di Yamamah. Ketika itu, Ammar bin Yasir maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab, sehingga melumpuhkan kekuatan musuh. Ketika gerakan pasukan Muslimin mengendor, pasukan kafirin segera membangkitkan semangatnya dengan seruannya yang bergemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu  menceritakan peristiwa itu sebagai berikut:

“Waktu perang Yamamah, saya melihat Ammar sedang berada di sebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru, ‘Hai kaum Muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari surga? Inilah, saya: Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan!’ Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang dia berperang dengan sangat sengitnya.”

Posisi Ammar di Masa Fitnah

Sementara itu, musuh-musuh Islam yang bergerak di bawah tanah berusaha menebus kekalahannya dimedan tempur dengan jalan meyebarkan fitnah. Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh gerakan atau subversi ini. Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar, membangkitkan minat dan semangat mereka untuk melanjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan apinya disebagian besar negeri-negeri Islam. Gerakan ini menjalar ke Madinah.

Apa yang terjadi pada Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, terjadi pula pada diri Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.  Peristiwa itu menyebabkan syahidnya Utsman dan terbukanya pintu fitnah yang melanda kaum Muslimin.

Sepeninggal Utsman, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu naik sebagai Khalifah. Mu’awiyah bangkit hendak merebut jabatan khalifah dari tangan Ali bin Abi Thalib.  Para sahabat terpecah dua, disamping berpihak kepada Ali, ada juga yang membela Mu’awiyah.

Adapun Ammar bin Yasir, dia berdiri di samping Ali bin Abi Thalib. Bukan karena fanatik, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji, sebab Ali adalah Khalifah kaum Muslimin.

Dengan cahaya pandangan ruhani dan ketulusannya, Ammar dapat mengetahui pemilik hak satu-satunya dalam perselisihan ini. Menurut keyakinannya, tak seorang pun berhak atas hal ini, selain Ali. Oleh karena itu, dia berdiri disampingnya.

Ali radhiyallahu ‘anhu merasa gembira atas sokongan yang diberikan oleh Ammar. Keyakinan Ali adalah bahwa dirinya berada di pihak yang benar kian bertambah, karena dukungan sahabatnya itu.

Kemudian, datanglah saat Perang Shiffin yang mengerikan. Ali menghadapi pekerjaan penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Sementara, Ammar ikut bersamanya. Waktu itu, usianya telah mencapai 93 tahun. Dia bangkit menghunus pedangnya demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus dipertahankan.

Pandangan terhadap pertempuran ini telah lama di maklumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:

“Hai ummat manusia! Marilah kita berangkat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hendak menuntutkan bela Utsman! Demi Allah, maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan bahaya itu, tetapi sebenarnya mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka mengetahui bahwa kebanaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka. Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan pendahulu pemeluk agama Islam.

Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh kaum Muslimin dan diangkat sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang akan mendorong mereka mengikuti kebenaran! Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntut bela kematian Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa!”

Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lalu dikibarkannya tinggi-tinggi di atas kepala sambil berseru, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, saya telah bertempur dengan mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam, dan inilah, saya siap berperang pula dengan mengibarkannya sekarang ini! Demi nyawa saya yang berada dalam tangan-Nya, seandainya mereka menggempur dan menyerbu hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu bahwa kita pasti berada di pihak yang benar, dan mereka di pihak yang batil!”

Orang-orang mengikuti Ammar, mereka percaya kebenaran ucapannya. Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami, “Kami ikut serta dengan Ali radhiyallahu ‘anhu di pertempuran Shiffin, maka saya melihat Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan atau turun ke suatu lembah, para sahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai penji-panji bagi mereka.”

Ammar Syahid di Tangan Pendurhaka

Ammar teringat akan sabda Rasulnya, “Ammar akan dibunuh oleh golongan pendurhaka.”

Ammar merasa peristiwa ini akan mengantarkannya menjadi syahid. Ia menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol dengan gagah berani. Sebelum ia berangkat ke Rafiqul A’la, ia tanamkan pendidikan terakhir tentang keteguhan hati membela kebenaran.

Berita syahidnya Ammar segera tersebar, dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang didengar oleh semua sahabatnya, sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah di masa yang telah jauh sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut.

Maka, sekarang jelaslah, siapa kiranya golongan pendurhaka itu, tidak lain adalah golongan yang membunuh Ammar.

Dengan kenyataan ini semangat dan kepercayaan pengikut-pengikut Ali kian bertambah. Sementara di pihak Mu’awiyah, keraguan mulai menyusup kedalam hati mereka, bahkan sebagian telah bersedia hendak memisahkan diri dan begabung dengan Ali.

Surga Merindukan Ammar

Setelah pemakaman Ammar, beberapa saat kemudian kaum Muslimin berdiri keheran-heranan dikuburnya. Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan, hatinya penuh dengan kegembiraan, tak ubahnya bagi seorang perantau yang merindukan kampung halaman, tiba-tiba dibawa pulang, dan terlontarlah seruan dari mulutnya:

“Hari ini saya akan berjumpa dengan para kekasih tercinta, dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.”

Apakah dia telah mengetahui hari yang mereka janjikan akan dijumpainya? Para sahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya, “Apakah Anda masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan wajahnya berseri-seri lalu bersabda ‘Syurga telah merindukan Ammar’.”

“Benar,” ujar yang lain. “Dan waktu itu, juga disebutnya nama-nama yang lain, di antaranya Ali, Salman dan Bilal.” (P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply