SYAIKH AL-ABBASI : AL-AQSHA DEKAT DI HATI UMAT ISLAM

Safari Dakwah Imam Masjid Al-Aqsha, Dr. Syaikh ‘Ali Omar Al-Abbasi ke Jawa Tengah 

Semarang, 14 Shafar 1435/17 Desember 2013 (MINA) – Ternyata hubungan antara Palestina terutama Masjid Al-Aqsha di kota Al-Quds dengan Jawa Tengah, Indonesia, sudah terjalin sangat lama. Hal itu dirasakan oleh Imam Besar Masjid Al-Aqsha Dr. Syeikh ‘Ali Omar Al-Abbasi saat melakukan pekan safari dakwah dan silaturahim ke warga Jawa Tengah di ibu kota Semarang, 7-10 Shafar 1435 H. / 10-13 Desember 2013 M.

Ulama setempat, tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha, siswa dan ribuan umat Islam menyambut dan memberikan penghormatan atas kehadiran Syaikh Al-Abbasi beserta isterinya Jolen Andrea ke kota lumpia Semarang.

“Sungguh mengagumkan, senang dan sambutan yang membahagiakan dari saudara-saudara sesama muslim di Indonesia, terasa dekat dari Al-Quds Palestina,” ujar Syaikh Al-Abbasi kepada Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jawa Tengah, Nurokhim,MSI., ditemani staf : Al-Farobi, Fikri, Slamet Sofyan, Abdullah Zaini, Abu Ghafar Mulyono, dan lainnya, serta penerjemah Mukhlishin.

Ini merupakan kehadiran kedua Imam Masjid Al-Aqsha itu ke Indonesia, setelah tahun lalu menghadiri Konferensi Internasional Pembebasan Al-Quds dan Palestina (International Conference for Freedom Al-Quds and Palestine) di Bandung, 4-5 Juli 2012.

“Seperti Masjidil Haram di makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Al-Aqsha di Palestina sama pentingnya dan sama-sama wajib dikunjungi oleh umat Islam, termasuk oleh umat muslim Jawa Tengah,” ujar Syaikh Al-Abbasi, yang gemar gurami bakar itu mengawali safari dakwahnya.

Untuk itu, ia ikut mendoakan agar umat Islam Jawa Tengah dapat berziarah ke Masjid Al-Aqsha dan shalat berjamaah di dalamnya, tambahnya, walaupun sebenarnya ia sendiri sedang kurang sehat setelah perjalanan panjang selama di Indonesia, dari Riau dan Lampung.

Kedekatan Sejarah

KedekatanAl-Quds Palestina dengan Jawa Tengah semakin dirasakan Syaikh Al-Abbasi saat ia dikenalkan dengan sejarah Sunan Kudus yang hidup abad ke-15, ratusan tahun lalu.

“Sunan Kudus, salah seorang ulama terkemuka di Indonesia jaman dulu, menurut silsilahnya, masih mempunyai hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad melalui jalur ‘Ali bin Abi Thalib,” kata Nurokhim

Menurutnya, Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina. Ia pernah berjasa mengobati penyakit yang melanda warga Palestina saat di sana. Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestina ia diberi ijazah wilayah (semacam daerah kekuasaan) di Palestina.

Namun Sunan Kudus meminta hadiah tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa, Indonesia. Permohonan itu diterima, dan sekembalinya ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran, Jawa Tengah, tahun 1549, yang ia beri nama Masjid Al-Aqsha Menara Kudus (Masjid Menara Kudus).

“Daerah tersebut pun diganti namanya menjadi kota Kudus, diambil dari nama al-Quds, Palestina,” papar Nurokhim, dalam sambutan Tabligh Akbar bersama Syaikh Al-Abbasi, di lembaga Islam Rumah Dakwah Man Jadda Wajada Grobogan, Jawa Tengah, milik Dr. Agus Siswanto, Kamis (12/12).

Ulama terkemuka Palestina, keturunan Hamzah bin Abdul Muthallib, yang baru saja mengikuti Konferensi Imam Masjid se-Dunia di Pekanbaru, Riau, beberapa waktu lalu itu menyatakan kekagumannya bahwa ternyata bukan hanya kedekatan akidah, namun juga ditunjang kedekatan sejarah antara Indonesia dan Palestina

“Indonesia dan Palestina, sama-sama memiliki daerah bernama Al-Quds dan Kudus. Namun sampai saat ini Al-Quds masih dalam cengkeraman penjajahan Israel. Kewajiban kita untuk membebaskan Al-Quds ,” ujar Syaikh Al-Abbasi, yang juga menyukai sayur kangkung, jus sirsak, jus strawberry dan udang goreng itu.

Hubungan lain antara Indonesia dan Palestina adalah kedekatan madzhab fikih yang banyak digunakan di Indonesia adalah madzhab Syafi’i. Imam Syafi’i kelahiran Gaza, Palestina, imbuh Muthohir Kasib,penceramah setempat.

Tampak hadir pada Pengajian Rutin Selapanan (35 hari sekali), di antara ribuan jamaah, Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) Grobogan Kolonel Jaelani, Ketua MUI Grobogan KH Hamzah, Camat Karangrayung, para kyai, pengasuh pesantren, dan tokoh masyarakat setempat. 

Bersatu dengan Al-Quran

Sebelumnya, Syaikh Al-Abbasi bersilaturahim ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah di Kompleks Masjid Baiturrahman, kota Semarang, diterima Ketua Komisi Fatwa KH Haris Shadaqah beserta staf.

Dalam sambutannya, KH Haris Shadaqah, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Az Zikro Semarang mengatakan, pentingnya persatuan dan kesatuan umat Islam dalam memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

“Kita umat Islam haris introspeksi, betapa pentingnya bersatu, jangan bercerai-berai yang menyebabkan lemahnya umat Islam. Di samping terus melakukan doa dan pendekatan diri kepada Allah,” tambah KH Haris.

Menurutnya, memang problematika umat Islam saat ini sangat kompleks dan memperihatinkan. Mulai dari soal makanan berlebal halal hingga masalah Palestina. Ujian yang menimpa Irak Afghanistan, dan negeri-negeri muslimm lainnya, juga menjadi catatan introspeksi umat Islam, paparnya.

Syaikh ‘Ali Omar Al-Abbasi, yang dijadwalkan berkunjung ke Jabodetabek dan Kupang dalam sambutannya menyatakan, agar umat Islam memperhatikan Masjid Al-Aqsha.

“Masjid Al-Aqsha bukan hanya milik Palestina, tetapi juga milik seluruh umat Islam sedunia, termasuk umat Islam di Indonesia, yang dipersatukan dengan Al-Quran, dengan kalimat Laa ilaaha illallah,” tegasnya.

Berbicara tentang Al-Aqsha dan Al-Quran, Syaikh Al-Abbasi dalam lawatannya ke Lembaga Pendidikan Al-Khoiriyah Semarang, pada Rabu (11/12), sempat menguji hafalan Surat Al-Isra ayat pertama kepada siswa Aliyah Al-Khoiriyah, yang dijawab dengan sempurna. Tampak hadir sekitar 1000 orang terdiri dari pengurus yayasan, asatidz, talamidz, wali murid, dan warga sekitarnya.

Syaikh Al-Abbasi mengatakan bahwa perjuangan pembebasan Al-Aqsha dikuatkan dengan hafalan Al-Quran.

“Islam itu bukan hanya sekedar syahadat di lisan, tapi yang utama adalah amal. Di antara amal yang dicintai Allah adalah membaca Al-Qur’an. Jika mengaku muslim tetapi jarang membaca Al-Qur’an maka diragukan keislamannya,” nasihatnya.

Menurutnya, seorang muslim jika dalam hatinya tidak ada bacaan Al-Quran, maka seperti bangunan yang rusak. Jika bangunan itu rusak, maka tidak ada lagi yang mau melihatnya. Apalagi Allah juga tidak akan melihat orang yang dalam hatinya tidak ada bacaan Al-Quran.

Dalam kunjungannya ke beberapa negara, seperti ketika ia ke India, Pakistan dan Bagladesh, ternyata sejak usia anak-anak sekolah, para orang tua di negeri-negeri tersebut giat mengajak dan menyuruh anak-anaknya hadir ke masjid untuk menghafal Al-Qur’an.

Pada akhir kunjungannya, pengurus Aqsa Working Group (AWG) Jawa Tengah atas nama umat Islam setempat menyerahkan infaq Palestina sejumlah Rp11juta. (L/Nr/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply