UMAT ISLAM JAYA, BILA TEGAKKAN SISTEM KHILAFAH

Jakarta, 11 Shafar 1435/14 Desember 2013 (MINA) – Umat Islam di Indonesia memerlukan perubahan sIstem untuk dapat mencapai kejayaan seperti yang telah dicapai pada jaman Rasulullah dan para sahabatnya.

“Jika umat Islam ingin mencapai kejayaan, yang diperlukan bukan sekedar perubahan secara teknis, tapi kita perlu perubahan secara sistem seperti yang telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, papar Agung Wisnu Wardana, pada acara konferensi Internasional bertema ”The End of Capitalism and the Prospect of Islamic Civilization Under Caliphate” di Jakarta, Sabtu (14/12).

Menurut Wisnu yang menjabat sebagai ketua steering comettee acara itu, umat Islam khususnya di Indonesia disibukkan dengan persoalan-persoalan teknis, namun akar masalah dari semua problematika umat belum tersentuh.

“Masalah korupsi dan lemahnya penanganan sumber daya alam adalah masalah utama dari bangsa Indonesia. Itu semua adalah hasil dari system yang dipakai di negara ini, yaitu demokrasi,” kata Wisnu.

“Kita harus melakukan perubahan besar. Sistem demokrasi sudah tidak layak lagi dipakai di negara ini. Kita harus awali peradaban umat Islam ini dengan system yang pernah dipekai oleh para generasi terbaik, yaitu sistem khilafah,” tambahnya lagi.

“Jika umat Islam kembali ke system yang benar, melakukan perubahan mendasar dalam membangun peradaban ini, saya yakin kita akan berjaya dan bisa mengatasi semua permasalahan umat, atas ijin dan pertolongan Allah SWT,” papar aktifis Hizbut Tahrir Indonesia itu kepada wartawan Mi’raj News Agency (MINA).

“Disini, kita tidak hanya bicara problem saja, tapi juga bicara solusi. Sudah hadir disini para pakar ekonomi, politik, pendidikan dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Kita akan menghasilkan rekomendasi untuk umat Islam dan kita akan sosialisasikan dan terapkan bersama,” tambahnya lagi.

Konferensi tersebut mendiskusikan permasalahan-permasalahan umat dewasa ini, seperti konstelasi politik global, pemerintahan yang baik (good governance), kemajuan ekonomi (economic chalanges), ketahanan pangan dan kesehatan (health and food security), managemen SDA dan energi, wanita dan keluarga (woman and family) serta pendidikan dan science.

Acara tersebut dihadiri oleh 200 perwakilan akademisi dari seluruh wilayah di Indonesia. Hadir juga beberapa akademisi dari Jepang, Inggris, Australia dan Lebanon yang turut memaparkan makalahnya.(L/P04/P012/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply