HANAN ASHRAWI : AKUI ISRAEL SAMA DENGAN AKUI RASISME

Bethlehem, 10 Rabiul Awal 1435/12 Januari 2014 (MINA) – Anggota Komite Eksekutif PLO, Hanan Ashrawi mengatakan, mengakui Israel sebagai negara Yahudi berarti mengakui rasisme yang dilakukan negara itu terhadap rakyat Palestina.

“Sejak 1948, penjajah Israel telah melakukan pengusiran, pembantaian dan sederet kekejaman lain terhadap rakyat Palestina. Sekarang, mereka minta supaya diakui eksistensinya. Itu sama saja dengan mengakui rasisme yang mereka lakukan,”kata Ashrawi kepada wartawan, Sabtu di Bethlehem.

Pejabat teras PLO itu juga menyatakan, sampai saat ini rakya Palestina masih terus saja terdhalimi. Mereka terus diusir dan dirampas haknya. Bahkan penjajah Israel terus menerus melakukan pembangunan pemukiman illegal di atas tanah rakyat Palestina. Hal ini jelas tidak bisa diterima dan masyarakat internasional harus menolaknya.

Menurutnya, pengakuan Israel sebagai negara Yahudi akan membebaskan negara itu  dari dosa-dosanya selama ini. “Mereka (Israel) adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas jutaan pengungsi Palestina yang dipaksa keluar dari kampung halamannya sejak 1948,” katanya. Media Palestina, Maan melaporkan seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA). 

Sementara Itu, mantan anggota parlemen Israel (Knesset), Talab al-Sani mengatakan, pengakuan atas Israel sebagai sebuah negara akan menghapus tanggung jawabnya atas tragedi Nakba (pembantaian rakyat Palestina) pada 15 Mei 1948 sekaligus menghapus hak-hak warga Palestina yang terusir akibat tragedi itu.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, meminta bantuan Raja Yordania dan Arab Saudi untuk mendesak Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengakui Israel sebagai negara Yahudi, guna melicinkan jalan menuju perundingan damai Palestina – Israel.

Surat Kabar Haaretz melaporkan ini berdasarkan keterangan seorang pejabat senior Israel tentang pembicaraan mendadak Kerry dengan kedua raja itu dalam kunjungan empat hari Kerry ke kawasan ini pekan lalu.

Pejabat Israel itu mengatakan, Kerry meminta kedua raja mendukung ikhtiar damai yang sedang dimediasi AS dan masih belum berhasil menjembatani sikap-sikap dasar Palestina dan Israel.

Kerry dikatakan berharap agar ikhtiarnya mendamaikan Palestina dan Israel tidak di-“torpedo” dan perlu memberi bantuan pada Abbas.

Selain itu, pejabat Israel mengatakan, Kerry berharap menerima “respon positif”  dan gagasan dari para menteri luar negeri negara-negara anggota Liga Arab pada pertemuan di Paris dalam beberapa hari mendatang,

Menurut surat kabar Haaretz, masalah besar yang ingin ditembus Kerry utamanya adalah pengakuan negara-negara Arab pada israel, sebab tanpa pengakuan ini, Israel tak mau berunding.

Sementara itu, Menteri Ekonomi Israel, Naftali Bennett memperingatkan, partai-nya akan menarik diri dari koalisi pemerintah Tel Aviv, bila perdana menteri  bersedia berunding dengan Palestina dengan pengakuan pada wilayah Palestina sebelum perang tahun 1967, yang sejak perang itu diduduki Israel.

. (T/P04 /IR / mirajnews.com) 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Leave a Reply