AMNESTI: PENINDASAN HAM DI MESIR MASIH BERLANJUT

London, 21 Rabi’ul Awwal 1435/23 Januari 2014 (MINA) – Pemerintah sementara Mesir menggunakan kekuatan  untuk meredam perbedaan pendapat dan menginjak-injak HAM, lapor Amnesti Internasional  yang berbasis di London merujuk pada peringatan revolusi 25 Januari negara piramid itu.

“Mesir telah menyaksikan serangkaian hantaman terhadap HAM dan aksi kekerasan negara dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya selama tujuh bulan terakhir,” kata Wakil Direktur Amnesti Internasional untuk Timur Tengah dan Afrika Utara Hassiba Hadi Sahraoui  dalam website resminya yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat.

Dalam sebuah laporan yang berjudul “Roadmap pada Penindasan: Pelanggaran Hak Asasi Manusi belum berakhir”, Amnesti menggambarkan kondisi di Mesir  yang masih suram dengan tidak adanya hak dan kebebasan sejak militer menggulingkan presiden Muhamad Mursi.

Setelah kudeta, Mesir  nampaknya  “memberangus” kebebasan berekspresi rakyat, kata Sahraoui menyinggung hukum demonstrasi baru di Mesir yang dianggap menghilangkan hak untuk berekspresi.  Dia juga mengatakan Mesir juga telah memberikan kekuatan berlebihan untuk pasukan keamanan sehingga mereka bisa berbuat di atas hukum terhadap rakyat dan tidak diadili karenanya.

“Dengan langkah-langkah tersebut, Mesir seperti kembali  mundur pada jalan penindasan dan pertentangan. Kecuali pihak berwenang mengubah arah dan mengambil langkah-langkah konkret untuk menunjukkan mereka menghormati hak asasi manusia dan aturan hukum, dimulai dengan pembebasan segera dan tanpa syarat para tahanan (aktivis di penjara Mesir),”  tegas Sahraoui.

Dalam pidato akhir pekan lalu Presiden sementara Mesir Adly Mansour  menjelaskan konstitusi baru Mesir membuka jalan menuju negara yang menghormati “kebebasan, demokrasi dan HAM”.

“Pada kenyataannya, keadaan saat hak asasi manusia (di Mesir) dalam kondisi buruk bukan kepalang. Pemerintah Mesir akan dinilai oleh tindakannya bukan kata-kata nya,”  tegasnya Sahraoui mengomentari pernyataan Mansour.

Dalam beberapa bulan terakhir,  kekerasan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya meningkat di Mesir, kata pernyataan Amnesti melanjutkan, dengan pasukan keamanan melakukan pelanggaran HAM berat, secara rutin menggunakan  kekuatan mereka berlebihan, termasuk kekerasan terhadap demonstran oposisi dan pada demonstrasi di kampus universitas.

Sejak 3 Juli 2013, 1.400 orang tewas  dalam berbagai kekerasan politik, sebagian besar dari mereka yang tewas akibat kekuatan berlebihan yang digunakan pasukan keamanan. Tidak ada investigasi yang dilakukan  terhadap kematian lebih dari 500 pendukung Mursi ketika  aparat keamanan membubarkan aksi  protes damai di Rabaa al-Adawiyah pada Agustus 2013. Tidak satu pun anggota pasukan keamanan didakwa sehubungan dengan insiden pertumpahan darah pada skala belum pernah terjadi sebelumnya.(T/P03/E02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Leave a Reply