BELAJAR DARI BUYA HAMKA

Oleh Bahron Ansori*

Mungkin banyak dari kita tidak mengenal sosok Buya Hamka. Buya Hamka adalah seorang wartawan, sastrawan, politikus sekaligus ulama besar. HAMKA sendiri merupakan singkatan dari namanya yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sedangkan Buya adalah panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Profesor Doktor Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir pada tanggal 8 Februari 1908 di Maninjau, Sumatra Barat. Meski bergelar profesor doktor, namun sekolahnya hanya sampai kelas 5 SD. Gelar Profesor ia dapatkan dari Universitas Mustopo Jakarta, sedangkan gelar Doktor Honoris Kausa diperolehnya dari dua universitas besar yakni Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Ketiga gelar kehormatan tersebut memperlihatkan betapa keilmuannya diakui oleh dunia meski hanya mengenyam bangku sekolah formal tidak lebih dari lima tahun saja. Namun panggilan populer beliau adalah “Buya” yang di Minangkabau berarti orang yang dianggap ilmu agamanya tinggi.

Diawali dengan bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958.

Setelah itu, ia diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, ia menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi ia meletakkan jabatan itu ketika Sukarno memintanya memilih antara menjadi pegawai negeri atau aktif dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi ia kemudiannya mengundurkan diri tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Selain politikus, ia juga seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.

Betapa banyak karya Hamka yang bisa dinikmati anak negeri ini hingga sekarang. Karya-karyanya cukup banyak seperti buku ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura antara lain seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck(1937), Di Bawah Lindungan Ka’bah(1936), dan Merantau ke Deli(1940). Bahkan novel Di bawah Lindungan Ka’bah saat ini telah diangkat ke layar lebar. Hamka menjadi salah satu orang Indonensia yang di cintai oleh warga Malaysia, hingga museum tentang Hamka 90%nya dibiayai oleh Malaysia.

Keistimewaan HAMKA

Sebagai seorang sastrawan, produktivitas Buya Hamka dalam menulis sangat tinggi. Seperti diketahui generasi sastra Indonesia dapat digolongkan kepada empat angkatan yakni Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan 66. Biasanya seorang penulis sastra Indonesia hanya bisa di golongkan kepada era sastra tertentu saja. Misalnya Khairil Anwar termasuk Angkatan 45, Taufik Ismail Angkatan 66. Namun Buya Hamka masuk ke dalam semua angkatan karena ia sudah produktif menulis sejak berusia 17 tahun.

Tulisannya tidak saja dalam bentuk novel populer namun juga buku sejarah Islam terutama sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Contoh salah satu karyanya berjudul Sejarah Umat Islam yang diterbitkan hingga empat edisi. Topik mengenai Islam mendominasi semua tulisannya karena ia menjadikan bacaan sebagai media dakwah yang sangat efektif ketika itu. Ia juga dikenal sebagai seorang wartawan yang membidani lahirnya majalah Islam “Panji Masyarakat”.

Karya monumental lainnya yang hingga kini masih menjadi salah satu rujukan umat Islam adalah Tafsir Al Azhar. Tafsir Al Azhar merupakan tafsir Al Quran 30 juz yang sangat berpengaruh dalam sejarah penafsiran Al Quran di Indonesia hingga kini. Karya luar biasa itu ditulis dan diselesaikannya saat ia masih dalam penjara.  Meski di penjara, Hamka tidak pernah berhenti menulis. Baginya, menulis seolah menjadi darah daging yang tak bisa ditinggalkan.

Sebagai seorang ulama, kiprah Buya Hamka begitu terasa di hati umat Islam Indonesia. Ia, pernah dipilih menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1975. Jauh sebelum terpilih menjadi ketua MUI, ia sudah terbiasa memberi ceramah dengan bahasa yang mudah dimengerti; menyejukkan dan menggugah pendengarnya. Pada tahun 80an ceramahnya pernah sering ditayangkan TVRI dalam acara Mimbar Agama Islam.

Buya Hamka wafat pada tanggal 17 Juli 1981 di usia 73 tahun. Kepergiannya sungguh membuat pilu negeri ini, karena ia merupakan aset dan tokoh besar yang tak ada duanya. Keteladanannya, sungguh tak  bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Yang harus diteladani darinya oleh generasi hari ini adalah sejiwanya kata dan perbuatan, kesederhanaannya, meski ia seorang ulama besar, Keberanian dan ketegasannya terhadap penguasa demi kebenaran.

Keberaniannya tidak saja di era Sukarno. Di zaman Suharto pun Buya Hamka pernah menunjukkan keberaniannya. Saat itu, MUI mengeluarkan fatwa tidak dibolehkannya seorang Muslim merayakan Natal bersama. Fatwa ini tidak sesuai dengan kepentingan penguasa saat itu, sehingga MUI diminta merevisinya. Namun, Buya Hamka menolak tegas dan ia memilih mengundurkan diri menjadi ketua umum MUI daripada harus mengikuti kemauan penguasa saat itu. Bagaimana dengan para ulama hari ini?

Sosok buya Hamka menjadi sangat istimewa karena peranannya dalam sejarah Indonesia yang begitu penting. Tak heran pada tanggal 8 November 2011 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar pahlawan kepada Prof. Dr. Hamka. Seorang tokoh besar Indonesia abad ini. Semoga kita berkenan untuk senantiasa belajar dari sosok HAMKA.(R2/E1).

*Redaktur MINA

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Rate this article!

BELAJAR DARI BUYA HAMKA,5 / 5 ( 1votes )

One Response

Leave a Reply