BERJILBAB TETAP BERPRESTASI DUNIA

Oleh Ali Farkhan Tsani

Redaktur Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Berjilbab bukan alasan untuk tidak berprestasi, nyatanya, beberapa Muslimat berjilbab tetap dapat berprestasi hingga tingkat dunia.

Sebut saja Kulsoom Abdullah (37) atlet angkat berat dari Amerika Serikat (AS) ini tetap mengenakan jilbab dalam pertandingan olimpiade.

Awalnya, ia tidak diperbolehkan mengikuti pertandingan resmi di AS maupun tingkat dunia. Tetapi karena memang prestasinya terbilang luar biasa, maka kemudian pada 2011 Federasi Angkat Besi Internasional IWF(the International Weightlifting Federation) menyetujui peraturan baru untuk memberikan pilihan bagi wanita yang ingin menutupi lengan dan kaki, dengan busana Muslimah khusus untuk olah raga seperti Kulsoom.

Kulsoom, wanita kelahiran Pakistan itu, ingin membuktikan kepada dunia bahwa wanita berjilbab dapat pula berprestasi di bidang olahraga.

Atlet peraih gelar doktor di bidang teknik komputer tersebut, tercatat dalam sejarah sebagai wanita pertama atlet besi AS berjilbab yang mengikuti kejuaraan nasional di AS. Ia terjun pada kelas angkat besi 48 kg.

“Saya sangat senang dapat bersaing dengan tetap memakai jilbab, dan saya benar-benar berterima kasih atas dukungan masyarakat,” katanya dalam wawancara dengan Dailymail beberapa waktu lalu.

Kulsoom mencoba mengangkat kesadaran banyak pihak dan berharap pemakaian jilbab juga diperbolehkan pada olahraga lain.

Kini, Kulsoom sedang giat berlatih agar bisa masuk dalam daftar peserta Olimpiade 2016 mendatang. Apalagi, dari Komite Olimpiade AS dan Dewan Hubungan AS-Islam juga sudah mendukung penggunaan jilbab bagi atlet.

Tidak kalah ekstremnya olahraga yang digeluti wanita berjilbab adalah yang ditekuni oleh atlet Indonesia, Agung Etty Hendrawati (38). Ia adalah atlet panjat dinding tingkat internasional.

Etty, kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta, pada 11 Mei 1975 itu, adalah juara pertama Kompetisi Internasional ESPN X Games tahun 2000, empat gelar medali emas PON, dan puluhan gelar juara di berbagai kompetisi nasional dan internasional (Singapura, Thailand, Cina, dan Malay­sia).

Prestasi paling mengesankan baginya ketika mengikuti lomba tingkat dunia yang diselenggarakan oleh UIAA (United International Association Alpens) tahun 1995.

Waktu itu, Etty mengikuti cabang speed climbing atau adu cepat meman­jat. Dia mendapat juara pertama, setelah berhasil memanjat dinding setinggi 18 meter dengan catatan waktu 17,39 detik.

Perem­puan ramah yang tetap berjilbab ini berpesan pada kawula muda, terutama generai pemudi untuk serius me­nekuninya bidangnya masing-masing hingga benar-benar berprestasi.

Militer dan Akademisi

Di luar bidang olahraga, ada dua bidang lain yang memiliki wanita-wanita berjilbab dengan prestasi membanggakan.

Sebut saja Ayesha Farook (26), wanita Militer Pertama Pilot Jet Tempur Berjilbab.

Ayesha, pilot Muslimah pertama Angkatan Udara Pakistan, merupakan salah satu dari 19 perempuan yang telah menjadi pilot di Angkatan Udara Pakistan selama dekade terakhir.

Dengan keahliannya, ia dengan tangkasnya mengemudikan jet tempur jenis F-7PG dari bandara militer Mushaf, Sargoda, Pakistan Utara. Lalu mengudara dengan aksinya, tidak kalah dengan pilot lainnya, termasuk dengan pilot laki-laki.

Sedangkan di bidang akademisi, bidang kedokteran, muncul nama Eqbal Asa’d (20). Asa’d adalah seorang gadis berjilbab asal Palestina yang mulai masuk di fakultas kedokteran pada usia 14 tahun dan lulus menjadi dokter pada usia 20 tahun, di Weil Cornell Medical Collage di Qatar.

Dia mendapat gelar sarjana kedokteran dengan nilai memuaskan (cumlaude), dan memecahkan rekor dunia Guinness World Records, sebagai dokter paling muda di dunia.

“Eqbal Asa’d adalah seorang wanita  jenius. Seorang gadis yang tamat SD pada usia 7 tahun, dan meraih gelar sarjana pada usia 12 tahun,” tulis media Haaren seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), (7/6/2013).

Hobinya sejak kecil adalah membaca dan membaca, begitu media mengungkapkan.

Ia, puteri dari seorang pengungsi Palestina dari Lembah Bekaa, Lebanon, bercita-cita membuka kilinik kesehatan di desanya.

Untuk mewujudkan tekadnya itu, dengan bea siswa Pemerintah Qatar, ia tengah bersiap melanjutkan studi masternya ke Ohio, AS, di bidang spesialis penyakit anak, dengan tetap berjilbab.

Jadi, berjilbab tetap dapat berprestasi di tingkat dunia internasional. Asalkan dia sungguh-sungguh, tekun dan memiliki tekad kuat untuk menggapai cita-citanya, seperti Kulsoom Abdullah,  Agung Etty Hendrawati, Ayesha Farook dan Eqbal Asa’d.

Tentu masih banyak lagi wanita berjilbab lainnya yang memiliki prestasi tidak kalah menariknya dengan beberapa contoh tersebut. Baik di bidang olahraga, akademik, pelajar berprestasi, dunia militer termasuk polisi wanita berjilbab, dsb. (L/R1/E1/mirajnews.com).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply