DORONG UPAYA REKONSILIASI, PEMIMPIN HAMAS-FATAH AKAN BERTEMU DI GAZA

Gaza City, 6 Rabi’ul Awwal 1435/8 Januari 2014 (MINA) – Abdullah Abu Samhadana, anggota Dewan Revolusioner Fatah, mengatakan pihaknya sedang melakukan kontak dengan Hamas untuk membahas berkas-berkas terkait dengan rekonsiliasi internal Palestina.

Abu Samhadana menyatakan, Selasa (7/1), kontak yang terjadi antara dua faksi besar Palestina itu menunjukkan bahwa pembicaraan rekonsiliasi terus bergulir, lapor Kantor Berita Al-Resalah sebagaimana diberitakan Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Abu Samhadana memperkirakan pertemuan para petinggi Hamas dan Fatah akan diadakan di Jalur Gaza. Kedua pemimpin dari dua gerakan itu akan membahas materi-materi dalam berkas rekonsiliasi.

“Kedua pihak, Hamas dan Fatah, sedang membahas hal penting berkaitan dengan berkas politik,” kata pejabat Fatah itu, menunjukkan bahwa upaya-upaya positif dalam hal rekonsiliasi akan terwujud yang diharapkan kedua fihak dalam waktu yang tak lama lagi.

“Kami akan memberikan semua atmosfer positif yang diperlukan untuk keberhasilan pertemuan rekonsiliasi mendatang,” tegas Abu Samhadana.

Akhiri Perpecahan

Upaya menuju rekonsiliasi juga diwujudkan pembicaraan melalui telepon antara Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyah dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, Senin (6/1) dalam upaya mempercepat pembicaraan rekonsiliasi kedua fihak.

Dalam pembicaraan telepon itu, Haniyah mengatakan kepada Abbas, juga pemimpin Fatah, ia ingin mengakhiri perpecahan dan siap untuk melakukan semua yang diperlukan dengan meningkatkan kepercayaan antara kedua belah pihak.

Ia menelepon hanya beberapa jam setelah mengumumkan keputusan untuk mengizinkan seluruh anggota Fatah yang meninggalkan Gaza tahun 2007, kembali ke Jalur Gaza, dan pembebasan anggota Fatah yang ditangkap karena alasan “keamanan”.

Haniyah juga mengizinkan anggota Parlemen Palestina di Tepi Barat untuk berkunjung ke Gaza.

Kantor Pemerintahan Palestina di Jalur Gaza mengatakan dalam sebuah pernyataan, Mahmoud Abbas sebagai pemimpin Fatah, menyambut baik keputusan yang diumumkan oleh Hamas itu untuk mendorong upaya rekonsiliasi.

Sumber-sumber di Ramallah mengatakan, upaya ini juga dimaksudkan memberikan sinyal kepada Amerika Serikat bahwa rekonsiliasi Fatah dengan Hamas tetap menjadi pilihan Otoritas Palestina jika negosiasi dengan Israel tidak menghasilkan apa yang diinginkan Palestina. Menteri Luar Negeri AS John Kerry baru saja mengakhiri misi empat harinya untuk menyusun kerangka bagi perundingan damai Palestina-Israel, tapi misi Kerry yang sudah kesepuluh kalinya ini masih belum berhasil menjembatani sikap-sikap mendasar kedua fihak. 

Perpecahan antara Fatah dan Hamas dimulai pada tahun 2006, saat Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina. Pada tahun berikutnya, bentrokan meletus antara dua faksi besar Palestina itu, Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengendalikan wilayah Tepi Barat.

Faksi-faksi Palestina telah berupaya mencapai rekonsiliasi nasional selama bertahun-tahun, tetapi selalu gagal. Barulah pada tahun 2012, kedua fihak mencapai persetujuan dengan menandatangani dua perjanjian -satu di Kairo, Mesir dan berikutnya di Doha, Qatar-.

Namun demikian, kedua perjanjian itu belum pernah sepenuhnya diimplementasikan sampai belakangan ini timbul keinginan kedua fihak untuk lebih serius mengusahakan persatuan nasional. (T/P02/IR)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Leave a Reply