EKSTRIMIS YAHUDI MINTA PEMERINTAH ISRAEL BUKA SEMUA GERBANG AL-AQSHA

Ekstrimis Yahudi dan wisatawan asing berbondong-bondong menuju Gerbang Magharibah, barat Masjid Al-Aqsha untuk menyerbu kiblat pertama umat Islam itu. (Foto Eksklusif: Al-Aqsa Foundation)

        Al-Quds (Yerusalem), 2 Rabbi’ul Awwal 1435/3 Januari 2013 (MINA) – Sebuah kelompok ekstrimis Yahudi telah mengirimkan surat kepada pemerintah Israel meminta pasukan penjajah mengizinkan orang-orang Yahudi Israel dan wisatawan asing memasuki Masjid Al-Aqsha melalui semua pintu gerbang masjid itu.

       Yayasan Al-Aqsha untuk Wakaf dan Warisan Islam mengungkapkan, Kamis (2/1), Kelompok ‘Temple Groups’ dan para aktivis esktrimis Yahudi diwakili Rabbi Likud Yehuda Glick mengirimkan surat mendesak kepada menteri pariwisata Israel, Uzi Landau, menekannya untuk membuka semua gerbang menuju masjid Al-Aqsha, tidak hanya Gerbang Al-Magharibah, barat Al-Aqsha.

       Menurut Yayasan Al-Aqsha sebagaimana dikutip media pemantau Timur Tengah Middle East Monitor (MEMO), surat itu menyatakan bahwa “membuka semua gerbang mengurangi tekanan pada gerbang Al-Magharibah, meningkatkan jumlah wisatawan asing yang masuk ke dalam ‘Masjid’, dan mempercepat pergerakan pemukim ilegal yang menyerang Masjid dari waktu ke waktu.”

         Yayasan Al-Aqsha mencatat, dalam surat itu, ekstremis Yahudi melampirkan foto-foto pemukim ilegal ekstrimis Yahudi dan wisatawan asing berdiri mengantri di depan Gerbang Al-Magharibah, Middle Esat Monitor (MEMO) melaporkan sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

         Mereka mengungkapkan kemarahan mereka karena umat Islam dapat masuk ke dalam masjid dari semua gerbang , tetapi orang-orang Yahudi dan wisatawan asing masuk hanya melalui satu pintu, yaitu Gerbang Al-Magharibah.

         Mereka menyatakan, antrian para wisatawan dari pintu Al-Magharibah hingga ke pinggiran gerbang Kota Silwan menghalangi jumlah lebih besar lagi bagi orang Yahudi untuk menyerbu masjid Al-Aqsha.

         Kelompok ekstrimis Yahudi itu juga telah mengirimkan surat yang sama kepada ketua parlemen Knesset Israel, kepala kepolisian dan menteri urusan agama Israel serta kepada ketua komisi dalam negeri di Knesset yang terkenal dengan sikapnya yang menyerukan kepada para wisatawan Yahudi untuk beribadah di dalam masjid Al-Aqsha. 

         Yayasan Al-Aqsha menyatakan, kelompok-kelompok Yahudi yang menyerukan pendirian kuil mereka klaim di atas reruntuhan Al-Aqsha, selalu berusaha menerapkan realita Yahudi meskipun terbatas di masjid Al-Aqsha, yaitu melalui penyerbuan-penyerbuan setiap hari dengan jumlah yang sedikit.

         Dalam sebuah pernyataan yang mencakup semua rincian tentang surat dan upaya Israel untuk Yahudisasi Masjid Al-Aqsha, Yayasan itu mengatakan, Kelompok ‘Temple Groups’ telah mencoba untuk memaksakan secara de-facto eksistensi Yahudi di dalam kiblat pertama umat Islam itu melalui invasi terus menerus mereka.

        “Seluruh area Masjid Al-Aqsha, termasuk Tembok Barat (Tembok Buraq) adalah milik umat Islam,” tegas Yayasan Al-Aqsha.

        Masjid Al-Aqsha dengan luas sekitar 144 ribu meter persegi, merupakan 1/6 dari seluruh luas area yang dikelilingi tembok kota tua Al-Quds, baik di atas dan di bawah area adalah milik umat Islam. Yahudi mengklaim secara sepihak kawasan Al-Aqsha sebagai sinagog mitos mereka (Temple Mount), tempat dua sinagog Yahudi terbesar di zaman kuno.

        Dalam mitos Yahudi dikatakan, juru selamat mereka tidak akan turun ke bumi sebelum sebuah sinagog Yahudi terbesar ketiga dibangun di atas lokasi Masjid Al-Aqsha. Namun dalam keyakinan umat Islam, Masjid Al-Aqsha merupakan tempat paling suci ketiga. Al-Aqsha merupakan tempat ibadah utama, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu’ Alaihi Wa Salam.

        Yayasan tersebut juga menegaskan, peyerbuan pemukim ilegal ekstrimis Yahudi berkelanjutan terhadap Masjid Al-Aqsha hanya mencoba untuk memaksakan eksistensi Yahudi di Masjid Al-Aqsha sesuai mimpi dan mitos mereka. (T/P02/E1)

Mi’raj Islamic sNews Agency (MINA)

Leave a Reply