HANIYAH TELPON ABBAS UNTUK PERCEPAT REKONSILIASI

Gaza City, 5 Rabi’ul Awwal 1435/7 Januari 2014 (MINA) – Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyah, melakukan kontak dengan menelepon Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, Senin (6/1) dalam upaya mempercepat pembicaraan rekonsiliasi kedua fihak.

Dalam pembicaraan telepon itu, Haniyah mengatakan kepada Abbas, ia ingin mengakhiri perpecahan dengan meningkatkan kepercayaan antara kedua belah pihak, lapor Kantor Berita Palestina, Ma’an yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Haniyah menyatakan, pemerintahnya siap untuk melakukan semua yang diperlukan guna mengakhiri perpecahan antara Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Ia menelepon hanya beberapa jam setelah mengumumkan keputusan untuk mengizinkan seluruh anggota Fatah yang meninggalkan Gaza tahun 2007, kembali ke Jalur Gaza, dan pembebasan anggota Fatah yang ditangkap karena alasan “keamanan”.

Haniyah juga mengizinkan anggota Parlemen Palestina di Tepi Barat untuk berkunjung ke Gaza.

Kantor Pemerintahan Palestina di Jalur Gaza mengatakan dalam sebuah pernyataan, Mahmoud Abbas sebagai pemimpin Fatah, menyambut baik keputusan yang diumumkan oleh Hamas itu untuk mendorong upaya rekonsiliasi.

Haniyah telah menyatakan tekadnya mewujudkan tahun 2014 menjadi tahun rekonsiliasi nasional Palestina.

Ia menyatakan, langkah-langkah yang dilakukannya adalah untuk menerobos masalah-masalah sensitif dari masalah utama Palestina. Ia ingin tahun ini akan menjadi tahun terwujudnya rekonsiliasi Hamas-Fatah. “Keputusan ini demi melaksanakan rekonsiliasi dan unifikasi,” tegas petinggi Hamas itu.

Taher Al-Nono, penasihat Haniyah, mengatakan para tahanan Fatah akan dibebaskan “dalam dua hari mendatang”.

Sumber-sumber di Ramallah mengatakan, upaya ini juga dimaksudkan memberikan sinyal kepada Amerika Serikat bahwa rekonsiliasi Fatah dengan Hamas tetap menjadi pilihan Otoritas Palestina jika negosiasi dengan Israel tidak menghasilkan apa yang diinginkan Palestina. Menteri Luar Negeri AS John Kerry baru saja mengakhiri misi empat harinya untuk menyusun kerangka bagi perundingan damai Palestina-Israel, tapi misi Kerry yang sudah kesepuluh kalinya ini masih belum berhasil menjembatani sikap-sikap mendasar kedua fihak. 

Perpecahan antara Fatah dan Hamas dimulai pada tahun 2006, saat Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina. Pada tahun berikutnya, bentrokan meletus antara dua faksi besar Palestina itu, Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengendalikan wilayah Tepi Barat.

Faksi-faksi Palestina telah berupaya mencapai rekonsiliasi nasional selama bertahun-tahun, tetapi selalu gagal. Barulah pada tahun 2012, kedua fihak mencapai persetujuan dengan menandatangani dua perjanjian -satu di Kairo, Mesir dan berikutnya di Doha, Qatar-.

Namun demikian, kedua perjanjian itu belum pernah sepenuhnya diimplementasikan sampai belakangan ini timbul keinginan kedua fihak untuk lebih serius mengusahakan persatuan nasional. (T/P02/IR)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Leave a Reply