ISRAEL SERBU RUMAH WARGA PALESTINA YANG BARU DIBEBASKAN

Al-Quds (Yerusalem), 20 Rabi’ul Awwal 1435/22 Januari 2014 (MINA) – Polisi Israel bersama petugas pengawas dari pemerintah kota Al-Quds menyerbu rumah warga Palestina yang baru dibebaskan, Samir Issawi di Al-Quds Timur.

Ayah Issawi mengatakan kepada Ma’an dikuitip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Rabu, sejumlah besar polisi dan petugas pengawas pemerintah kota Al-Quds masuk ke rumahnya dan mengambil foto dari dalam dan rumah rumah sebelum mereka pergi.

Dia menunjukkan bahwa rumah berlantai dua itu dibangun pada tahun 1998 dan keluarganya sebelumnya telah membayar denda 60.000 shekel ($ 17.200) karena dituduh membangun tanpa izin.

Keluarga Issawi, lanjutnya, telah berusaha selama bertahun-tahun untuk mendapatkan izin pembangunan.

Ayah Issawi menambahkan bahwa ia khawatir pemerintah kota Al-Quds yang dikontrol Israel akan menghancurkan bangunan dan menggusur 14 anggota keluarganya yang tinggal di sana.

Dia menambahkan bahwa sebuah apartemen milik keluarga itu dibongkar pada tahun 2013, sebelum selesai dibangun.

Israel jarang sekali memberikan izin mendirikan bangunan bagi rakyat Palestina di Tepi Barat, termasuk wilayah Al-Quds Timu dan  menghancurkan lebih dari 663 properti milik penduduk Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds Timur pada tahun 2013, menggusur sejumlah 1.101 orang, menurut UNOCHA .

Petugas intelijen Israel juga masuk ke rumah Issawi pada Senin lalu dan menyerahkan surat panggilan bagi Issawi memintanya melapor pada  intelijen Israel di Kompleks Rusia di Al-Quds Barat pada 27 Januari 2014 mendatang.

Issawi dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan di mana ia mengakhiri 266 hari mogok makan pada April 2013 lalu, dimana kasusnya menjadi pembicaraan internasional yang memfokuskan perhatian pada nasib ribuan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Issawi salah satu orang yang melakukan mogok makan terlama dalam sejarah, dan membawanya begitu dekat dengan kematian.

Ia awalnya ditahan oleh pasukan penjajah Israel selama Intifadah Kedua, namun kemudian termasuk di antara ratusan tahanan yang dibebaskan pada tahun 2011 sebagai bagian dari kesepakatan untuk membebaskan seorang tentara Israel Gilad Shalit.

Kesepakatan pembebasan membatasi dirinya harus berada di Al-Quds, tapi ia kembali ditangkap pada Juli 2012 setelah bepergian ke seIIbuah desa di Tepi Barat.(T/P02/EO2/mirajnews.com)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

 

Leave a Reply