KHUTBAH JUMAT : MENGHADAPI HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

Oleh : Ali Farkhan Tsani 

Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Indonesia, Alumni Mu’assasah Al-Quds Shana’a, Yaman 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 الحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَاف الْاَنْبِيِاء وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ أَشْهَدُ اَنْ لَااِلهَ اِلَّااللهُ.  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االداَّعِيْ إِلىَ الصِّراَطِ المُسْتَقِيْمِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَماَّ بَعْدُ. فَيَااَيُّهَا الْعَائِدُوْنَ وَالْفَائِزُوْنَ,أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطّانِ الرَّجِيْم بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Setelah khatib menyampaikan bacaan tahmid, syahadah, shalawat dan wasiat taqwallah. Marilah kita renungkan kembali firman-firman Allah yang termuat di dalam Surah Al-Hasyr ayat 18.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Hasyr [59] : 18).

Ayat ini dimulai dengan kalimat : يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا yang artinya : Hai orang-orang yang beriman.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, bahwa apabila sesuatu ayat dimulai dengan panggilan يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا berarti menunjukkan, bahwa ayat tersebut mengandung perihal yang begitu penting atau berupa suatu larangan yang berat. Di dalam Al-Quran terdapat lebih dari 80 ayat yang dimulai dengan seruan يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا.

Dalam Bahasa Arab dikatakan sebagai harfun nida’ حرف النداء (kata panggilan). Ia sama dengan kata “Ya”. Atau dalam Bahasa Indonesia, “Hai” atau “Wahai”. Dalam Al Qur’an banyak dijumpai penggunaan kata “Ya ayyuha”, seperti pada kata “Ya ayyuhan naas”, “Ya ayyuhal insan”, “Ya ayyuhan nabiy”, “Ya ayyuhal mudats-tsir”, “Ya ayyuhal muzzammil”, dan lainnya. Artinya sama, berupa panggilan kepada pihak-pihak tertentu. Biasanya, jika seseorang dipanggil, dia akan bersungguh-sungguh menyambut panggilan itu.

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, bahwa melalui ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berbicara kepada orang-orang yang beriman kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperhitungkan bahwa yang bersedia memikul perintah-Nya, yang sanggup meningalkan larangan-Nya, adalah orang-orang yang beriman kepada-Nya. Karena itu, orang yang merasa di dalam dirinya ada iman, tentu ia akan bersedia mengubah perilakunya, menahan gejolak nafsunya, demi menjalankan tuntutan Allah.

Memang di dalam Al-Qur’an sering digunakan perkataan, “يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا”. Di sini orang-orang beriman selalu disebut secara jama’ (kolektif). Tidak pernah sekali pun Al-Qur’an mengatakan, “Ya aiyuhal mukmin” (wahai seorang Mukmin). Atau tidak pernah dikatakan, “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang mengimani). Selalu dikatakan, “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman). Hal ini mengandung hikmah, bahwa agama Islam adalah agama kolektif, agama kebersamaan, bil-jama’ah, bukan agama individu, bukan agama egoisme, bukan agama ta’ashub golongan, dan bukan pula sektarian.

Karenanya, hadirin yang berbahagia,

Ummat Islam adalah umat kolektif, Ummatan Wahidatan (Ummat yang satu), bukan Ummat yang terpecah-belah, atau tersegmentasi menjadi berbagai golongan. Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan umat Islam pada hakikatnya adalah umat yang satu. Maka ada yang disebut dengan ukhuwwah Islamiyyah, tidak berpecah-belah dalam agama. Di antaranya : di dalam Surah Ali Imran 103, Asy-Syura : 13, Al-Mu’minun : 52-54, Ar-Ruum : 31-32, dsb.

Dalam hal ini, Allah menyeru orang-orang beriman agar senantiasa memelihara hubungan taqwa dengan Allah Sang Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta beserta seisinya. Karenanya pengakuan iman saja belumlah cukup sebelum dilengkapi dengan mempercepat hubungan taqwa dengan Allah, dengan penuh ke¬ikhlasan jiwa, tawakkal berserah diri sepenuhnya kepada kekuasan-Nya, ridha dan menerima segela ketentuan-Nya, selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya, serta shabar menerima segala ujian, mushibah, dan cobaan-Nya, menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, memberikan pertolongan kepada yang memerlukan, dan mudah memaafkan kesalahan saudaranya. Kesemuanya itu hanya didapat karena adanya takwa kepada Allah.

Adapun taqwa kepada Allah agar tetap tumbuh subur adalah dengan cara senantiasa melestarikan ibadah kepada Allah dengan rasa cinta seperti shalat berjama’ah, tadarus Al-Quran, memperbanyak istighfar, shalat tahajud, mengeluarkan shadaqah, menyantuni kaum fuqara dan dhu’afa, beramal jariyah, dan sebagainya. Demikian pula taqwa dapat tetap kokoh bersemanyam di dalam dada setiap mukminin adalah dengan memperbanyak dzikrullah, senantiasa mengingat bahwa hidup ini hanyalah semata-mata singgah saja. Hingga pada akhirnya persinggahan hidup di dunia ini akan ditutup dengan kematian. Kelak di akhirat amal kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Itulah sebabnya maka ayat di atas menegur kita dengan kalimat :

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.…”

Hari esok adalah hari akhirat. Hidup tidaklah akan disudahi hingga di dunia ini saja. Dunia hanyalah semata-mata masa untuk menanam benih. “Ad-dunya mazro’atul akhirah”, dunia adalah ladang amal berbuat baik untuk kampung akhirat.

Adapun hasilnya akan dipetik adalah di hari akhirat. Maka, beriman kepada hari akhirat menyebabkan rezeki yang Allah karuniakan di dunia memang telah Allah sediakan terlebih dahulu sebagai persediaan hari esok.

Kemudian pada ujung ayat 18 diakhiri dengan :

إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“…sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Oleh karena tidak ada di antara kita yang terlepas dari pengawasan Allah, tidak ada tindak kemaksiatan kita, kedzaliman kita, yang tidak diketahui–Nya. Menunjukkan kita agar selalu menyuburkan nilai taqwa kepada-Nya, selalu ingat akan pengawasan-Nya. Dengan taqwa itulah kita menjadi selalu dekat dengan Allah.

Hadirin yang mengharap ridha dan ampunan Allah,

Derajat taqwallah hanya dapat diperoleh dengan usaha nyata, kesungguhan, tidak mudah putus asa. Sama halnya dengan manusia berdagang, orang bekerja, atau pelajar sekolah. Mereka tidak akan mendapatkan untung jika tidak kerja keras, tidak akan mendapatkan bonus kalau tidak lembur, dan tidak akan memperoleh rangking terbaik kalau tidak belajar.

Pepatah Arab mengatakan “Man jadda wa jada”. (Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti dapat!).

Khusus dalam meraih iman dan ilmu, Allah akan mengangkat derajat mereka ke tempat yang mulia.

Sebagaimana firman-Nya :

يَرْفَعِ الله الّذِيْنَ امَنُوْا مِنْكُمْ وَالّذِيْنَ أوتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya : “….Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu….”. (QS Al-Mujadilah : 11).

Dalam sebuah kisah Ibrahim Al-Harbi diceritakan, Muhammad bin Abdurrahman Al-Auqash adalah seorang yang ‘mohon maaf’ pendek. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya berpesan, “Wahai anakku, aku perhatikan, setiap engkau berada di sebuah tempat pertemuan, engkau selalu ditertawakan dan direndahkan. Maka hendaklah engkau menuntut ilmu setinggi mungkin, karena ilmu akan mengangkat derajatmu”. Ternyata betul, ia mematuhi pesan ibunya. Sehingga suatu saat ia dipercaya menjadi Hakim Agung di Mekkah selama 20 tahun.

Pada jaman Nabi, suatu ketika sahabat Abdullah bin Mas’ud naik sebuah pohon, terlihat betisnya yang kecil. Lalu ada yang meledeknya. Mendengar itu, lalu Nabi memberikan nasihat, bahwa pada hari kiamat nanti, kedua betis Abdullah bin Mas’ud tersebut jauh lebih kokoh dan lebih berat timbangan amal kebaikannya melebihi besarnya dan kokohnya gunung, karena ilmu dan amalnya.

Dunia Barat, Eropa, hingga Amerika sebenarnya maju pesat dalam ilmu pengetahuan, keluar dari keterbelakangan, karena peran dan jasa-jasa para ilmuwan muslim. Sebut saja pakar kedokteran pertama adalah Ibnu Sina atau disebut Avesina, bukuna Al-Qanun fit Tiib dipakai di kedokteran-kedokteran terkemuka Eropa, ahli matematika Al-Jabbar, pakar astronomi dan fisika Al-Birruni, pakar sosiologi Ibnu Khaldun, pakar fisika-kimia Al-Kindi sang penemu dasar-dasar teori relativitas yang kemudian publish oleh Einsten, Al-Khawarizmi yang terori trigonomterinya dipakai di seluruh daratan Eropa pada abad 16 hingga kini, dll. Lalu, ada generasi berikutnya, Prof Abdus Salam peraih nobel, Prof Habibie salah seorang perancang pesawat terbang terkemuka yang kepakarannya diakui di seluruh dunia, dst.

Itulah, hadirin yang mulia,

Ilmu di tangan orang beriman, menjadi manfaat dan maslahat untuk kesejahteraan umat manusia dan alam sekitarnya. Sebaliknya, ilmu di tangan orang yang tidak beriman, maka ilmunya hanya untuk membuat kerusakan di daratan dan di lautan saja.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ (QS Ar-Ruum : 41).

Maka, marilah kita songsong hari akhir, kita menabung amal kebaikan, meningkatkan ilmu dan amal, gemar bershadaqah, dan berprestasi, menjadi generasi shalihin-shalihat yang lebih baik lagi. Amin yaa robbal ‘alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله  

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply