KONVOI BANTUAN KEMANUSIAAN ITALIA TIBA DI GAZA

         Gaza City, 2 Rbbi’ul Awwal 1435 / 3 Januari 2014 ( MINA ) – Delegasi kemanusiaan gabungan beberapa NGO (non Governmnet Organization) Italia tiba di Jalur Gaza Kamis malam (2/1) melalui perbatasan Rafah dan langsung menuju kamp-kamp pengungsi untuk memberikan batuannya.

         Delegasi itu terdiri atas 27 aktivis. Mereka menyumbangkan obat-obatan , pakaian dan alat-alat kesehatan lain. Para aktifis dijadwalkan akan bertemu sejumlah pejabat pemerintah Gaza,  Alray melaporkan seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency ( MINA ).

        Ketua delegasi,  Morinco Musolino berkata: “Kami tertarik berkunjung ke Gaza karena selama ini kami hanya mendengar isu konflik Israel-Gaza yang begitu tragis. Hari ini kami ingin membuktikan hal itu, melihat sendiri kondisi yang sesungguhnya di Gaza”.

        Selain Gaza, rombongan juga akan berkunjung ke beberapa kamp pengungsi di Lebanon , Suriah , Yordania dan tempat-tempat lain di Palestina.

       ” Hari ini  kami berhasil untuk memasuki Jalur Gaza setelah sepekan tertahan di Mesir. “Ini adalah perjuangan yang sangat berat dan kami berhasil memasuki Gaza,” tambahnya.

        Namun, Musolino menyatakan, perjuangan yang ia lakukan belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan dan penderitaan yang dialami warga Palestina, khususnya di Gaza, Tepi Barat dan wilayah-wilayah lainnya.

       “Kami saksikan sendiri, Gaza menjadi perjara terbesar di dunia bagi warganya. Mereka mengalami blokade sehingga mengalami krisis dari berbagai aspek, penindasan dan penganiayaan dan tidak bebas pergi kemanapun,” tambahnya.

         Sementara itu, Pasca pergantian pemerintahan di pemerintah Mesir, mereka belum sepenuhnya membuka pintu Rafah untuk warga Gaza. Mesir juga membatasi arus masuk bantuan kemanusiaan yang akan memasuki Gaza.

        Direktur Jenderal Administrasi Umum Perlintasan Perbatasan Palestina di Jalur Gaza, Maher Abu Sabha menyatakan pemerintah Mesir masih menutup gerbang perbatasan Rafah.

         Komunikasi pemerintah Palestina dengan pemerintah Mesir terus menerus dilakukan untuk membuka Rafah dan memungkinkan pasien dan wisatawan lain untuk melewati perbatasan.

         Sebelumnya, pihak Mesir telah membuka gerbang Rafah beberapa hari pada Desember 2013. Gerbang tersebut beroperasi dengan mengizinkan masuknya warga Palestina ke Mesir yang memerlukan bantuan kemanusiaan.

        Abu Sabha melaporkan, 362 orang berhasil menyeberang ke Mesir, sementara 25 orang diminta pemerintah Mesir untuk kembali tanpa memberikan alasan yang jelas.

       Sejak militer menggulingkan Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas dan sah, militer Mesir telah memperketat kontrol atas perbatasan dengan Jalur Gaza.

        Pada pekan terakhir, pemerintah Mesir telah berulang kali menutup atau membuka sebagian perbatasan Rafah, satu-satunya cara sekitar 1,8 juta penduduk  Gaza dapat memasuki dunia luar setelah tujuh tahun embargo penjajah Israel terhadap daerah kantong Palestina itu.

       Kebijakan tersebut telah menjadikan ribuan orang yang akan keluar dan masuk Jalur Gaza-Mesir terlantar di perbatasan kedua negara itu (Palestina-Mesir).

      Pihak militer Mesir juga telah meluncurkan kampanye untuk menghancurkan jaringan terowongan yang menghubungkan Jalur Gaza ke Mesir yang telah menyebabkan kekurangan bahan bakar dan kebutuhan pokok yang selama ini dipasok melalui terowongan tersebut.

      Jalur Gaza telah hidup dalam kegelapan paling parah sejak berhentinya pembangkit listrik Gaza pada awal Juli 2013 dengan hanya enam jam menyala dan 12 jam berhenti dari jadual biasanya.

       Berhentinya pembangkit listrik di Jalur Gaza akibat keputusan pemerintah Palestina di Ramallah yang memungut pajak atas pengiriman bahan bakar yang dibeli dari Israel untuk menjalankan satu-satunya pembangkit listrik yang mencakup sepertiga dari kebutuhan listrik Jalur Gaza. (T/ P04/E1)

Mi’raj Islamic News Agency ( MINA )

 

Leave a Reply