LANJUTKAN NEGOSIASI DAMAI, ABBAS TEGASKAN AL-QUDS IBUKOTA PALESTINA MERDEKA

Presiden Palestima Mahmoud Abbas (kanan) tengah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry di Ramallah, Palestina, Sabtu (4/1). (Foto: www.zeit.de)

Ramallah, 3 Rabi’ul Awwal 1435/5 Januari 2014 (MINA) – Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam diskusi lanjutan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry, menegaskan sikapnya, Palestina merdeka harus dengan Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibukota dan perbatasan harus dikembalikan pada perbatasan tahun 1967.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh, Sabtu (4/1) malam waktu setempat setelah pertemuan Abbas dengan Kerry, seperti yang ditulis WAFA dan Middleast Monitor yang dikutip oleh Mi;;raj News Agency (MINA).

Dalam pembicaraan itu, Abbas juga menegaskan, tidak akan menerima solusi negara sebagian atau transisi, dan tidak akan pernah menerima posisi untuk melegalkan permukiman ilegal Israel.

Abbas  dengan tegas menyatakan pula, semua tahanan Palestina yang kini masih berada di penjara-penjara Israel, harus dibebaskan.

Kerry tiba di Ramallah, Jumat (3/1) dan mengadakan tiga jam pembicaraan dengan Abbas untuk membahas bagaimana mendorong maju proses perdamaian Israel-Palestina.

Sebelumnya, Kerry mengunjungi Tel Aviv, wilayah Palestina yang dijajah Israel sejak 1948, untuk  mengadakan dua putaran pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan satu putaran dengan Menteri Luar Negeri  Israel Avigdor Lieberman. Dia juga bertemu dengan para pejabat Israel lainnya.

Kerry mengatakan setelah pertemuan di Tel Aviv dalam kunujungan kesepuluh kalinya ke wilayah tersebut, beberapa kemajuan telah dihasilkan, tetapi lebih banyak  yang masih harus dilakukan untuk mencari solusi damai Palestina-Israel.

Dia mengatakan, tujuan missinya adalah dapat menyusun kerangka kesepakatan dua fihak yang diharapkan akan dapat jadi panduan kedua belah pihak dalam perundingan-perundingan perdamaian. AS berharap, diskusi-diskusi yang dimediasinya  akan dapat mencapai kesepakatan selambat-lambatnya  pada 29 April 2014 mendatang, sesuai tenggat waktu yang ditetapkan negara itu

Dengan nuansa optimistis, Kerry mengatakan, setelah lima bulan putaran diskusi yang intens dan produktif, akan segera tiba saatnya, di mana para pemimpin kedua pihak harus membuat keputusan yang sulit untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina dan memilih perdamaian.  (T/P02/IR)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply